oleh

Biografi Bupati Gayo Lues: Kuli Tinta jadi Politisi Ulung

 

Ketika kondisi Indonesia sedang memburuk, terjadinya peperangan antar ideologi, yang mengakibatkan jutaan nyawa melayang, tepat pada tahun 1965 ditengah kondisi Negara sedang perang saudara, lahirlah salah satu tokoh Gayo Lues,  H. Muhammad Amru, M,SP.

Di Daerah terisolir pada masa itu, Kute Panjang pada 25 Mei 1965 ia dibesarkan, dan mengenyam pendidikan pertamanya di Sekolah Dasar SD Negeri 1 Kute Panjang 1977.

Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya, Muhammad Amru melanjutkan pendidikan tingkat SMP di SMP N 1 LAWE SIGALA-GALA 1981, dan SMA N 1 LAWE SIGALA-GALA 1985 di Aceh Tenggara.

Sebelum disematkan label datu Politik (Ndatu Politik/Politikus Ulung) kepada dirinya. Alumni 1990 D-III F.KIP Unsyiah BANDA ACEH ini awalnya bekerja sebagai Kuli Tinta di koran media lokal Aceh.

Dunia jurnalistik tak bisa dipisahkan dengan jalan karirnya. Bisa dikatakan, dunia jurnalistik ini salah satu jalan membawa dan membuka cakrawala pikirannya tentang kemaslahatan umat.

Dunia jurnalistik ini pula, yang banyak berkontribusi membentuknya sebagai pemuda yang kritis terhadap jalanya pemerintahan, hukum, sosial dan politik.

Tak sekedar menulis, totalitas alumni S1 STAIS SIDIKALANG (2006) ini dalam dunia media massa terlihat dari cacatan, bahwa dirinya pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI PERWAKILAN AGARA 1994–1999).

Beruntungnya pergulatannya dalam dunia wartawan yang menuntutnya harus mampu membangun komunikasi keberbagai pihak, baik masyarakat bawah, politikus dan kaum birokrat telah menjadikannya memahami secara utuh tatanan dunia Pemerintahan dan perilaku kaum politikus.

Kejeliannya mengubah tantangan menjadi peluang, mantan Wakil Ketua PP Aceh Tenggara dan Sekretaris Gapensi Aceh Tenggara ini, pada tahun 1998 didaulat menjadi Wakil Ketua DPD II Partai Golkar Aceh Tenggara selama dua tahun (1998-2000).

Inilah momen yang paling menentukan jalan karir mantan Ketua Kadin Gayo Lues periode 2000–2004 ini dalam dunia politik. Di sini yang mulai unjuk gigi, meskipun, dibeberapa kesempatan pada saat Gayo Lues masih dibawah Aceh Tenggara sering berhadapan dengan kegagalan ketika calon sebagai DPRK Aceh Tenggara.

Setelah Gayo Lues dinyatakan mekar dan berpisah dari Aceh Tenggara. Ia kembali ke Gayo Lues dan kembali memulai karir politiknya sebagai Sekretaris DPD II Partai Golkar Gayo Lues periode 2002–2004.

Pada pemilihan legislatif 2004, ia mendapatkan dukungan penuh dari masyarakat dan dilantik sebagai Wakil Ketua DPRK Gayo Lues periode 2004-2009, dan di tahun yang sama ia juga dipercayakan sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Gayo Lues Priode 2004–2010.

Dalam perjalanannya, Alumni S2 M. SP USU Medan ini pada tahun 2009 kembali terpilih untuk kedua kalinya sebagai anggota dewan Gayo Lues, dilantik menjadi Ketua DPRK Gayo Lues priode 2009–2014, inilah puncak kariernya di dunia politik.

Namun, ditengah kejayaannya, mantan Ketua PMI Gayo Lues Priode 2010–2014 harus berhadapan dengan berbagai tantangan yang luar biasa. Tepatnya pada masa memasuki Pilkada 2012, ia harus berseberangan dengan sahabat kecilnya sekaligus salah satu sahabat yang paling mengerti tentangnya.

Dengan berbagai gesekan yang luar biasa, akhirnya, ia harus rela meletakkan jabatannya sebagai orang nomor satu di Partai Golkar yang merupakan partai yang telah membesarkan namanya, sekaligus meninggalkan jabatan paling bergengsi sebagai orang nomor satu di DPRK Gayo Lues dengan berbagai pertimbangan.

Dalam kondisi jatuh, dan tertatih-tatih akibat kehilangan jabatan, dan harus berseberangan dengan sejumlah koleganya, Muhammad Amru tak menyerah begitu saja, ia masuk ke Partai Aceh untuk jadi tunggangan Politiknya pada tahun 2014.

Melalui Partai Aceh ini, dalam keadaan merangkak, ia mencalonkan diri sebagai Anggota DPRA pada tahun 2014, dan berhasil dengan mulus terpilih sebagai anggota DPRA mewakili Gayo Lues- Aceh Tenggara 2014-2016.

Pada tahun 2016 ia terpilih menjadi Bupati Gayo Lues menggandeng Said Sani sebagai wakilnya priode 2017-2021. Setelah ini, kemanakah Bang Haji melangkah?

Sayub sayub terdengar H. Muhammad Amru akan memilih jalan istirahat dari panggung politik agar lebih khusyuk beribadah dan berdakwah. Terlihat akhir akhir ini, selain pidato diacara acara resmi pemerintahan Bupati yang juluki Bapak Seribu Hafidz ini, kerab tampil sebagai khatib sekaligus imam pada sholat Jum’at.

Sc : Aranews

News Feed