oleh

‘CIPIT’ MEMANDANG COVID

 

Oleh Johansyah*

Masyarakat bumi masih tersandera oleh pandemi Covid-19. Kita tidak dapat pastikan kapan berakhirnya. Berdo’a saja, semoga ada keajaiban dari Tuhan. Yakini bahwa virus itu adalah bagian dari ujian kemanusiaan yang Insya Allah mampu dilewati. Siapa yang tidak khawatir dan takut menghadapinya? Maka satu-satunya sikap cerdas sebagai manusia beragama tentu kita hanya mampu pasrah dan berserah diri kepada Tuhan di samping usaha yang ditempuh dengan maksimal.

Di sisi lain, situasi ini patutlah ditelisik dengan seksama, terutama tentang sikap dan cara pandang kita terhadap pandemi corona ini. Pertanyaan mendasarnya, apakah kita dalam kondisi sangat siap, siap, kurang siap, atau tidak siap sama sekali. Bahkan mungkin kita seperti  ‘cipit’ mata (terkesan remeh) memandang virus ini? Mari kita lihat beberapa fakta dan fenomena untuk menemukan jawabannya.

Pertama, sejak muncul dan berjangkitnya virus ini pertama sekali di Wuhan, China, banyak yang berargumen bahwa ini adalah hukuman yang diturunkan oleh Allah kepada orang China yang telah melakukan penindasan terhadap muslim Uighur. Banyak yang berceloteh di medsos ‘rasain karena kalian sudah berbuat zhalim’, kira-kira begitu. Secara psikologis sebagai muslim, terutama di Indonesia kita merasa aman, nyaman dan yakin bahwa virus ini tidak akan sampai ke Indonesia.

Dengan tidak bermaksud merendahkan, kita juga melihat sikap pemerintah yang ‘over’ optimis beberapa waktu lalu. Menteri kesehatan, Terawan Agus di akhir februari lalu dengan gagah menyatakan bahwa ‘Indonesia aman dari virus corona, kenyataannya memang begitu’, katanya (Kumparan.com 28/02/20). Apa yang terjadi kemudian? Kita dikejutkan dengan adanya dua WNI yang positif corona pada awal maretnya. Mereka adalah warga Depok, Jawa Barat yang menurut informasi sempat kontak dengan warga negara Jepang. Orang ini baru diketahui positif corona setelah meninggalkan Indonesia dan tiba di Malaysia (Kompas.com 03/03/20).

Dari situ, satu persatu kasus penyebaran virus ini terus maraton hingga akhirnya lari kencang. Kini Indonesia menjadi negara terjangkit virus dengan persentase angka kematian tertinggi di dunia. Menurut catatan media, hingga 06 april kemarin, kasus kematian akibat virus corona di Indonesia mencapai 209 orang. Rasio kematiannya atau case fatality race (CFR) di Indonesia mencapai 8,39 persen (Tirto.ID 06/04/20). Kekhawatiran pun terus bertambah ketika penyebarannya terus meluas dari satu provinsi ke provinsi lain, walaupun Jakarta yang menjadi episentrum utamanya.

Kedua, Di sela situasi genting ini, saya melihat intensitas politik terselubung juga terus meningkat. Adanya upaya menyerang tokoh-tokoh dan kelompok tertentu oleh kelompok lain. Pemerintah pusat dan daerah juga terkesan pecah kongsi dalam merumuskan dan mengeluarkan kebijakan sehingga di media sosial muncul semacam upaya membanding-bandingkan antara kinerja pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Situasi seperti ini sebenarnya sangat merugikan negeri ini di tengah mengganasnya virus corona. Ternyata virus ini belum mampu menyadarkan semua orang akan pentingnya kebersamaan dan cinta kasih dalam menghadapi situasi berat ini.

Tegasnya, ini bukanlah situasi yang tepat untuk berpolitik, di mana yang dianggap lawan politik berusaha dijelek-jelekkan dengan berbagai cara, pencitraan, dan lain sebagainya. Sekarang yang kita butuhkan adalah berkerja sama dan sama-sama bekerja. Gudangkan dulu baju partai, turunkan benderanya untuk sementara, kita tanggalkan simbol-simbol organisasi dan kelompok, untuk kemudian menggantinya dengan baju seragam, menyamakan visi dan langkah, dan menghadapi secara bersama virus yang sangat mematikan ini.

