oleh

Cerdik Memaknai Perang Atau Kencing di Celana

Fauzan Azima.

Oleh : Fauzan Azima

Do’a sehari-hari yang selalu kita panjatkan; Ya Tuhan Kami, berilah kami kebahagiaan dunia dan kebahagiaan akhirat dan jauhkanlah kami dari siksa api neraka. Narasi do’a sapu jagat itu bertujuan mencapai kebahagiaan yang diartikan sebagai suatu kegembiraan, kecukupan, kesenangan, cinta, kepuasan dan kenikmatan yang abadi.

Sebaliknya peperangan tidak pernah akan melahirkan kebahagiaan. Kerugian akibat perang sangat mengerikan, baik fisik maupun psikologis.Dalam perang tidak ada istilah menang, Pihak yang menang maupun yang kalah, sama-sama akan menyaksikan anak-anak menjadi yatim, perempuan menjadi janda, lahirnya generasi yang bodoh, rakyat menjadi miskin dan trauma yang berkepanjangan.

Sebagai keturunan manusia berakal budi pertama, Nabi Adam AS, maka gunakan akal fikiran untuk menghindari perang fisik. Firman Allah dalam Al-Qur’an banyak ayat tentang perintah berfikir. Bahkan Ayat yang pertama turun “Iqro’” bukan sekedar bermakna “baca” tetapi lebih dalam  “putar otak”. Mengandalkan peperangan dalam hidup sama menafikan akal fikiran. Prilaku tersebut yang dikhawatir oleh Malaikat ketika Allah SWT hendak menciptakan Nabi Adam AS sebagai khalifah di muka bumi.

“Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah. Padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan engkau” tanya Malaikat.

“Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui” jawab Allah dalam Surat Al-Baqaroh ayat 30.

Sebagai Bangsa Aceh, sebuah kekeliruan ada yang  menyimpulkan bahwa Bangsa Aceh, bangsa yang suka berperang. Tidak ada satu faktapun yang menyatakan Aceh memulai peperangan terhadap bangsa lain. Kebenarannya, Bangsa Aceh adalah bangsa yang gigih mempertahankan hak atas agama, nasab, harga diri, keluarga dan hartanya.

Kesibukannya mengamankan prinsif tersebut yang membuat Bangsa Aceh tidak suka banyak bicara, tidak berada di kantor dan tidak ada waktu mengatur begini begitu. Seperti uangkapan, “Ureung Aceh jak muprang, ureung Padang peugah haba, ureung Batak duk di kanto, ureung Jawa yang meuhato.”

Salah satu  sifat Nabi Muhammad SAW, yaitu Fathonah (bahasa Arab), politik (bahasa Inggris) dan cerdik (bahasa Melayu). Menghindari perang fisik dengan cerdik bukan berarti  pengecut. Bahkan Nabi Muhammad SAW menganggap perang fisik adalah perang kecil.

Pada saat perang Khandak berakhir, Nabi Muhammad SAW mengatakan, “Kita telah telah kembali dari perang yang kecil, menuju perang yang besar.” Mendengar pernyataan Rasulullah itu, para sahabat bertanya dengan heran,”Masih adakah perang yang lebih besar setelah ini?” Rasulullah menjawab, “Masih, yakni perang melawan hawa nafsu.”

Perang bukan bermakna tunggal, seperti yang difahami Dr. Abdullah Yusuf  Azzam sebagai qital atau perang fisik yang banyak mengilhami perang di Timur Tengah. Hal yang sama juga terjadi pada dunia barat, fikiran Friedrich Nietzsche (1844-1900) digunakan sebagai pembenaran perbuatan kejam, perang total, diskriminasi dan penaklukan, seperti yang dilakukan oleh Nazi di Jerman dan Partai fasis di Italia.

