oleh

COVID-19 DAN WACANA TAUHID GLOBAL

Oleh Johansyah*

 

Cita-cita mewujudkan satu misi kemanusiaan dengan tidak memandang keturunan, warna kulit, strata, maupun agama dalam sejarah pergumulan kemanusiaan nyaris tidak pernah terwujud. Justru drama konflik demi konflik antar suku, golongan, bahkan antar negara terus menerus berlangsung. Problematika utamanya tidak lain adalah perebutan  kekuasaan, baik terkait agama, ekonomi, ideologi, batas wilayah negara dan persoalan serupa lainnya.

Dalam rekam jejak sejarah kita akan menelusuri dan menemukan banyak peperangan. Minsalkan saja perang dunia I (1914-1918) maupun perang dunia II (1939-1945). Kita juga masih menyaksikan konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel yang berebut wilayah perbatasan (sejak 1948 sampai sekarang). Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia kita juga dapat membentang kisah peperangan di berbagai wilayah nusantara.

Begitu pula kiranya manakal berbicara Aceh yang terjebak dalam konflik bertahun-tahun lamanya antara Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintah Republik Indonesia (1976-2005). Tentu masih banyak lagi konflik lain yang tidak dapat disebutkan satu per satu dan terlalu banyak konflik kemanusiaan yang tidak atau belum kita ketahui. Faktanya memang ketika kembali pada sejarah awal manusia itu sendiri, kita sudah disuguhkan dengan cerita konflik antara Qabil dan Habil. Lagi pula tidak usah jauh, diri kita pun selalu berkonflik batin dalam menyikapi sebuah permasalahan.

Spirit kebersamaan mulai terlihat

Saat ini ketika kita dihadapkan pada satu musibah global berupa wabah virus Corona (vicor), spirit kebersamaan itu mulai terlihat. Awalnya mungkin kita anggap remeh dengan virus ini. Bahkan banyak yang menduga kalau wabah ini hanya menimpa China saja yang merupakan wilayah pertama terjangkit virus ini. Namun apa yang terjadi? Dalam waktu yang relatif singkat virus ini telah menyebar ke berbagai penjuru dunia, termasuk Indonesia. Sekarang virus ini semakin dekat dengan kita. Masing-masing orang diteror oleh kekhawatiran sendiri atau ditimpa ketakutan, saling curiga, takut dekat, dan masing-masing beruapaya keras menjaga diri dan keluarga agar terhindar dari virus ganas ini.

Sebagai ilustrasi, dulu di kampung saya ada tim bola kaki yang ikut kompetisi di tingkat kecamatan. Maka sebagai suporter saya dukung habis-habisan tim ini dan menjadi juara. Tim ini pun menjadi delegasi kecamatan. Selanjutnya dukungan saya bukan lagi atas nama kampung, tapi kecamatan meski pun sebagian pemainnya diambil dari tim lain. Sekiranya tim ini kalah di tingkat kabupaten dan ada tim lain yang mewakili kabupaten, tentu saat berlaga dengan tim kabupaten lain, kita mendukung tim yang mewakili kabupaten kita, walaupun pemainnya tidak berasal dari kecamatan kita. Begitu seterusnya. Terakhir ketika tim nasional (timnas) berkompetisi di tingkat asia maupun dunia, tentu yang kita dukung adalah tim garuda sebagai salah satu wujud nasionalisme.

Di bola atau di pertandingan lain, sikap kita masih seperti orang atau kelompok yang menghadapi konflik. Di mana ada kelompok yang didukung dan ada kelompok yang diposisikan sebagai lawan. Sebagai pendukung, kita pasti menginginkan bahwa pihak atau tim kitalah yang menang.

Berbeda dengan menghadapi wabah Corona, di mana musuh kita bukan manusia, tetapi virus. Di saat yang sama manusia sejagad menghadapi ancaman sama, yakni serangan virus yang sangat mematikan. Karena seluruh manusia menghadapi ancaman sama, maka mereka bersatu dengan cita-cita dan harapan yang sama dengan semboyan ‘mari bersama kita lawan Corona’.

Negara besar untuk sementara berhenti mengotak-atik negara-negara berkembang. Konflik antar umat beragama agama pun sedikit mereda. Demikian halnya dengan negara-neraga yang berambisi menguasai ekonomi global, untuk sementara memusatkan perhatian pada upaya penyelamatan penduduk bumi dari kepunahan massal.

Tauhid global, bisa jadi kenyataan. Tapi mungkin kesamaan sikap ini tidak bertahan lama. Andai wabah ini sudah reda-mudah-mudahan, mungkin Negara-negara besar akan kembali melancarkan missi mereka lagi untuk menindas dan menekan negara lain yang lemah dan berkembang dengan berbagai cara yang halus dan rapi sebagai wujud strategi imprealisme modern. Konflik antar umat beragama juga akan kembali muncul. Demikian pula pertarungan ideologi antar kelompok dan negara akan merebak kembali. Begitu seterusnya.

Ketika berbicara konflik kemanusiaan, sebagian orang mungkin akan teringat pada nota keberatan yang diajukan oleh malaikat kepada Allah saat menciptakan manusia. Sebagaimana dilukiskan dalam al-Qur’an: ‘Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi’. Mereka berkata: ‘Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau? ‘Tuhan berfirman: ‘Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui’ (QS. Al-Baqarah: 30).

Menuju filantropi

Tentu diyakini bahwa tujuan utama manusia diciptakan bukan untuk berkonflik melainkan untuk mengabdi dengan sepenuh hati. Dalam ayat lain ditegaskan: ‘aku tidak menciptakan jin dan manusia, kecuali untuk mengabdikan diri kepada-Ku’ (QS. adz-Dzariyat: 56). Maka jelas bahwa salah satu wujud implementasi pengabdian itu adalah membangun dan mewujudkan filantropi (kebersamaan, kasih sayang), bukan perpecahan dan konflik.

Mengapa pula tujuan Allah menciptakan manusia laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa? (QS. al-Hujurat: 13), agar mereka ta’arafu (saling mengenal). Makna saling mengenal di sini merupakan makna mendalam, di mana manusia harus saling berusaha memahami perbedaan dan keberagaman lalu mencari persamaan-persamaan yang dapat menciptakan sikap saling menghormati, menghargai, simpati, empati, hingga mereka saling menyayangi.

Menuju tauhid global bukan utopia karena itu adalah salah satu tujuan Allah menciptakan manusia. Tauhid global di sini tentu bukan dimaknai sebagai kesatuan keyakinan seluruh penduduk bumi, melainkan wujud fitrah kemanusiaan kita dalam merangkai dan merajut kesatuan, kebersamaan, dan cinta sesama. Antara satu kelompok menghargai kelompok lain. Negara besar membantu negara kecil, bukan memanfaatkannya. Antar pemeluk agama menghormati pemeluk agama lain, atau antar madzhab keagamaan tasamuh (toleran) dalam menyikapi perbedaan. Kita disatukan dengan semangat kemanusiaan di tengah keberagaman dan perbedaan.

Tentunya tauhid global hanya akan terwujud jika manusia penduduk bumi mau menyingkirkan kebencian, sentimen, hasad, antara mereka. Sifat yang harus dibangun adalah karakter utama ilahiyah, yakni kasih sayang antar sesama. Manusia harus mampu membangun dan mewujudkan filontropi di atas keberagaman dan perbedaan dari berbagai aspeknya. Mungkin, saat ini Allah Sang Murabby lagi memberikan pelajaran kepada manusia melalui penyebaran wabah corona agar mereka saling berta’aruf, saling menolong, memiliki tujuan yang sama, dan saling menyayangi. Wallahu a’alm!

 

*Johansyah, Pemerhati Pendidikan, Sosial dan Keagamaan. Email; johan.arka@yahoo.co.id

 

News Feed