Mengkritisi boleh saja, tapi kiranya sertai dengan tawaran solusi. Silakan juga mengatakan bahwa pekerjaan seseorang kepala daerah atau siapa saja lemah dan tidak efektif, tapi tunjukkan bagaimana yang caranya yang baik dan efektifnya. Kritik atau mengatakan orang tidak becus pekerjaan orang sangatlah naif jika kita sendiri hanya mampu menampilkan konsep dan teori, sementara tidak pernah turun langsung berpartisipasi dan berkontribusi. Pertanyaan sederhananya; apa yang sudah kita sumbangkan untuk mengatasi pandemi covid ini? Jangan-jangan kita hanya kaya teori, tapi nol aksi.

Ketiga, di tengah merebaknya wabah ini, kita juga doyan debat masalah agama. Perdebatan-perdebatan yang tidak lain merupakan al-takrar (pengulangan) dari debat-debat sebelumnya seputar ilmu kalam dan fiqih. Minsalnya pertanyaan tentang hukum memakai masker saat shalat, shalat jum’at di rumah, shalat lebih baik di rumah, dan permasalahan serupa. Berapa energi yang dihabiskan untuk membahas itu-itu saja? Padahal disiplin ilmu yang perlu dikaji dan dalami saat situasi ini sejatinya adalah ilmu kesehatan dan ilmu ekonomi. Fiqih dan kalam bukan tidak perlu, tapi kajilah sekedarnya saja. Jangan sampai antara satu kelompok dengan kelompok lain terus berdebat hanya mempertahankan dan mengklaim pendapatnyalah yang paing benar. Ujung-ujungnya nanti bertengkar.

Langkah terbaik yang dilakukan saat ini adalah mengkaji virus dan cara penyebarannya dengan menggunakan referensi-referensi yang memadai sebagai upaya pencegahan. Sekarang ini diakui banyak sumber informasi yang dapat diperoleh dari beragam media sosial. Tapi banyak orang yang tidak paham mana informasi yang valid dan akurat, serta layak dijadikan referensi kesehatan. Selain itu, banyak juga informasi yang menyesatkan dan terkesan menambah panik masyarakat. Wawasan-wawasan seputar inilah yang sejatinya dikembangkan ke masyarakat dalam situasi seperti ini, bukan mujadalah (perdebatan) yang menghabiskan energi.

Patut disorot pula ketika Menhan Probowo Subianto memerintahkan TNI untuk mengambil peralatan kesehatan ke China beberapa waktu lalu. Ditambah lagi dengan pernyataan Presiden Jokowi yang membeli 2 juta obat avigan yang katanya efektif mengatasi corona dan sudah digunakan di beberapa negara. Dalam benak saya, begitu lemahnya kemampuan keilmuan kita di bidang kesehatan. Kita belum memiliki dana kesehatan yang cukup, dan belum mempunyai laboratorium penelitian kesehatan yang mumpuni sehingga ketika ditimpa wabah seperti ini kita benar-benar tidak siap, harus bergantung pada negara lain.

Terakhir, negara kita ini kaya hutang, maka ekonomi kita sangat rapuh. Di situasi seperti ini, masyarakat mimpi bisa mendapat sokongan penuh dari pemerintah. Untuk penanganan dan penanggulangan darurat pandemi Covid-19, kini pemerintah terpaksa memangkas anggaran-anggaran kegiatan yang ada di pusat, provinsi, dan daerah karena negara tidak memiliki anggaran memadai dalam penanggulangan bencana.

Inilah beberapa gambaran tentang sikap kita dalam menghadapi wabah global di negeri ini. Pandangan kita terlalu ‘cipit’ dan sempit. Kita masih bersikap remeh dan terlalu dominan melihatnya dari satu perspektif. Di sisi lain, dalam situasi genting seperti ini pun entah mengapa masih banyak yang berpolitik. Selanjutnya, kembali pada filosofi iqra’, bahwa kita juga belum serius dalam mengembangkan ilmu kesehatan sehingga minim pengetahuan, tidak mampu memprediksi, dan akhirnya tidak mungkin mampu mengantisipasi kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi seperti saat ini. Wallahu a’lam bishawab.

 

*Johansyah, Pemerhati Sosial-Keagamaan. Email: johan.arka@yahoo.co.id

 

 

News Feed