oleh

Awas Ijazah Palsu Beredar di Aceh Tenggara!

 

*Disinyalir dalam mengejar akreditasi sekolah, dan NUPTK
*Mungkin juga dalam tahapan Pilkades

Oleh: Januar Pagar M.Lubis

Biasanya ijazah palsu, atau ijazah asli tapi palsu (aspal), beredar karena ada permintaan dan ingin menunjukkan diri supaya hebat dan pongah, bahwa dia lulusan suatu sekolah tertentu, dan perguruan tinggi tertentu.

Hal tersebut adalah tindakan amoral dan penurunan akhlak (dekadensi moral) seseorang terhadap hasil yang didapatkan, tanpa usaha dan perjuangan, keringat, uang, proses waktu, dan tanpa tatap muka dengan guru/dosen.

Hal pembuatan dan peredaran gelap ijazah palsu, karena adanya permintaan oknum tertentu, administrasi tertentu baik di bidang pemerintahan (birokrasi), maupun di bidang swasta, sehingga penyedia jasa juga merespon permintaan oknum tertentu, yang getol mendapatkan ijazah palsu, tanpa aturan dan proses waktu yang tersedia.

Sebut saja di Kabupaten Aceh Tenggara(Agara), yang dijuluki Bumi Sepakat-segenap, hal pembuatan ijazah palsu disinyalir dilakukan oknum-oknum tertentu, seperti dalam tahapan pemilihan kepala desa (Pilkades), sang calon berusaha membuat ijazah tertentu, untuk memenuhi kepentingan dan tuntutan administrasi.Di lain pihak, Ijazah palsu ini dilakukan oleh pihak-pihak tertentu dalam bidang pendidikan, khususnya Sekolah-sekolah swasta, dan dilakukan Kepsek-kepsek tertentu/oknum guru tertentu, untuk memenuhi akreditasi sekolah, dan mendapatkan nomor unik pendidik dan tenaga kependidikan (NUPTK)

Adapun praktek-praktek percaloan dan dagang ijazah ini (mafia pendidikan) ini, dilaksanakan dengan membeli ijazah dengan harga nominal tertentu, baik paket A, paket B, Paket C, dan ijazah sarjana.Hanya dengan memberi uang, tanpa tatap muka, tanpa ujian keluar ijazah.Informasi yang didapatkan penulis ini, bagi penerima ijazah sarjana, hanya kasih uang, buat karya ilmiah, dan di wisuda di tempat tertentu (hotel), dapat ijazah.Tanpa perlu mengikuti perkuliahan tatap muka dengan dosen, pertemuan teratur, absensi, ujian, nilai akademik 160 SKS, bayar uang kuliah, menyusun skripsi, dll.

Perbuatan amoral dan dekadensi moral ini, dengan mendapatkan ijazah dengan instan, “pakai jalan tol”, adalah melanggar norma, etika, aturan, dan hukum.Sebut saja pelanggaran terhadap undang-undang perguruan/pendidikan tinggi, Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan dokumen, karena itu menyangkut ranah pidana.Penulis berharap, pembuatan dan peredaran ijazah palsu di Aceh Tenggara, bisa diminimalisir dalam tahapan Pilkades dan proses akreditasi sekolah, dan untuk mendapatkan NUPTK, apalagi di zaman Covid-19 ini.Semoga…!!!

News Feed