Memaknakan perang dengan qital dan menghalalkan invasi serta menumbuhkembangkan diskriminasi bertentangan dengan sifat Kasih dan Sayang Allah SWT, seperti yang terangkai dalam kalimat Bismillahirrahmanirrahiim. Pemaknaan yang sempit dan fanatik buta itu sama dengan pengakuan ilmu Allah hanya semangkok tinta. Sedangkan andai lautan  dan ditambah satu lautan lagi sebagai tinta untuk menulis ilmu Allah tidak akan cukup.Sungguh tiada bandingan luas dan dalam ilmunya Allahu Akbar.

Penyakit sikap fanatik dan kesombonganlah atau menolak kebenaran dari orang lain. Kebenaran hanya lahir dari kalangan sendiri, sehingga memaknakan sesuatu dengan sempit. Sikap tersebut dipatahkan Nabi Muhammad SAW melalui Sabdanya “Uthlubul ilma walau bissiin” atau “Tuntutlah ilmu sampai ke Negeri China” suatu pandangan yang menembus ruang dan waktu. Faktanya hari ini, China adalah satu negara yang modern dengan superioritas teknologi dan industri.

Banyak hal yang mengharuskan kita harus belajar kepada China, meskipun kita menganggap mereka bukan golongan Islam. Misalnya Falsafah Perang Sun Tzu yang merupakan teori perang, bagaimana memenangkan pertempuran tidak harus dengan berperang. Pada masa kini teori tersebut mereka modifikasi untuk bisnis.  Pelajaran lain adalah penghormatan kepada nenek moyang yang menjadi roh semangat mereka dalam mengejar dunia. Mereka merawat tradisi tersebut sebagai sumber kekuatan bagi mereka.

Dalam keadaan darurat “harampun” bisa menjadi “halal” termasuk boleh menipu. Teuku Umar Johan Pahlawan menjalankan taktik menyerah untuk mendapatkan persenjataan. Tipu Aceh ala Teuku Umar tersebut semata-mata dalam rangka mengelabui musuh dengan cara tidak normal. Soal strategi dalam memenangkan kekuasaan dibenarkan bersikap sedikit licik. Batapa Ali Bin Abi Thalib ra kalah akibat liciknya permainan kelompok Muawiyah ra. Tetapi kita tidak perlu saling menyalahkan di antara mereka. Mengingat keduanya adalah sahabat Rasulullah yang dijamin masuk surga.

Menjajaki setiap kemungkinan menang perang tanpa harus bertempur merupakan suatu keharusan. Berguru kepada sejarah, Meurah Johansyah sebagai Sultan Kerajaan Islam Darussalam menaklukan Laksamana Angkatan Laut China, Nian Nio Lingkhe dengan menikahinya. Betapa banyaknya orang Indonesia berparas ganteng, pinter, kaya, berpengaruh dikirim untuk menikahi anak-anak perempuan raja, presiden dan bangsawan negara kuat, seperti China, Amerika, Erofah, Rusia, Jepang yang bertujuan membangun silaturrahmi dan menghindari perang serta sedikit banyak bisa melobi negara tersebut untuk tujuan investasi, memberikan dana hibah dan lain sebagainya.

Dalam kasus Pulau Natuna, Pimpinan Indonesia bisa memanfaatkan lobi “ Nine  Dragon” yang merupakan Taipan, yang selama ini banyak mendapat fasilitas dari negara, juga para “Liong” yang mendapat porsi besar dalam proyek APBN tentu sangat bisa melobi Pemerintah China untuk merelakan undur diri dengan hormat dari Pulau Natuna.

Kalau orang yang tidak pernah mengalami perang bersenjata, sah-sah saja bicara, “Berikan senjata, kami siap berperang dengan China.” Boleh saja, hanya  dikhawatirkan begitu melihat bendera China berkibar lututnya gemetar, tidak sadarkan diri, lari terbirit-birit, lalu kencing di celana.

(Mendale, 7 Januari 2020)

 

News Feed