oleh

Catatan Untuk Dewan Kesenian Lampung Harus Lebih Kreatif & Inovatif

-HEADLINE, OPINI-737 views

BARANEWSACEH.CO – Jika ada seloroh Dewan Kesenian Lampung harus kreatif, memang kenotasinya DKL tidak kreatif, karenanya perlu didorong atau didukung agar bisa lebih kreatif dari apa yang bisa dibuatnya sampai sekarang ini.

Pagelaran kesenian oleh DKL dalam bentuk Panggung Sastra Lampung 2019 pada 15 Juni 2019 idealnys bisa diukur dari tingkat keterlibatan rakyat bukan cuma dilakukan oleh kalangan seniman, budayawan atau sastrawan belaka. Karena pagelaran kesenian dalam bentuk apapun dapat dikatakan berhasil ketika mampu menyerap keterlibatan warga masyarakat sekitarnya. Bahkan lebih ideal lagi dapat ikut menggaet warga masyarakat dari daerah lain untuk ambil bagian.

Pagelaran kesenian apapun bentuknya harus mecerminkan sikap budaya masyarakat setempat. Parade sastra misalnya bisa saja ditimpali oleh seni rodat dari daerah Lampung Timur yang unik dan menarik itu. Kecuaki seni rodat itu sedang terancam punah, nilau sastra bertuturnya pun sungguh indah dan memiliki muatan filsafat yang tinggi nilainya.

Peluncuran buku Negeri Para Penyair seperti yang diakui
Z Karzi dari Komite Sastra DKL yaitu Antologi Puisi Mutakhir Lampung dan Negeri yang Terapung. Ada juga katanta Antologi Cerpen Lampung.

Masalahnya kreteria Lampung yang selalu disertakan dalam beragam even itu jangan cuma kessingnya doang yang dipamerkan. Karena yang lebih penting adalah ruh dan nilai filosifisnya yang mampu menggetarkan kekaguman banyak orang.

Atad dasar kedua buku terbitan DKL, 2018 yang sudah memuat 47 karya penyair dan 17 karya penulis cerita pendek ini sudah saatnya untuk dibuatkan semacam pagelaran keliling, sehingga tidak hanya merasa besar kepala di kampung sendiri.

Pada saatnya pun DKL patut mengundang semua putra daerah yang ada di rantau untuk ambil bagian dalam even pesta seni dan budaya masyarakat Lampung.

Acara baca puisi dan diskusi sastra bukan tak baik, tetapi masih sangat model dan bentuk acara yang bisa nendongkrak even seni atau sastra bahkan budaya agar tidak membisankan atau masih terkesan tidak merakyat. Karena seni dan budaya itu adalah tanda ruh rakyat yang hudup, tak cums sekedar tidak mati.

Saya tidak tahu apa peranannya Minak Isbedi dan Om Naim Emel Prahana serta seniman, sastrawan serta budayawan serta tokoh adat Lampung dari senua kebuaian sering diminta saran dan pemikirannya ?

Apakah sungguh peran serta serta sumbangan pemikiran mereka sudah diadop guna mencari bentuk dan upaya pengembangan kesenian dan kebudayaan di Lampung agar bisa menjadi bagian perhatian serta daya tarik masyarakat dunia.

Harapan dari Ketua Harian DKL Heri Sulianto agar Panggung Sastra Lampung ini bisa menjadi oase di tengah panasnya suhu perpolitikan, agaknya tidaklah pas, sebab suhu Pemilu mungkin sudah mereda karena jarak waktunya relatif jauh dari pengumuman final pemenang dilakukan. Atau mungkin justru sebaliknya, semua sudah terlanjur jadi arang.

Seni sastra itu memang lembut dan bisa melunakkan hati. Tapi juga bisa membakar suasana atau semangat juang. Meski pada akhirnya kalah, toh sejarah tidak boleh pernah mencatat kita pernah menyerah. Itu kata Tjut Nya’ Dhien kepada para pasukannya dan pengawalnya ketika sesaat hendak ditangkap Belanda.

Idealnya benar semangat dan gairah perlawanan budaya serupa itulah yang layak tumbuh dan berkembang pada seniman, sastrawan dan budayawan Lampung pada hari ini.

Sebagai salah satu putra daerah yang sudah lama dirantau, wajar bila rasa kangen terus merebak liar ingin menyaksikan sekali tempo kampung kita bisa menjadi tajuk bincang yang menarik, unik dan mengagumkan bagi banyak orang. Tidak hanya untuk diriku sendirim

Oke ya, salam untuk semua.*

Banten, 20 Mei 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed