oleh

“Aku Mencintaimu Karena Allah”

banner 970x250

Oleh: Wirda Hanum (Pegiat Forum Aceh Menulis).

Biodata:

Halo… Namaku Wirda Hanum. Kalian boleh memanggilku Wirda, atau Hanum. Asal Kota Banda Aceh, bertempat tinggal di Banda Aceh tepatnya desa Rukoh. Saat ini umurku baru beranjak 18 tahun. Aku suka menulis dari kecil dan bercita-citakan menjadi seorang penulis hebat. Masih banyak hal yang harus ku pelari mengenai dunia menulis, semoga kelak impianku tercapai. Semoga kalian senang membaca tulisanku.

“Allahu Akbar”

“Allahu Akbar”

“Allahu Akbar”

Takbir menggema. Terus-terusan, berulang-ulang, tanpa henti, bahkan tak bisa terhenti. Tak sekalipun terlihat lelah, tak ada dahaga, semangat terus membara, bendera jihad dengan megah dikibarkan. Baunya harum semerbak.

“Laa ilaha illallah”

“Laa ilaha illallah”

Tahlil mengiringi, shalawat terlanturkan dengan merdu, sangat merdu, hingga burung pun tak berani berkicau, bahkan angin pun tak berani berhembus, bunga mekar pun kembali menguncup, semut terus bersembunyi, seakan semua ikut berduka. Sunyi.

Putih, lalu kembali gelap. Terang sekejab, lalu padam. Entah apa yang terjadi, aku tak mengerti. Ragaku seolah hilang, yang ku dengar hanyalah seruan-seruan takbir, seruan-seruan tahlil, bisikan-bisikan shalawat, bahkan isak tangis kian mengganggu. Dimana aku? di medan pertempuran kah? Tolong keluarkan aku dari tempat aneh ini.

Terlambat. Tubuhku diangkat perlahan, tak ada suara untuk berteriak. Percuma. Mereka tak akan mendengar. Aku pasrah, merelakan mereka meletakkanku pada sebuah lubang. Cukup! Hentikan permainan ini! aku pun bangkit dari makamku. Iya, makam. Lubang kematian.

“Tidaaaaaaaaakkkkkkkk!!” nafasku tersenggal, dengan muka berkeringat dan tubuh bergetar. Huft! Lagi-lagi aku bermimpi kematian. Sungguh menyeramkan. Lima kali sudah mimpi itu datang. Ah! Aku tak peduli. Yang namanya mimpi, hanyalah bunga tidur, tidak lebih. Aku meyakini diriku, meski sedikit ragu.

Kring… Kring… Kring…

Nada jadul handphone daruratku berbunyi. Perasaanku tidak enak, namun segera ku mengangkat. Semoga baik-baik saja.

“Halo?”

“……………”

Tut tut…

Tak banyak waktu untuk bercakap. Firasatku benar. Insiden hebat terjadi lagi. Tak sempat ku berkemas, segera ku bergegas menuju kapal. Waktu masih menunjukkan pukul 3 dini hari, rasanya begitu malas beranjak dari ranjang, tapi sudah menjadi tanggung jawabku. Sesampai disana, segera ku berkemas, mengambil semua peralatan, menyiapkan mental, tanpa ragu, mulai membedah. Bismillah.

Kecelakaan hebat telah terjadi, awak kapal tergulung badai hingga tenggelam. Semua panik, aku berusaha menenangkan. Tim sar masih terus mencari korban yang tenggelam. Namun yang lebih darurat, salah seorang korban ada yang tertusuk besi baja di area perutnya hingga menembus badannya, dan harus segera di operasi. Celaka! Ini benar-benar darurat. Tanpa pikir panjang segera ku ambil alih. Inilah tugasku, bagi seorang dokter, keselamatan orang lain itu lebih penting dari dirinya sendiri.

Sudah hampir setahun aku bertugas di rumah sakit kapal. Eits! Ini bukan kapal biasa seperti yang kalian pikirkan, ini kapal serba guna. Sebuah kapal yang dipenuhi peralatan medis, oleh karenanya disebut ‘Rumah Sakit Kapal’. Para dokter relawan yang ditugaskan bertugas menyelamatkan insiden laut yang tiba-tiba terjadi jika laut mengamuk. Aneh memang. Tapi nyata. Tak banyak waktu untuk bercakap, pasien menunggu.

“Hey! What are you doing? Apa yang kamu lakukan? Itu bisa membunuh pasien secara tragis.” Salah seorang dokter dari Jerman kaget melihat tindakan dan cara operasiku.

“Diam!” tak banyak waktu untuk berdebat, sedetik saja terlambat, pasien tak akan terselamatkan. Meski kemungkinan 1% tingkat keberhasilannya.

“Besi baja itu tak akan bisa terlepas lagi dari tubuhya, biarkan saja ia mati dengan tenang daripada harus mati berteriak dengan rasa sakit jika kamu mencabutnya.”

“Apa katamu? Kamu ingin membiarkan dia mati? Dokter macam apa yang membiarkan pasiennya mati. Dasar psiko,” bantahku kesal mendengar perkataanya yang tak berperasaan.

“Ahahaa.. santai Bu boss. Baiklah, aku berani bertaruh. Jika kamu berhasil menyelamatkannya, aku akan menikahimu. Tapi… mustahil dia bisa terselamatkan. Hahaha.” Dokter psiko itu terus saja menggangguku. Dan kali ini, entah dia serius dengan perkataannya, atau hanya gurauan semata, aku sejenak berpikir.

Ah! Aku tak peduli. Konsentrasiku hampir buyar gara-gara dokter gila itu. Dasar pengganggu! Oke. Tenang Zara. Sedikit lagi, hampir selesai. Aku pasti bisa menyelamatkannya. Satu.. dua.. tiga.. sedikit lagi, tersisa ujung besi yang agak susah ditarik, perlahan ku tarik, dengan darah yang terus memaksa keluar, sesekali ikut terciprat ke mukaku, berusaha tetap fokus, sedikit lagi, yap. Selesai.

Hufftt!

Keringatku bercucuran. Aku melepas lelah. Sekarang waktunya menunggu. Semoga membuahkan hasil, semoga berhasil, semoga pasien terselamatkan, aku terus berdo’a sedari tadi, mengharapkan yang terbaik. Tak ada yang membantu, semua menganggap usahaku sia-sia. Tidak. Ini tak boleh terjadi. Pasien ini harus selamat.

Satu jam, dua jam, tiga jam telah berlalu. Nihil, pasien masih tak sadarkan diri. Aku menghela nafas panjang, yang lainnya juga tidak terlalu berharap, karena sedikit sekali kemungkinan pasien akan selamat. Aku pun pasrah, dan beranjak ingin pulang melepas lelah. Namun tiba-tiba…

Tit tit tit tit…

Patient Monitor, alat medis itu mulai berbunyi memanggil, mengahalangiku yang ingin melangkah pergi. Baiklah. Ku intip sekali lagi untuk memastikan.

Tidak mungkin. Jari pasien mulai bergerak. Luar biasa. Aku sangat terkejut, dan.. dan.. matanya mulai terbuka. Ya Allah, terimakasih engkau telah mendengarkan doa hamba. Air mataku mengalir haru dan segera memeluk pasien itu.

Semua tertegun, tak menyangka. Ajaib.

“Wah, bagaimana kamu melakukannya dokter Zara? Kerja bagus.” salah seorang partnerku memuji.

Aku hanya tersenyum simpul melihat orang-orang yang kian memujiku. Namun bukan pujian yang ku harapkan. Aku lega, karena aku tak menjadi seorang pembunuh.

“Exellent Zara. Sangat menakjubkan. Sepertinya kita memang berjodoh. Hahaha.” Dokter psiko itu datang menghampiriku dengan betepuk tangan memuji. Ah! Aku yakin dia tidak tulus.

“Sudahlah Felix, ini bukan waktunya untuk bercanda.” Aku mulai kesal dengan tingkahnya.

“Aku tidak bercanda Zara. Aku serius. Aku akan tunaikan janjiku. Aku akan menikahimu.” Felix menatapku serius.

“Gila kamu. Mana bisa kamu menikahi seseorang tanpa cinta dan mahar?” aku masih tak percaya.

“Oke. Aku… Aku mencintaimu. Dan akan kuberikan berapapun mahar yang kamu inginkan.” Tampaknya Felix sangat serius.

Aku sangat terkejut mendengar perkataan Felix barusan, lalu diam sejenak.

“Baik. Aku ingin, maharku adalah islammu.”

“…………”

*

2 bulan berlalu begitu cepat. Tugasku di rumah sakit kapal telah usai. Sebuah kerja keras yang tak kan ternilai harganya. Selamat tinggal. Percayalah, tempat itu tak terlalu buruk, akan ada banyak kenangan yang akan selalu ku rindukan. Juga seorang pria yang tak bertanggung jawab dengan perkataanya. Entah mengapa akhir-akhir ini aku memikirkannya. Entah kemana dia menghilang, semenjak kejadian itu, ia hilang kabar tanpa pamit. Dasar psiko, kenapa juga aku harus merindukannya.

Tahun ajaran baru telah tiba. Itu tandanya akan ada dokter relawan lagi yang akan ditugaskan di suatu tempat. Kali ini, entah tempat ‘Aneh’ macam apa lagi yang akan dipilih kepala rumah sakit. Aku penasaran.

“Baiklah. Saya akan mengumumkan siapa saja yang akan bertugas dan dimana kalian akan bertugas untuk menjadi relawan tahun ini.” Kepala rumah sakit mulai berbicara dengan penuh wibawa. Semua ricuh dibuatnya penasaran, menebak-nebak siapa dan dimana. Kali ini. Sepertinya lebih berbahaya.

“Aneela, Putri, Wahyu, dan Rayyan. Kalian akan menjadi relawan tahun ini untuk bertugas di…. PALESTINA.”

Mataku langsung melebar mendengar nama Negara itu, ruangan mulai berisik dipenuhi bisik-bisik para dokter yang masih terkejut dengan keputusan kepala rumah sakit. Empat relawan yang baru saja disebutkan namanya oleh kepala rasaya ingin menolak, memasang muka mengeluh. Tapi tak berani membantah, karena ini perintah.

Ini tidak main-main. Palestina sedang dalam masa jajahan, kapan saja kita bisa mati tertembak. Bagaimana bisa kita menyelamatkan orang lain sedang diri kita sendiri terancam? Mereka menelan ludah. Aku masih terkesima, tak peduli dengan tanda keberatan dari mereka, dengan semangat aku langsung mengacungkan tanganku.

“AKU IKUT!!” Sempurna. Kali ini suara berisik lenyap seketika. Fokus kini semua tertuju padaku. Dan yang lebih mengejutkan lagi adalah…

“AKU JUGA IKUT!” Felix tiba-tiba muncul kembali, setelah sekian lama menghilang, tanpa merasa berdosa ia langsung mengacungkan tangannya. Aku sangat terkejut, benar-benar terkejut.

“Wah wah, kompak sekali kalian, apakah kalian tidak cukup telah menjadi relawan di rumah sakit kapal? Dan sekarang ingin menjadi relawan lagi di Palestina? Sungguh menakjubkan. Baiklah kalau itu yang kalian mau, dengan senang hati saya ijinkan,” kata kepala rumah sakit sambil tersenyum lebar.

*

Palestina, adalah sebuah Negara di Timur Tengah antara Laut Tengah dan Sungai Yordan, yang beribu kota Yerusalem Timur Ramallah. Yang berpendudukan muslim-muslim hebat yang rela berjuang dan berjihad di jalan Allah meski nyawanya sendiri terancam. Mereka tak kenal takut, Allah selalu di hati mereka. Bahkan mereka berlomba-lomba untuk mati dalam keadaan syahid. Subhanallah.

Aku adalah seorang dokter, aku sudah bersumpah, aku sudah berjanji, untuk siap berkorban dan menyelamatkan siapapun yang terluka tanpa pandang bulu. Niatku tulus ingin membantu mereka, membantu jiwa-jiwa yang tak berdosa, mendengar tangis-tangis keluhan mereka, ikut bercerita bersama mereka, bahkan kalau mampu, ikut berjuang dijalan Allah.

Pesawat lepas landas. Hari ini keberangkatan kami menuju tempat bertugas. Aku tampak sangat semangat, tak sabar ingin segera sampai kesana. Beberapa jam perjalanan, akhirnya kami tiba. Ah! Rasanya begitu menyenangkan dapat menapakkan kaki di tanah ini, rasanya aku tak akan pernah kembali lagi.

Dari pertama dia muncul kembali secara tiba-tiba, sampai sekarang, aku masih belum bicara sepatah katapun padanya. Padahal ada sangat banyak pertanyaan yang ingin ku tanyakan, tapi aku canggung untuk memulai duluan. Ah! Lagi-lagi aku memikirkannya. Kali ini aku tak bisa obati perasannku sendiri, bahwa hatiku, mungkin telah jatuh cinta. Akankah ada penawarnya?

Kami pun bergegas menuju tempat penginapan. Namun tak sempat kami melangkah. Tiba-tiba…

BUMMM!!!

Terdengar suara ledakan yang menimbulkan goncangan yang sangat dahsyat. Menghacurkan bangunan dan rumah-rumah warga. Spontan semua berteriak dan lari ketakutan, kali ini suara tembakan pistol terdengar mendekat, membuat suasana semakin menakutkan. Tubuh kami mulai merinding, berharap ini hanyalah acara penyambutan. Oh tidak! Ini nyata. Peperangan dimulai, ini bukan acara penyambutan. Dengan sigap langsung ku kenakan jas dokterku, menyiapkan peralatan, lalu membawanya dan siap bertempur. Juga lima temanku yang lain, segera bergegas, mulai berpencar mencari korban yang terluka. Tak akan kami biarkan nyawa mereka terenggut begitu saja.

Tanpa takut ku tembus kepulan asap dari ledakan, mencari korban di setiap sudut bangunan dan rumah. Masya Allah! Tak kuasa lagi aku menahan tangis. Seorang bayi mungil tergeletak tak berdaya di sudut sana, penuh darah. Astaghfirullah. Segera ku berlari dan berusaha menyelamatkannya. Sungguh tega! Bahkan bayi kecil yang tak berdosa pun mereka lukai.

Dari jauh, ku lihat Felix hendak menghampiriku. Dia melambai lembut sambil tersenyum manis tanpa melihat kiri-kanan, tanpa peduli bahaya mengancam. Dasar bodoh!

“Felix hati-hati! Tembakan bisa mengenaimu kapan saja. Kita tidak sedang berada di taman bermain. Ini area pertempuran!” aku meneriaki Felix yang berjalan santai. Ah anak itu, membuatku geram saja.

Aku khawatir. Tiba-tiba perasaanku tidak enak. Aku melihat sekeliling. Astaga! Ada seseorang disana yang menodongkan pistolnya ke arah Felix. Siap menembak.

Wuussshhh.. peluru dengan manisnya terbang ke arah Felix, mencari sasaran.

“FELIX AWAAAASSS!!” spontan aku berteriak dan berlari menghalangi peluru itu agar tidak mengenai Felix.

“Aaaakkhhh” dan sekarang, peluru itu tepat mengenai dadaku. Tuhan.. rasanya sakit sekali. Aku langsung terjatuh tak berdaya dipenuhi darah. Felix sangat terkejut.

“Zaraaaaaaaaaaaa…” segera ia menangkap tubuhku yang jatuh perlahan. Kali ini ia benar-benar khawatir.

“Ya Allah, bagaimana ini? Zara bangun. Kenapa kamu melakukan hal bodoh ini ha? Bertahan Zara, aku akan segera menyelamatkanmu, seperti kau yang telah menyelamatkan beribu orang dengan tangan mungil dan hatimu yang tulus itu. Kali ini kamu juga harus selamat Zara.” Felix gemetar. Tangisnya pecah. Tak kuasa melihat orang yang disayanginya kini tak berdaya, terluka penuh darah di depan matanya, dan itu dilakukan untuk menyelamatkannya. Tuhan.. selamatkan Zara..

“Zara… maafkan aku Zara, maafkan aku selama ini tiba-tiba menghilang. Bukannya aku ingin meninggalkanmu. Aku punya alasan Zara, aku punya tujuan. Aku.. aku belajar islam. Aku ingin menjadi imam yang baik untukmu. Aku sekarang muslim Zara. Sudah kutunaikan janjiku, sudah ku tunaikan maharmu, sayang. Ku mohon bangunlah. Aku… aku mencintaimu karena Allah Zara. Izikan aku membahagiakanmu, izinkan aku menjadi imammu Zara.” Felix memeluk Zara yang masih tak sadarkan diri.

Jantungku berdetak kencang, mendengar perkataan Felix rasanya menambah kekuatan baru bagiku, aku pun perlahan membuka mata, berusaha menatap Felix untuk yang terakhir kalinya. Tatapan yang sangat dalam. Oh tuhan.. aku tak kuasa. aku menangis.

“A..Aku.. j..ju..jugaa.. mm..menn..cinn..taimu.. ka..karena.. Allah..” Terbata-bata aku berusaha berbicara. Aku mendegar semua ucapan Felix. Andaikan kalian tahu, betapa bahagianya hatiku ketika mendengar semua itu. Aku tersenyum lembut, sangat bahagia. Namun aku sudah tak kuat lagi, aku melihat seseorang berpakaian putih menjemputku. Kini waktunya Aku pergi.

“ASYHADU AN LAA ILAAHA ILLALLAH, WA ASYHADUANNA MUHAMMADAR RASULULLAH.”

“……………..”

Selamat tinggal. Aku pergi. Dan kali ini aku tidak bermimpi. Ini benar-benar nyata. Mimpiku menjadi kenyataan. Tapi aku bahagia, tak hanya hidupku yang bertekad untuk menyelamatkan orang lain, bahkan matiku pun untuk menyelamatkan orang lain. Tidak. Kali ini bukan orang lain. Ia seorang yang amat ku cintai. Mungkin inilah satu hal paling romantis yang pernah kami lakukan, pengorbanan. Sebuah pengorbanan yang mengharukan. Dan kami tak pernah menyesal. Mungkin Tuhan belum mengijinkan kami bersatu di dunia ini, tapi aku percaya, Tuhan punya rencana yang lebih baik, ia selalu punya kejutan.

Aku bahagia ia masuk islam, aku bahagia ia mencintaiku karena Allah. Aku bahagia bisa menyelamatkan banyak orang. Aku juga bahagia bisa menyelamatkan orang yang ku cintai. Sungguh, kekuatan cinta itu luar biasa. Benar-benar menakjubkan. Percayalah. Semoga kami dipertemukan kembali si surganya kelak. Amin.

Editor: Riri Isthafa Najmi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed