oleh

Aroma Sere Wangi Gayo Lues Tercium Hingga ke Negeri Amitabh Bachchan

 

Gayo Lues Baranewsaceh.co |  Melambungnya harga komoditi minyak sere wangi asal kabupaten Gayo Lues beberapa waktu yang lalu, setidaknya telah mewarnai peningkatan ekonomi masyarakat Gayo Lues yang begitu signifikan. Hal tersebut di kuatkan karena para petani Sere wangi di Kabupaten Gayo Lues pernah menjual minyak Sere Wangi dengan harga nett tertinggi Rp.350.000.00 (Tiga ratus lima puluh ribu rupiah).

Langkah tersebut kemudian di ikuti dengan upaya dari petani untuk terus memperluas areal tanam, hingga saat ini luas areal tanaman Sere wangi di kabupaten Gayo Lues telah mencapai mencapai angka 50.000 hektar. Dengan demikian dapat di pastikan sebagian besar para petani yang ada di kabupaten Gayo Lues adalah murni petani sere wangi, di samping sebagai petani dengan komoditas unggulan lainnya, seperti kopi, kemiri, dan hulticultura.

Begitu juga halnya dengan kabupaten tetangga dari Kabupaten Gayo Lues seperti kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah. Sebagian petani kopi, saat itu mulai beralih untuk menanam sere wangi sebagai penopang ekonomi keluarga.

Indikatornya jelas karena harga jual minyak sere wangi cukup fantastis di pasaran, sehingga banyak petani berasumsi dengan menanam Sere wangi adalah cara instan untuk meningkatkan taraf hidup dalam situasi ekonomi yang sedang sulit.

Tanoh Depet, kecamatan Celala adalah titik awal berkembangnya Sere Wangi di Kabupaten Aceh Tengah. Begitu juga dengan kecamatan Pintu Rime Gayo merupakan centra produksi Sere Wangi di Kabupaten Bener Meriah.

Namun seiring anjloknya harga minyak Sere wangi di pasaran, sejumlah petani mulai kehilangan rasa kepercayaan diri untuk melanjutkan usaha tersebut. Faktor lain karena tidak sebandingnya hasil yang di peroleh dengan biaya produksi yang harus di keluarkan.

Untuk saat ini harga minyak Sere wangi di pasar lokal Belang Kejeren berkisar antara Rp. 170 ribu s/d Rp.175 ribu. Akibat menurunnya harga, banyak petani Sere wangi yang sudah enggan untuk melakukan pengukusan dan membiarkan terlantar akibat harga produksi tak lagi sesuai.

Namun di balik itu, Pemkab Gayo Lues terus berupaya agar apa yang menjadi urat nadi sebagai penopang ekonomi masyarakat terus berjalan. Bermacam inovasi di kembangkan agar petani mendapatkan kemudahan dalam hal pengolahan dan pengukusan.

Seperti baru baru ini Pemkab Gayo Lues memperkenalkan cara pengukusan Sere wangi dengan metode menggunakan oli bekas. Inovasi ini di harapkan akan mampu mengurangi matrial kayu sebagai bahan bakar dalam pengukusan Sere wangi. Dengan demikian eko sistem kawasan louser sebagai paru paru dunia dapat di pertahankan.

Begitu juga upaya yang terus di lakukan oleh Pemkab Gayo lues dalam mencari relasi dan trobosan baru, baik di dalam maupun di luar negeri. Seperti baru baru ini, Bupati H.Muhammad Amru menggelar pertemuan dengan sejumlah perwakilan pengusaha asal India di kota Banda Aceh. Sedangkan menyangkut agenda pembicaraan adalah menyangkut kontrak kerja sama pembelian minyak sere wangi oleh pengusaha asal India tersebut.

Lebih lanjut Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru kepada media ini mengatakan. Ada beberapa poin kerja sama yang di tawarkan oleh perwakilan pengusaha India diantaranya: “Kontrak kerja sama pembelian minyak sere wangi kabupaten Gayo Lues berdurasi waktu selama 5 tahun kedepan” dengan harga pembelian yang di tawarkan adalah sebesar Rp 200.000.00, perkilogramnya.

Sebelumnya H. Muhammad Amru sempat merasa pesimis dengan kontrak kerja sama yang di tawarkan, mengingat kuota minyak Sere wangi yang di butuhkan dalam partai besar, yakni sebanyak 60 ton minyak Sere wangi setiap bulannya.

kekhawatiran itu sangat beralasan mengingat Luas lahan sere wangi yang ada di Kabupaten Gayo lues saat ini hanya 50.000 hektar. Istimasinya adalah setiap satu hektar lahan Sere wangi harus mampu menghasilkan 800 Kg minyak Sere wangi.

Namun ke khawatiran seorang Muhammad Amru sedikit terjawab, mengingat dua kabupaten tetangga yakni Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah juga sebagai penghasil minyak sere wangi, kendatipun kuota yang di hasilkan masih relatif kecil bila di bandingkan dengan Kabupaten Seribu bukit.

Selain itu Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru berkeinginan agar standar harga bisa di lakukan peninjauan kembali, setiap tahunnya, mengingat harga jual minyak sere wangi bisa berubah di pasaran. Kiranya hal ini perlu untuk di jadikan pedoman dan acuan agar kelak para petani Sere wangi yang ada di kabupaten Gayo Lues, tidak merasa di rugikan di ketika harga jual minyak Sere wangi melambung tinggi. Karena menurut H. Muhammad Amru, rasio dan efesiensi penjualan pasti akan mencari harga pasar yang lebih tinggi.

Namun H. Muhammad Amru juga memperjelas bahwa kesepakatan kontrak kerja sama antara Pemkab Gayo Lues melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMK) dengan pihak pengusaha asal India, saat ini masih dalam tahap negosiasi yang di lakukan. Ungkapnya. Minggu (24/01/2021).

Bupati H. Muhammad Amru juga berharap, semoga kesepakatan dan kontrak kerja sama yang di tawarkan segera mengerucut dan membuahkan hasil. Agar apa yang menjadi keluhan dari petani sere wangi yang ada di kabupaten Gayo Lues dapat segera teratasi, sehingga laju gerak ekonomi masyarakat dapat tumbuh lebih baik dan lebih di tingkatkan lagi agar kesejahteraan itu hadir diatas negeri yang “Baldatun Thayyibatun wa Robbun Ghofur. Insha Allah tutupnya, sembari mengakhiri komunikasi melalui whatshapnya bersama wartawan media ini. (Dani)

News Feed