oleh

Angkernya Enang Enang Akan Berubah Menjadi Tempat Yang Menyenangkan

UPDATE COVID-19 NASIONAL

Global

2738
Confirmed
221
Deaths
204
Recovered

Bener Meriah. Baranewsaceh.co  – Pada era tahun 80 an bila kita mendengar nama Enang- enang, maka akan terlintas di benak kita, adalah sebuah tempat dengan tanjakan, curam dan berliku. Terkesan angker dan sangat mengerikan, tentu bagi orang orang yang melintasinya. Sedar gambaran sejarah Jembatan Enang Enang pertama sekali di resmikan pada tahun 1915 semasa jaman kolonialis Belanda.

Entah seberapa banyak jumlah korban yang harus meregang nyawa dalam proses pengerjaan jalan dan jembatan Enang Enang. Mereka adalah para sudaha pahlawan bangsa yang menjadi pekerja paksa (Romusa) yang tertindas kala itu. Dibalik sunyi dan rimbunnya pepohonan, Enang enang juga sering di indentikkan dengan tempat “pembuangan korban, dari sejumlah rentetan komplik bersenjata semenjak jaman kolonial Belanda.

Sejumlah ahli sejarah juga menceritakan tentang riwayat jalan dan jembatan Enang Enang. Nama Enang adalah nama sebuah bunga, konon bunga tersebut banyak tumbuh di daerah setempat. Begitu juga dengan pemberian nama Enang Enang terilhami dari nama bunga tersebut.

Namun bila di telusuri dalam kosa kata bahasa Gayo Kata “Enang Enang” hanya di temukan dalam bait bait syair. Seperti : “Enang Enang Mersah Ujung, geluni payung Buntul gele nunang” Selain itu juga di temukan dalam ungkapan bahasa pepatah petitih Gayo yaitu “Enang Serke wan ate”. Kata Enang atau Inang bisa juga bermakna pusaran atau kata rujukan petunjuk arah. Berikut contoh kalimatnya. “Enangen mulo kuso, Baro kase ulaken Mien ku ini”. Etimologi dari kata Enang dalam kalimat ini menunjukkan arah yang hendak di lalui sebelum sampai ke tempat tujuan. Alibi yang di pergunakan adalah menyangkut kata Enang. Ada dugaan bahwa saat membuat jalan Enang Enang, untuk menghindari tanjakan yang tinggi, maka di buat sebuah kelokan, dan hal tersebut dapat di buktikan dan di temukan di Enang Enang. Tepatnya di kelokan yang bertuliskan “Tajuk Enang Enang”.

Tidak ada perubahan berarti yang pernah di bangun oleh pemerintah sejak negara ini merdeka, terkecuali jembatan tua peninggalan Belanda yang sudah di ganti dengan jembatan rangka baja. Pemerintah hanya pernah melakukan sedikit pelebaran jalan dan pengaspalan agar memenuhi standar nasional. Begitu juga dengan tanjakan dan kelokan masih seperti saat pertama sekali di resmikan pada tahun 1915.

Kurang lebih 105 tahun telah berlalu. Enang Enang adalah fenomena jalan di lintas Takengon Bireuen. Kini mitos tentang curam, longsor tanjakan dan kelokan akan segera berakhir, seiring waktu upaya dari pemerintah Kabupaten Bener Meriah mulai menemui titik terang.

Jembatan baja lengkung akan segera di bangun dengan estimasi anggaran sebesar 400 Miliar, estapet dalam kurun waktu 4 tahun. Bener Meriah akan memiliki jembatan terpanjang ke 2 di Provinsi Aceh setelah jembatan Kilangan di Aceh Singkil. Sebuah capaian besar dari Pemerintah saat ini apabila hal itu dapat terwujud, dan sebuah dinasti wisata baru akan muncul di Kabupaten Bener Meriah. Wajah Enang Enang akan berubah total dari semula tempat yang angker dan menyeramkan selanjutnya akan menjadi sebuah tempat yang layak untuk di kunjungi. (Hamdani).

[COVID-19]

News Feed