oleh

Benarkah Puasa Ramadan dapat Mengurangi Stress Pada Mahasiswa di Masa Pandemi Covid-19?

Ilustrasi/net

Penulis : Mulia Etika, Mahasiswa Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala

Pandemi Covid-19 telah mengubah sebagian aspek kehidupan manusia, salah satunya dibidang pendidikan di perguruan tinggi Indonesia. Pandemi Covid-19 ini membuat ruang gerak manusia menjadi terbatas, sehingga manusia dituntut agar dapat beradaptasi dengan kondisi tersebut. Begitu pula dengan sistem pendidikan yang ada di perguruan tinggi, mereka harus mencari berbagai alternatif agar pendidikan tetap berjalan, meski dengan segala keterbatasan. Salah satu alternatif yang di terapkan dalam dunia pendidikan selama masa pandemi Covid-19 ini adalah dengan menerapkan sistem pembelajaran daring. Sebagaimana yang diterbitkan dalam surat edaran Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, mengenai pencegahan penyebaran COVID-19 di dunia Pendidikan, untuk melakukan pembelajaran dengan  sistem jarak jauh dan belajar dari rumah (Study From Home/ SFH).

Sebagai seorang mahasiswa yang memiliki kewajiban belajar di perguruan tinggi, mereka juga dituntut agar dapat beradaptasi dengan perubahan tersebut. Tidak hanya itu, perubahan yang terjadi juga membawa dampak negatif bagi mahasiwa. Banyak kendala yang dialami oleh mahasiswa selama perkuliahan daring. Kendala tersebut berupa kurang stabilnya jaringan internet, mahasiswa kekurangan kuota internet, banyak gangguan ketika belajar di rumah, merasa kurang fokus belajar tanpa adanya interaksi langsung dengan dosen dan mahasiwa lain,  sehingga mahasiswa tidak sepenuhnya mendapatkan ilmu dari sistem pembelajaran daring tersebut. Oleh karena itu mahasiswa kerapkali menjadi tertekan, dan tidak jarang juga mahasiswa mengalami stres akibat sistem belajar daring.

Stres merupakan kondisi respon fisik, emosi, kognitif, dan perilaku terhadap suatu peristiwa yang dinilai mengancam atau menantang individu tersebut. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), stres ialah kekacauan atau gangguan mental dan emosional yang diakibatkan oleh faktor luar; ketegangan. Respon stres pada setiap orang tentu saja berbeda-beda. Menurut penelitian respon stres dapat berupa perilaku menghindar, menarik diri, kesulitan dalam tidur, tidur terus-menerus, dan tidak selera makan. Secara fisiologis respon stres dapat berupa jantung berdebar, tekanan darah tinggi, panas, keringat dingin, pusing, sakit perut, dan cepat lelah. Sedangkan pada aspek psikologis, stres dapat berbentuk frustasi, depresi, kecewa, merasa bersalah, bingung, takut, tidak berdaya, cemas, tidak termotivasi, dan gelisah.

Stress yang dialami oleh seseorang dapat diatasi dengan melakukan coping stress dengan pendekatan religius. Coping religius adalah penggunaan kognitif dan perilaku dalam menghadapi stress melalui pendekatan agama, dengan berpuasa.

Puasa ramadan merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap umat muslim di dunia yang sudah dewasa dan berakal. Ibadah ini termasuk dalam  rukun islam yang lima. Puasa adalah menahan diri dari makan dan minum, dan segala hal yang dapat membatalkan ibadah tersebut. Puasa ramadan dikerjakan mulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, berlangsung selama 29-30 hari, dengan durasi puasa dapat berkisar dari 12 hingga 20 jam perharinya. ibadah puasa ramadan dilakukan oleh lebih dari satu milyar penduduk dunia dari 57 negara dengan 2,02 miliar.

Puasa ramadan memiliki banyak manfaat bagi kesehatan, salah satunya dapat mengurangi stress. Ketika melakukan puasa tubuh akan meningkatkan pelepasan beberapa hormon endorfin (hormon bahagia), sehingga membuat suasana hati baik. Sehingga ketika suasana hati baik mahasiswa akan lebih mudah menerima pembelajaran yang diberikan oleh dosen. Apabila tubuh kekurangan hormon endorfin tersebut, maka seseorang akan mengalami kecemasan.

Puasa juga dapat meningkatkan jumlah beberapa bahan kimia pada otak yang dapat menciptakan suasana hati yang baik, meningkatlkan memori, dan kesejahteraan umum. Selaini itu, puasa ramadan dapat meningkatkan serotonin, NGF, dan BDNF. NGF adalah zat kimia yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan sel saraf. Sedangkan, BDNF adalah protein yang merangsang neurogenesis yang menghasilkan neuron baru di otak. Terbentuknya neuron baru ini sebagian besar terjadi di hippocampus yang merupakan area otak yang mengatur suasana hati dan proses kognitif lainnya. Jadi, dengan mengatur pertumbuhan saraf, ditambah dengan meningkatnya serotonin dapat meredam kecemasan dan stres, serta meningkatkan suasana hati secara keseluruhan. Selain itu, pada bulan ramadhan dapat meningkatkan kontrol diri mahasiswa, sehingga ketika mengalami kendala selama perkuliahanan, mahasiswa dapat mengontrol diri dan lebih mudah dalam meredamkan stres.

 

News Feed