oleh

Aksi Resiliensi Mahasiswa Serambi Mekkah Gelar Pertukaran Budaya di tengah Pandemi

 

LANGSA, BARANEWS ACEH | Menjadi agen perubahan agaknya sudah tidak asing lagi dikalangan mahasiswa, namun menjadi agen pertukaran budaya di tengah pandemi merupakan suatu hal yang patut diacungi jempol. Sederhananya, ajang yang selama ini identik dengan kegiatan temu ramah dan tatap muka dapat disulap menjadi sebuah aktivitas virtual ciamik yang tidak mengurangi esensi dari kegiatan itu sendiri.

Sehubungan dengan hal ini, pertukaran budaya sendiri merupakan sebuah sarana baru bagi dua kebudayaan untuk turut mengenal satu sama lain. Sebagai hasil pemikiran suatu masyarakat yang telah secara turun-temurun diwariskan, budaya adalah hal yang cukup memegang andil penting dalam perkembangan suatu Negara. Selain itu, menjadi agen pertukaran budaya juga merupakan aksi nyata mahasiswa dalam mengamalkan salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi dalam bentuk pengabdian terhadap masyarakat. Singkatnya, budaya yang selama ini hidup dalam elemen dan sendi kemasyarakatan yang majemuk di Indonesia adalah sebuah peluang besar yang dapat mengantarkan pembaharuan yang positif bagi Negara dan bangsa.

Aksi resiliensi mahasiswa di tengah pandemi pada dunia pendidikan kali ini berasal dari Aceh atau yang lebih dikenal dengan julukan Serambi Mekkah. Singkatnya, pada masa kesultanan Sultan Iskandar Muda di awal abad ke-17 mengalami puncak kejayaan. Alhasil, pada masa itu agama Islam dan kebudayaannya memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat. Oleh sebab itulah, sejak saat itu Aceh dijuluki sebagai Serambi Mekkah. Tercatat sebagai provinsi yang terletak di wilayah paling barat Indonesia, Aceh sendiri memiliki keberagaman budaya dan istiadat yang amat kaya untuk diperkenalkan ke mata dunia. Oleh karenanya, adalah hal yang wajib bagi mahasiswa Aceh untuk mengamalkannya sekalipun dunia sedang dirundung wabah Covid-19. Lebih-lebih, kegiatan ini dirasa akan memberikan sebuah warna baru dalam pengalaman resiliensi mahasiswa ditengah situasi pandemi yang sedang melanda.

Dalam berbagai kajian, resiliensi sendiri diangggap sebagai pondasi atau sumber kekuatan untuk bertahan dalam situasi apapun. Halt tersebut mencakup kemampuan seorang individu dalam beradaptasi di tengah kondisi yang sulit dengan menjadikan hambatan yang ada menjadi sebuah kesempatan untuk berkembang ke arah yang lebih baik. Situasi pandemi tentu bukanlah hal yang menyenangkan dan cenderung berdampak pada turunnya kesejahteraan kehidupan, khususnya dalam dunia pendidikan. Namun, mahasiswa yang resilien akan mampu mengatasi krisis yang berlaku dengan perilaku, pikiran, dan sikap tangguh yang proaktif dalam menjadikan hal yang sulkar menjadi sebuah tantangan yang menyenangkan.

Alih-alih meratapi keadaan, mahasiswa IAIN Langsa, Aceh jurusan Tadris Bahasa Inggris memilih untuk memanfaatkan kemampuan mereka dalam berbahasa asing melalui kontribusinya  dalam sebuah program pertukaran yang berjudul Intercultural Peering Discussion Activitie. Program yang terhitung sebagai Kegiatan Pengabdian Masyarakat tersebut merupakan sebuah aktifitas diskusi yang dititik beratkan kepada pertukaran budaya antara mahasiswa IAIN Langsa, Aceh dengan mahasiswa internasional dari universitas kenamaan dunia yakni Monash University. Pada kegiatan ini sendiri, IAIN Langsa mengirim perwakilannya melaui enam mahasiswa terbaik dari program studi Tadri Bahasa Inggris yakni, Husnul Yakin, Karunia Ramadhan, Keane Mariza Ajani, Salman Al Farizi ZA, Sekar Ayu Lestari, dan Suzucy Yanelda.

Pada awal mulanya, kegiatan ini sendiri adalah salah satu bentuk keberanian dari Husnul Khatimah, M.Pd, salah seorang dosen program studi Tadris Bahasa Inggris di IAIN Langsa yang sedang gencar dalam menyuarakan Autonomous Learning dikalangan mahasiswa. Hal tersebut merupakan sebuah pendekatan pembelajaran dimana mahasiswa memegang kendali dan kekuasaan penuh dalam mengatur aktivitas pembelajarannya, lebih tepatnya pada masa pandemi dewasa ini. Hal ini pulalah yang mempelopori beliau untuk melihat sejauh mana keaktifan mahasiswa dalam mempersiapkan diri mereka guna turut aktif menyukseskan kegiatan tersebut.

Kegiatan ini sendiri telah berlangsung sejak awal pembukaannya pada tanggal 20 Maret 2021. Dengan dukungan penuh baik dari Nina Afrida, M.Pd selaku ketua program studi Tadris Bahasa Inggris IAIN Langsa, serta anggota TCC (TOEFL Clinic Corner) IAIN Langsa sebagai pihak yang juga turut ambil andil dalam mendukung terselenggaranya program ini.  Hingga saat ini, program tersebut akan terus berlangsung selama delapan pertemuan sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan. Sedangkan acara penutupannya sendiri akan dicanangkan terselenggara pada tanggal 29 Mei 2021. Meskipun hanya diselenggarakan secara virtual melalui aplikasi ZOOM Meeting, hal ini tidak mengurangi antusiasme mahasiswa untuk mempresentasikan indahnya ragam budaya yang terbentang di tanah Serambi Mekkah.

Pada kegiatan ini, mahasiswa akan diberikan kesempatan untuk mengenalkan kebudayaan yang ada berdasarkan topik yang telah ditetapkan sebelumnya. Mengusung keberagaman budaya, topik yang disuguhkan pun sangat menarik dan relevan yakni, Tradition in our Culture, Ethiquette in our Society, Interesting Facts about our Country, Do and Dont’s in our Country, Language Exchange, dan What makes Communication Barriers in our Language. Masing-masing mahasiswa dari dua kebudayaan yang berbeda ini akan membawakan kebudayaan mereka dengan menarik melalui jalinan diskusi yang juga disuguhkan secara interaktif. Dalam beberapa diskusi sebelumnya, salah seorang mahasiswa internasional Monash University asal Singapura, turut membagikan pengalaman shock culture nya dan bagaimana cara ia berasimilasi dengan kebudayaan yang ada di Australia. Tentunya diskusi menjadi lebih menarik dan hangat dengan beberapa pertanyaan yang turut diajukan selama kegiatan berlangsung.

Dengan adanya program ini, mahasiswa diharapkan dapat menjadikan sarana ini sebagai ajang self actualization atau keinginan untuk memanfaatkan segala kemampuan diri untuk mencapai sebuah tujuan. Dalam hal ini, mereka akan memiliki sudut pandang yang lebih luas dalam menyikapi perbedaan yang ada, menambah safana ilmu pengetahuan, menjalin relasi dengan mahasiswa manca Negara, serta memberikan inspirasi kepada rekan mahasiswa lain untuk juga turut ambil bagian manjadi agen pertukaran budaya dalam kegiatan-kegiatan yang positif dikemudian hari.

Sejatinya, jika disikapi dengan baik, pandemi Covid-19 sendiri akan menghadirkan pola pikir baru dikalangan mahasiswa untuk lebih aktif dan kreatif dalam menghadirkan solusi melalui sebuah pendekatan yang akademik. Pribadi mahasiswa yang tangguh akan mengantarkan mereka pada aksi-aksi resiliensi yang lain, yakni aksi untuk mengubah hambatan menjadi sebuah peluang baru yang bahkan dapat memberikan maslahat bagi sesama.

“Mahasiswa itu bukan hanya sekedar Agent of Change tetapi juga Agent of Exchange. Walau disituasi pandemi sekalipun, ini tidak akan mengurangi semangat kami dalam memperkenalkan kebudayaan yang ada di Indonesia, tentunya dengan memanfaatkan media digital dan IT” Tegas salah seorang mahasiswa yang turut berpartisipasi dalam kegiatan tersebut.

Lantas, apakankah kita memilih untuk mengikuti langkah yang diambil para mahasiswa dari Serambi Mekkah tersebut? Atau hanya memilih menjadi diam sebagai pengamat tanpa aksi dan suara dari balik layar? Pilihannya ada ditangan kita masing-masing. (RED)

Penulis : Keane Mariza Ajani, Mahasiswa IAIN Langsa

News Feed