oleh

Bu Tujoeh Lintoe Baroe : Adat Unik yang Masih Lestari di Wilayah Timur Aceh

 Oleh : Fika Andriana

Sejak dahulu, Aceh dikenal dengan provinsi yang kaya akan keragaman adat dan budaya. Hal ini terlihat dari keragaman bahasa, kuliner khas, dan keragaman adat itu sendiri. Karena, berbeda daerah, maka berbeda pula reusamnya. Praktek adat paling sering kita jumpai antara lain pada momen-momen tertentu, seperti pada momen pernikahan, 7 bulanan, kelahiran anak dan lain-lain. Dari beberapa momen tersebut, adat yang paling dijaga dan masih sering dipraktekkan di masyarakat adalah adat pada perkawinan.

Beberapa adat yang masih lazim dipraktekkan masyarakat dari dulu hingga saat ini dalam sebuah acara atau resepsi perkawinan antara lain adat seumapa, idang dan peuneuwoe dan peusijuk lintoe baroe dan dara baroe. Beberapa praktek tersebut bisa saja berbeda teknis pelaksanaannya, tergantung daerah mana yang menerapkannya, karena masing-masing daerah di Aceh memiliki kekhasan tersendiri. Dan beberapa pelaksanaan adat tersebut diatas hanya dilakukan saat acara resepsi berlangsung, baik resepsi yang dilaksanakan di rumah lintoe baroe maupun dara baroe.

Terlepas dari pelaksanaan adat yang dilaksanakan saat resepsi yang sudah umum dilakukan hingga masa kini, ternyata masih ada salah satu adat yang sudah jarang sekali terlihat dan dipraktekkan setelah resepsi perkawinan berlangsung, yaitu bu tujoeh lintoe. Sesuai dengan istilahnya, bu tujoeh lintoe sendiri jika diterjemahkan secara harfiah bermakna nasi tujuh pengantin pria. Sedangkan secara istilah bu tujoeh lintoe merupakan hidangan yang diantarkan oleh pengantin wanita (istri) kepada suaminya tepat pada hari ketujuh perkawinan mereka.

Prosesi pelaksanaan adat bu tujoeh lintoe tersebut dimulai saat hari ke 6 perkawinan. Pada hari tersebut pengantin pria (suami) meminta izin pulang ke kediaman orangtuanya untuk memancing ikan, sebagai lauk utama untuk dibawa pulang pada istrinya. Lalu sore harinya hasil pancingan tersebut dibawa pulang dan diserahkan pada istrinya. Selanjutnya suami meminta izin kembali pada istrinya untuk kembali kerumah orangtuanya mencari rezeki untuk istrinya. Nah, hasil pancingan yang dibawa pulang oleh suami  itulah yang kemudian digulai oleh istri dan kemudian diantarkan pada suaminya di hari ketujuh perkawinan.

Pada hari ketujuh perkawinan, suami yang saat itu memang sudah berada di rumah orangtuanya menunggu kedatangan istrinya bersama keluarganya mengantarkan makan siang untuknya. Pengantin wanita (istri) dalam mengantarkan hidangan tersebut juga ditemani oleh keluarga inti dan beberapa kerabat dekatnya. Beberapa keluarga inti dan kerabat tersebut juga secara simbolis mengantarkan pengantin wanita ke kediaman suaminya dan menyerahkannya kepada keluarga suaminya. Hal tersebut secara filosofis bertujuan agar tidak ada lagi rasa canggung istri terhadap keluarga dan rumah suaminya dalam kehidupan mereka yang akan datang, baik ketika mereka berkunjung sesekali maupun ketika mereka memutuskan akan tinggal di rumah tersebut.

 Foto: pengantin bersama keluarga menikmati jamuan dari keluarga pengantin pria sesudah penyerahan bu tujoeh lintoe baroe

 

Prosesi berikutnya setelah pengantin wanita tiba dirumah pengantin pria bersama keluarganya adalah penyerahan hidangan bu tujoeh lintoe baroe oleh keluarga pengantin wanita kepada keluarga pengantin pria. Pada prosesi itu, selain penyerahan hidangan secara simbolis, juga dilakukan penyerahan pengantin wanita secara simbolis kepada keluarga pengantin pria. setelah acara penyerahan selesai, barulah pihak keluarga pengantin pria mempersilakan pengantin wanita dan keluarganya menikmati jamuan yang telah disiapkan juga oleh keluarga pengantin pria.

Ibu Jamilah, seorang warga gampong Seuneubok Cantek, kecamatan Manyak Payed, Aceh Tamiang yang pada april lalu baru saja melaksanakan prosesi adat bu tujoeh lintoe baroe yang penulis wawancarai secara langsung saat prosesi pelaksanaan adat bu tujoeh lintoe baroe ini mengatakan bahwa adat ini telah turun temurun dilaksanakan di desanya sejak dahulu. Menariknya, fakta menunjukkan bahwa adat ini tergolong unik dan masih dilestarikan oleh masyarakat desa tersebut dan sekitarnya.  Dikatakan unik karena tidak semua daerah di Aceh melaksanakan adat ini, dan unik jika dilihat dari fakta sejarahnya.  Selain itu, jika melihat wilayah gampong Seunebok Cantek secara geografis berada di wilayah ujung provinsi Aceh, dan sudah sangat dekat dengan provinsi Sumatera Utara yang membuat gaya hidup serta nilai-nilai adat semakin tergerus. Hal ini merupakan apresiasi tertinggi karena masyarakat gampong ini dan sekitarnya masih melestarikan adat ini, saat dimana masyarakat gampong-gampong lainnya di seluruh wilayah Aceh sudah tak banyak yang masih melaksanakan adat ini.

Bedanya, karena semakin tergerus oleh perkembangan zaman, praktek pelaksanaan adat bu tujoeh lintoe baroe pun mengalami pergeseran pelaksanaan secara teknis namun tidak dari sisi nilainya. Jika dahulu pengantin pria benar-benar pulang ke rumah orangtuanya di hari ke enam perkawinan untuk memancing ikan dan hasil tangkapannya diberikan untuk istrinya lalu kemudian oleh istri dimasak dan diantarkan kepada suaminya di hari ketujuh perkawinan mereka, sekarang bukan demikian adanya. Pada saat resepsi perkawinan di kediaman pengantin wanita atau lebih dikenal dengan preh lintoe baroe, tepatnya saat prosesi penyerahan peunuwoe (seserahan, pen) dilangsungkan, bersamaan dengan itu pula diutarakan perihal bu tujoeh lintoe yang harus diantarkan oleh pengantin wanita ke kediaman orangtua suaminya di hari ketujuh perkawinan. Bersamaan dengan itu pula, pihak keluarga pengantin pria menyerahkan sejumlah dana sebagai pengganti hasil tangkapan ikan suami untuk diberikan kepada istri sebagai persiapan hidangan bu tujoeh lintoe baroe.

Namun, pergeseran tradisi pelaksanaan adat ini tidaklah merubah esensi nilai dari adat ini sendiri. Dan tentunya kita semua berharap pelaksanaan adat bu tujoeh lintoe baroe ini tetap lestari dan terus dilaksanakan hingga masa yang akan datang. Dan bagi masyarakat gampong di seluruh Aceh agar tetap melestarikan nilai-nilai adat apapun baik yang ada dalam upacara perkawinan maupun lainnya, selagi adat tersebut tidak bertentangan dengan nilai-nilai islam. Semoga.

 

 

Biodata Penulis :

Nama                                       : Fika Andriana

Profesi                                     : Dosen Fakultas Syari’ah IAIN Langsa

Akun Media Sosial Facebook: Ficca Andriana

Email                                       : Fikaandriana@iainlangsa.ac.id

No. Hp / WA                          : 0823 6229 6228

 

 

 

 

News Feed