oleh

Cara Menghadapi Fase Quaeter Life Crisis Pada Mahasiswa Tingkat Akhir Dengan Meningkatkan Efikasi Diri

 

Penulis: Regita Cahyani mahasiswa IAIN Langsa

BARANEWS | Fase Quarter Life Crisis, sebuah tahap seseorang mengalami perubahan emosional yang terjadi pada masa perkembangan (transisi) dari remaja menuju dewasa yang menimbulkan perasaan cemas, khawatir yang mulai pada usia 20-an .

Pada fase ini individu lebih sering mengalami ketidakstabilan dalam menghadapi realita kehidupan, terdapat beragam pilihan serta muncullnya kepanikan merasa tidak berdaya yang ditandai dengan berbagai macam reaksi seperti frustasi, emosi, panik, dan reaksi lainnya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh The Guardian, ditemukan fakta bahwa 86% dari 1.100 anak muda mengalami Quarter Life Crisis.Mereka mengaku merasa tertekan untuk bisa sukses dalam semua aspek dengan target waktu tertentu. Hubungan, keuangan, dan pekerjaan diharapkan berhasil sebelum mencapai usia 30 tahun.

Timbulnya Quarter Life Crisis disebabkan oleh pengaruh lingkungan sekitar yang kemudian mendorong dirinya untuk terus-menerus memikirkan hal-hal dalam hidup sehingga timbulah kegelisahan dan rasa tertekan. Pertanyaan yang dianggap ringan oleh sebagian orang, seperti “Kapan wisuda? Bekerja dimana? Kapan Menikah? Usia segini kok belum mapan?” sebenarnya justru yang paling banyak memberatkan pikiran seseorang.

Terdapat 5 (lima) fase yang dilalui oleh individu dalam quarterlife crisis menurut Robinson (2001), kelima fase tersebut antara lain :

  1. Fase pertama, adanya perasaan terjebak dalam berbagai macam pilihan serta tidak mampu memutuskan apa yang harus dijalani dalam hidup
  2. Fase kedua, adanya dorongan yang kuat untuk mengubah situasi
  3. Fase ketiga, melakukan tindakan-tindakan yang sifatnya sangat krusial, misalnya keluar dari pekerjaan dan memutuskan suatu hubungan yang sedang dijalani lalu mencoba pengalaman baru
  4. Fase keempat, membangun pondasi baru dimana individu bisa mengendalikan arah tujuan kehidupannya
  5. Fase kelima, membangun kehidupan baru yang lebih fokus pada hal-hal yang memang menjadi minat dan sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh individu itu sendiri

Mahasiswa tingkat akhir adalah mahasiswa yang sedang menjalankan semester delapan atau lebih yang sedang dalam proses menyelesaikan tugas akhir baik dalam perguruan tinggi Akademik, Politeknik, Institut, dan Universitas.

Mahasiswa tingkat akhir perlu meningkatkan efikasi diri atau kepercayaan diri mengenai kemampuannya untuk melakukan serta mencapai suatu tujuan tertentu.

Dengan meningkatkan efikasi diri,mahasiswa akan lebih bersemangat, tekun dalam menjalankan aktivitas, tidak cemas dalam menghadapi tantangan baru, tidak pantang menyerah, berkomitmen dalam menyelesaikan segala hal yang dilakukannya, serta dengan meningkatkan efikasi diri dapat membantu mahasiswa dalam progres pengembangan diri.

Efikasi diri dapat ditingkatkan dengan cara :

1.Kognitif, dengan memikirkan cara atau metode yang digunakan dalam mencapai tujuan atau goals yang kita harapkan serta mengembangkan keterampilan atau keahlian diri.

2.Motivasi, dengan membentuk ambisi atau tekad yang digunakan sebagai motivasi untuk dirinya agar bersemangat dalam mencapai hasil yang diharapkan.

3.Afeksi, dengan mengelola atau manajemen emosi agar tidak pantang menyerah ketika mendapatkan hasil yang diluar dugaan.

4.Seleksi, dengan memfilter atau menyaring lingkungan hidup serta tingkah laku yang positif agar memudahkan kita meraih tujuan.

Hindari situasi penuh tekanan yang dapat memperburuk kondisi mental serta bangun circle yang positif.

Namun kembali lagi, quarter life crisis merupakan sebuah fase sementara yang pada akhirnya bisa kita lewati.

Setelah melewati fase quarter life crisis mahasiswa akan terdorong untuk mencoba hal baru,  menjadi pribadi yang lebih dewasa dan mandiri,membangun prioritas baru,  mengenali potensi diri  dan mendorong mahasiswa untuk melakukan perubahan pada dirinya.

News Feed