oleh

Antara Benturan Peradaban & Perang Asimetris

-HEADLINE, OPINI-602 views
banner 970x250
Ilustrasi/MI

 

BARANEWSACEH.CO –  Ajakan secara tak langsung dari Amerika Serikat untuk bersatu melawan gerakan Komunis Cina RRC, setidaknya cukup memberi isyarat betapa gawatnya perang asimetris semakin menjadi ancaman bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang menjadi prioritas mereka untuk mereks rebut dan merejs kuasai dengan berbagai cara dan bentuk yang dilancarkan. Dalam neraca perdagangan saja Indonesia telah mengalami defisit sampai USD 20 milyar (Rp 290 trilyun) dengan RRC. Pada tahun 2019, diperkirakan bisa mencapai USD 40 milyar.

Cara Cina untuk mengambil alih negara lain lewat kolonialisasi Pecinan (Cina Town) misalnya seperti dilakukan oleh para cukong dan Taipan yang ada bersama jutaan buruh, turis, dan rakyat Cina yang didatangkan secara khusus ke Indonesia. Itulah sebabnya sepak terjang Cina di Indonesia jadi semakin perlu diwaspadai oleh segenap warga bangsa Indonesia yang masih punya idealisme nasionalis sejati.

Strategi dengan cara membuat harga tanah menjadi mahal di tempat strategis bisa dipahami sebagai cara menyingkirkan kaum pribumi dari tanah leluhurnya. Begitu juga cara mereka memberi dukungan kepada rezim penguasa dan membangun budaya suap menyuap dengan semua elite penguasa serta biroktat hingga politisi kita yang tamak dan rakus menjadi semakin kuat sebagai model dalam perilaku orang Cina di Indonesia untuk menguasa semua bentuk usaha mulai dari tanah pekarangan sampai kebun dan jaringan usaha yang strategis dan besar pengaruh-nya pada para aparat pemerintah di pusat maupun di daerah. Peluang seperti ini pun semakin mulus dan langgeng karena mendapat sambutan positif dari kompraror-komprador serta mereka yang abai pada amanah rakyat.

Seruan Amerika Serikat yang mengingatkan agar Cina segera berhenti mengikis kedaulatan negara negara lain memang tak akan digubris. Karena hanya dengan membuat gerakan perlawanan, itulah yang efektif dan efisien dilskukan guna menghentikan penetrasi dan aneksasi mereka di negeri kita yang mereka idolakan dapat menjadi bagian dari kolonisasi mereka yang baru. Boleh jadi benar secara legal formal bisa saja tidak seperti itu adanya, tetapi dalam prakteknya sungguh-subgguh mencemaskan.

Pemerintah Amerika Serikat tampaknya seperti pihak yang paling merasa gerah oleh ulah bangsa Cina yang sangat agresif dan ambisi untuk menguasai banyak hal yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya yang terus bertambah menuju angka 1,7 milyar orang. Maka itu bisa dipaham bils ada kebijakan dari negara Cina untuk mengurangi beban negera dengan kebijakan mengirim rakyatnya untuk berigrasi ke negara lain. Dan Indonesia menjadi tujuan terpaforit yang mereka pilih. Karena itu, dengan kebijakan yang ada maupun perlakuan yang begitu longgar oleh pemerintah Indonesia, sangat mungkin hanya dalam waktu singkat jumlah bangsa asing di Indonesia akan membludak. Terutama dari negeri Cina yang sudah lebih siap dengan konsep Obor (One Belt One Road) itu, termasuk strategi investasinya yang selalu mengikut- sertakan juga tenaga kerja asli dari negeri mereka.

Pemerintahan Cina yang terus mengusik serta mengancam kedaulatan negara-negara tetangga pun ditengarai pihak Amerika Serikat sebagai salah satu cara untuk mengalihkan perhatian untuk ikut melakukan inventasi juga dalam bentuk teknologi militer pada lima tahun ke depan guna menjaga agar Asia tetap stabil dan terjaga. Pernyataan ini seperti diungkap Pjs Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan pada forum Shangri-La Dialogue yang digelar di Singapura yang membahas isu keamanan bersama menteri pertahanan dan pejabat-pejabat tinggi militer dari seluruh dunia.

Menurut Menhan AS, Cina dapat dan harus memiliki hubungan kerja sama dengan seluruh wilayah, tetapi hendaknya perilaku yang terus mengikis kedaulatan dari negara-negara lain dan menabur ketidakpercayaan terhadap niat baik China harus dihentikan, kata Shanahan dalam forum tersebut (1 Juni 2019). Jadi intinya pihak Washington dan Beijing sekarang sedang berseteru hebat untuk bisa mendapatkan pengaruh di wilayah Asia yang memiliki potensi memanas seperti suasana di Laut Natuna Selatan, Semenanjung Korea dan Selat Taiwan. Kecuali itu, Washington pun mengecam keras militerisasi Beijing di Laut Natuna Selatan dan Cina masih terus menerus membangun instalasi-instalasi di sana. Beijing pun kerap dibuat marah oleh polah kapal perang AS yang melintas di Selat Taiwan, dan menganggap daerah tersebut sebagai bagian dari perairan internasional yang masuk dalam wilayah kekuasaan mereka.

Perang tanding Indonesia lawan Cina dalam bidang ekonomi jelas sudah membuat Indonesia keok. Bayangkan nilai impor dan ekspor yang tak imbang, membuat defisit neraca perdagangan tertinggi pada April 2019. Nilai defisitnya USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 36,25 triliun (kurs Rp 14.500 per dolar AS). Angka ini membuat kinerja neraca perdagangan terburuk sejak Indonesia merdeka untuk kategori bulanan.
Defisit sebesar USD 2,5 miliar pada April 2019 ini, pada Juli 2013 sebesar USD 2,3 miliar defisitnya, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto di Jakarta (Rabu (15 Mei 2019).
Tingginya defisit ini sejalan dengan naiknya angka impor (migas dan non-migas) pada April 2019 sudah mencapai USD 15,10 miliar, sementara ekspor sebesar USD 12,60 miliar. Dari data itu, BPS mencatat angka ekspor anjlok 10,80 persen (month-to-month/mtm), sebaliknya impor melambung 12,25 persen.

BPS juga mencatat jika Cina sebagai negara asal produk impor tertinggi yang masuk ke Indonesia. Total impor (non-migas) asal Cina mencapai USD 3,954 miliar atau setara Rp 57,333 triliun pada April 2019. Porsi produk impor non-migas asal China mencapai 29,47 persen dari total impor Indonesia selama 4 bulan pertama di 2019. Ekspor Indonesia ke Cina sebesar USD 2,063 miliar pada April. Artinya, ada defisit neraca perdagangan Indonesia-China sebesar USD 1,891 miliar atau setara Rp 27,419 triliun pada April 2019.

Jadi jelas, antara benturan peradaban dan perang asimetris yang ditandai oleh aktor utananya Cina dab Amerika, maka Indonesia sendiri bisa menjadi pemain figuran yang tidak menentukan sama sekali warna skenario besar dari tontonan nyata dalam tata kehidupan kelak di masa depan.

Pertanyaan yang sangat relevan dari thesis Samuel P. Hatington adalah dimana posisi dari peradaban Islam yang dia paparkan cukup lugas, sebagai salah satu dari tiga peradaban besar yang layak dan patut untuk diperhitungkan benturan dan gesekan serta pengaruhnya bagi seluruh manusia yang ada di bumi.

Jakarta, 7 Juni 2019

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed