oleh

Bukan Salah Memilih Jodoh, jika Angka Perceraian Meningkat

Oleh: Hafsah
(Pemerhati Masalah Umat)

Rumahku surgaku adalah dambaan setiap pasangan dalam berumah tangga. Namun kenyataan berkata lain, kini rumah tak lagi menjadi surga bahkan cenderung menjadi neraka bagi sebagian pasangan. Apa pasal?

Melihat tingginya angka perceraian di Bontang, mengindikasikan adanya masalah yang sistemik. Sejauh ini,
Pengadilan Agama (PA) Bontang sudah menerima 269 gugatan perceraian selama periode Januari hingga Mei 2022.
Rinciannya, cerai talak atau diajukan pihak laki-laki sebanyak 71 kasus dan cerai gugat atau diajukan pihak perempuan sebanyak 198 kasus.

PA Bontang pun memprediksi angka kasus perceraian di 2022 ini akan tembus di angka 700 kasus.
Humas Pengadilan Agama Bontang, Ahmad Farih Shofi Muhtar mengatakan sampai Mei kemarin kasus cerai gugat masih mendominasi dengan alasan perselisihan.
(Pusaranmedia.Com 10/6/2022).

Menurut Direktorat Jenderal Badan Peradilan Agama MA (Ditjen Badilag MA) ada 4 faktor terbesar penyebab perceraian ditahun 2021:
1. Pertengkaran dan perselisihan (36%).
2. Faktor ekonomi misal, tidak bekerja atau tidak punya penghasilan (14%).
3. Meninggalkan kediaman tempat bersama (7%).
4. Kekerasan dalam rumah tangga (0.6%).

Sejauh ini pemerintah memberikan langkah pencegahan perceraian dengan meningkatkan ketahanan keluarga melalui kampanye Pemberdayaan Ekonomi Perempuan (PEP) untuk mengentaskan kemiskinan pada perempuan.

Selain itu ada program planet 50:50 yaitu sebuah kampanye yang di cetuskan oleh PBB yang mempunyai visi dan misi untuk menyetarakan Perempuan mendapatkan hak yang sama dengan lelaki dalam semua aspek kehidupan, tanpa mengurangi norma dan kodrat sebagai perempuan yang di rencanakan akan tercipta pada 2030.

Program lainnya adalah mencegah pernikahan dini.

Akar Masalah

Melihat data angka perceraian yang semakin meningkat, mengindikasi langkah penanganan yang dilakukan belum tepat, program yang telah dilakukan tidak menghentikan laju perceraian. Mengapa?
Karena kesalahan mendasar ada pada penerapan sistem hidup saat ini.
Pertama: Segala sesuatu diukur dengan materi. Gaya hidup hedonis menjadi tolak ukur kebahagiaan, sehingga ketika tidak terpenuhi timbullah konflik yang berujung perceraian.

Kedua: sistem ekonomi kapitalis saat ini membolehkan sumber daya alam dikuasai oleh para pemilik modal, lalu kemudian dijadikan lahan bisnis. Liberalisasi SDA menjadikan kaum kapital bebas mengeruk dan mengeksploitasi tanpa batas.
Sehingga perekonomian menjadi timpang karena hanya berputar pada segolongan orang saja.

Ketiga: ide feminisme.
Pegiat gender menganggap hak perempuan belum terpenuhi dari sisi pendidikan, penghasilan, sehingga mereka menuntut adanya hak persamaan tersebut. Agar saat terjadi perceraian, perempuan tidak terpuruk karena mampu berdaya secara pendidikan dan ekonomi.

Keempat: paham sekularisme yang dianut menjadikan masyarakat lemah dari sisi keimanan dan individualis, dan negara lepas tanggung jawab dari hal ini.

Sekularisme yang mengakar saat ini menjadikan masyarakat memisahkan urusan ibadah dan urusan hidup. Sehingga tidak terkoneksi antara keimanan seseorang dengan pola hidup yang dijalani. Disisi lain ingin hidup tenang dengan mendekatkan diri pada Allah Swt, namun disisi lain tutup mata dengan kemaksiatan yang terjadi dihadapannya.

Belum lagi ide dari kaum feminis yang menuntut kesetaraanpun disambut baik, sehingga membuat kaum wanita berlomba untuk mengejar karir agar mampu mandiri secara finansial. Ide ini justru membuat perempuan meninggalkan perannya sebagai pengatur rumah tangga, pada akhirnya anak yang menjadi korban salah pengasuhan.

Inilah yang terjadi, ketika hukum dari Allah Swt hanya diambil sebagian saja, pada sisi lain mengambil hukum buatan manusia. Jika timbul masalah dikemudian hari tentu tidak ideal jika hanya mengharap pertolongan dari Allah Swt tanpa mau menerapkan aturan lainnya.

Islam Memberi Solusi

Untuk menyelesaikan semua problem tersebut, Islam punya solusi mendasar. Karena setiap aktifitas individu dan masyarakat butuh aturan dan dukungan sistem.
Dalam konsep Islam, suami istri merupakan kehidupan persahabatan dalam segala hal, yaitu persahabatan yang dapat memberikan kedamaian dan ketentraman. Allah Swt berfirman dalam Al Qur’an yang artinya, “Dialah yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan daripadanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya”. (TQS Al A’raf ayat 189)

Islam menentukan kepemimpinan atas suami kepada isterinya, sesuai dengan firman Allah Swt yang artinya, “Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita” (TQS Annisa ayat 34).
Artinya suamilah yang punya peran memimpin bahtera rumah tangga sekaligus menjadi penanggung jawab di dalamnya.

Jika terjadi perselisihan dalam rumah tangga yang dapat mengancam ketenteraman, Islam memberikan jalan agar bersabar seperti dalam firman Allah Swt yang artinya, “Dan bergaullah dengan mereka menurut cara yang patut. Jika kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena boleh jadi kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan kebaikan yang banyak padanya” (TQS Annisa 19).

Namun jika pasutri melampaui batas, maka dianjurkan untuk menghadirkan juru damai dari masing-masing pihak seperti dalam surah Annisa ayat 35. Jika langkah tersebut sudah dijalani namun keadaan pasutri tidak bisa lagi didamaikan, maka boleh mengambil langkah bercerai sesuai dengan firman Allah Swt dalam surah Annisa ayat 130.

Agar langkah-langkah diatas dapat terealisasi dengan baik, maka kita butuh sistem yang akan mendukung pelaksanaannya. Menerapkan Islam harus menyeluruh agar tidak terjadi pemisahan urusan ibadah dan kehidupan.

Pendukung selanjutnya adalah sistem ekonomi Islam.
Dalam konsep ini, negara wajib menyediakan lapangan pekerjaan agar tidak ada alasan bagi laki-laki untuk tidak menafkahi keluarganya. Sementara tanggung jawab mengurus anak adalah isteri.

Sistem pendukung lainnya adalah sistem sosial dan sistem pergaulan. Islam mengharuskan agar ada pemisahan pergaulan antara laki-laki dan perempuan. Termasuk didalamnya adalah aturan berpakaian yang sesuai syariat bagi kaum muslimah. Kaum wanita menjaga iffah (kemuliaan) dengan menutup aurat, sedangkan kaum pria diwajibkan untuk gadhul bashor (menundukkan pandangan).

Lalu, ada sistem pendidikan yang berbasis aqidah, sehingga melahirkan individu yang bertaqwa yang menjadi bagian dari masyarakat.

Kemudian, aturan media juga sangat penting disini. Bukan hanya menjadi pusat informasi tapi memberikan edukasi yang bermanfaat bagi masyarakat secara umum.
Untuk merealisasikan semuanya maka dibutuhkan sebuah aturan sempurna yang bersumber dari Al Qur’an dan Assunnah.

Wallahu a’lam bisshowab

Jangan Lewatkan