oleh

Budidaya Kelinci Di Masa Pandemi Dapat Meningkatkan Ekonomi Masyarakat

 

Penulis: Muhammad Fikri (Mahasiswa Program Studi  Perbankan Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. IAIN Langsa)

 Gampong (gampong) Asam Peutek telah ada sejak zaman Belanda sebelum tahun 1928. Hal ini pernah diceritakan oleh orang-orang tua dahulu bahwa pada zaman Belanda, yang membuka hutan ini adalah seorang dari China. Ia hanya mengambil kayu dan dibawa keluar daerah. Nama orang tersebut adalah Panjang Yuu. Setelah  mengambil banyak kayu, daerah tersebut akhirnya ditinggalkan.

Pada Tahun 1928, masuklah orang-orang dari suku Jawa yang berasal dari Serafoh, dan suku Aceh yang berasal dari Langsa yang bernama Siren dan Ampon,. Mereka datang guna membuka lahan untuk bertujuan berladangan dan bersawah untuk ditanami sayur-sayuran, ubi kayu dan tanaman padi sawah.

Lalu, Pada tahun 1928 sampai 1950, daerah ini terbagi menjadi 2 (dua) bagian yaitu barat dan timur. Di bagian sebelah barat dipimpin oleh Peutuah Usuh, sedangkan di bagian sebelah timur dipimpin oleh Lurah Siren.

Kemudian, pada tahun 1950, kedua gampong tersebut berubah nama menjadi Gampong Asam Peutik dan Gampong Bukit Medang Ara. Gampong Asam Peutik dipimpin oleh seorang Lurah yang bernama Yatiman dan Gampong Bukit Medang Ara dipimpin oleh Peutuah Puteh.

Asal-usul kenapa gampong ini diberi nama dengan sebutan Asam Peutik dikarenakan pada zaman dahulu, saat pembukaan hutan oleh kedua ada orang dari Suku Aceh dan Suku Jawa, mereka duduk di bawah pohon asam jawa besar dan di sampingnya terdapat pohon pepaya. Karena hal itu, mereka sepakat untuk memberi nama Asam Peutik (Asam Pepaya) yang bermakna asam dan peutik (pepaya).

Mayoritas masyarakat di desa Asam Peutik adalah petani, peternak, kuliner dan lain-lain. Bidang pertanian khususnya pada usaha peternakan dalam perekonomian, memainkan suatu peran yang sangat vital di dalam percepatan dan pertumbuhan ekonomi. Saat bangsa Indonesia dilanda krisis moneter dan krisis ekonomi, terbukti para pelaku petani khususnya usaha di bidang peternakan masih mampu bertahan menggerakkan roda pendapatan secara mandiri tanpa tergantung dari produk luar negeri.

Salah satu pemilik usaha budidaya kelinci yang bernama Pak Lim di gampong Asam Peutik sangat diharapkan oleh penduduk setempat, khususnya geuchik di gampong tersebut untuk bisa menjadi lapangan pekerjan bagi masyarakat. Usaha ini setidaknya dapat menekan angka pengangguran di gampong tersebut.

Kelinci adalah hewan mamalia herbivora yang hidup didaratan. Kelinci berkembang biak dengan cara melahirkan atau bisa disebut juga dengan vivipar. Karena jenisnya yang beraneka ragam, menyebabkan kelinci dapat ditemukan diberbagai tempat.

Kelinci juga termasuk hewan peliharaan yang banyak digemari oleh masyarakat. ukuran badan kelinci yang sudah dewasa tidak terlalu besar. Karena itu  kelinci banyak digemari di semua kalangan, oleh karena itu kelinci banyak dijadikan hewan pelihara.

Usaha budidaya kelinci Pak Lim di Asam Peutik sudah di lakukan sejak tahun 2018 berarti sudah berjalan 4 tahun sebelum masa pandemi, dengan biaya produksi relatif murah sehingga tidak membutuhkan modal besar,  kelinci mampu bertahan hidup hingga 5 tahun. Masa mengandung kelinci sekitar 28-35 hari biasanya 1 bulan sudah melahirkan kata pak Lim, untuk pemeliharaan dan perawatannya tidak terlalu sulit beda dengan hewan lainnya. Untuk makanannya tersedia pakan yang melimpah karena bisa memanfaatkan pakan dari sisa dapur dan hasil sampingan produk pertanian.

Sebelum adanya pandemi, dia telah banyak menerima pesanan dari dalam hingga dari luar Aceh. Hal ini dikarenakan kelinci dari Pak Lim memiliki kualitas yang sangat baik dan bermacam-macam jenis.

Setelah masa pandemi ini, jumlah pesanan yang diterima Pak Lim menurun drastis hingga beliau sempat tak bekerja selama hampir satu bulan. Hal itu membuat pendapatan beliau juga berkurang drastis. Pak Lim mengaku sangat sulit mendapatkan pesanan selama masa pandemi. Karena itu juga, kurangnya modal membuat beliau juga tak bisa memenuhi pesanan yang dijual.

Harga yang ditawarkan oleh Pak Lim cukup bervariatif, tergantung jenis kelinci apa yang di pesan. Kisaran harga yang ditawarkan mulai dari Rp 50.000,00 hingga Rp 200.000,00.

Melihat eksistesi budidaya kelinci  di sekitar kita menunjukan bahwa, setiap pihak  baik pihak pemerintah daerah, pemuda, dan masyarakat sudah ikut serta mendukung pembudidayaan kelinci. Semoga ke depannya terus dapat dikembangkan serta mampu menciptakan kreativitas baru, sehingga peningkatan penjualannya bisa meningkat lagi.

Dan kita berharap semoga dengan adanya peningkatan pembudidayaan kelinci  juga ikut meningkatkan perekonomian baik perekonomian bagi peternak maupun  perekonomian masyarakat Asam Peutik.

 

 

News Feed