oleh

Aksi Heroik Siswa SMP Menyelamatkan Bendera, dan Nasionalisme Kita

*Suatu teladan dalam memperingati HUT RI yang ke-76

Oleh: Januar Pagar M.Lubis

Masihkah saudara/sdri mengingat aksi heroik siswa SMP Negeri Silawan, Yohanes Gama Marshal Lau, yang memanjat Tiang bendera, setelah tali yang akan di gunakan untuk mengikat bendera terlepas dan tersangkut di ujung Tiang bendera! Hal tersebut dilakukan Yohanes Gama Marshal Lau, Siswa kelas 1 SMP N Silawan, pada upacara peringatan HUT RI yang ke-74 (17 Agustus 2018), di Pantai Motaain Desa Silawan Kecamatan Tasifeto Timur Kabupaten Belu Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang berbatasan dengan negara Timor Leste.

Sikap dan tindakan Yohanes, yang masih kelas 1 SMP, yang terpuji dan nyata, walaupun masih belia, patut di contoh oleh orang-orang Indonesia, yang sudah dewasa, yang sudah berpendidikan (S1, S2, dan S3), dan yang sudah menduduki jabatan prestisius( Pejabat negara, menteri, gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, walikota/wakil walikota, sampai camat); Dimana mereka digaji oleh negara, dan difasilitasi oleh negara.

Perbuatan bocah kelas 1 SMP Negeri Silawan ini, patut diteladani dan mengagumkan, di saat-saat situasi genting, memprihatinkan, dan mengharukan; Yohanes Gama Marshal Lau, terpaksa harus memanjat Tiang bendera, yang talinya tersangkut, sampai keatas, agar upacara penaikan bendera merah putih berlangsung dengan baik dan lancar, di daerah perbatasan RI-Timor Leste, yang dipimpin wakil bupati Belu, saat itu.

Sikap tersebut adalah tindakan yang terpuji dan teruji, yang ditunjukkan oleh anak ingusan Yohanes, dalam menghormati bendera, dan menjaga berlangsungnya upacara penaikan bendera yang khidmat dan sakral, dalam memperingati HUT RI yang ke-74.Bukankah perbuatan Yohanes itu, adalah bagian sikap nasionalisme (mencintai bangsa ini), dengan menghargai bendera merah putih!

Bila kita lihat sekarang, pemuda-pemudi yang menjadi generasi penerus bangsa, mulai dari tingkat SLTA, sampai anak kuliah, banyak yang tidak tahu Pancasila dan tidak hafal isinya, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.Dan, yang lebih miris lagi, banyak muda-mudi sekarang yang terlalu mengagumi budaya, bahasa, dan seni dari negara lain, seperti bahasa Korea.

Namun, aksi nyata Yohanes berbanding terbalik, dengan kebiasaan hidup manusia Indonesia sekarang ini, yang cenderung tidak menghargai jasa-jasa pahlawan, patriotisme pendiri bangsa ini, dan nasionalisme.

Banyak kita lihat di negeri yang berpenduduk ratusan juta ini, dari Sabang sampai Merauke, dengan berbagai macam suku, budaya, dan agama; Tidak mengerti arti nasionalisme, tindakan nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari.

Bahkan, manusia Indonesia yang tergolong berpendidikan tinggi sarjana(S1, S2, dan S3), dan yang juga punya jabatan tinggi dan prestisius(Pejabat negara), yang di gaji negara dan di fasilitasi negara, masih sanggup untuk melakukan suap dan korupsi, untuk kepentingan/keuntungan sendiri, dan kelompoknya.

Sudah banyak Pejabat di negara kita ini, yang mempertontonkan kebiasaan buruk, seperti suap, dan korupsi.Seperti mantan Ketua DPR RI, Setya Novanto; Ketua MK, Dr.Akil Muchtar, anggota MK, Dr Patrialis Akbar, SH yang mantan anggota DPR, eks menteri; eks Menteri agama RI, Said Agil Husen Al Munawar; Suryadarma Ali; Menteri pemuda dan olahraga, Dr.Andi Mallarangeng; Imam Nachrawi; eks Menteri kesehatan, dr.Siti Fadillah Supari; Menteri sosial, Juliari Batubara.

Beberapa Ketua umum partai, seperti Ketua umum Partai Demokrat, Anas Urbaningrum; Ketua umum PKS, Luthfi Hasan Ishaaq; Ketua umum PPP, M Romahurmuziy: Komjen(pol) Drs.Suyitno Lindung yang menjabat Kabareskrim Mabes Polri; dan beberapa gubernur dan walikota, dan bupati, yang juga melakukan suap, seperti contoh gubernur Riau, Rusli Zainal; gubernur Banten, Ratu Atut Chosiyah; gubernur Sumut, Syamsul Arifin,SE; Drs.Gatot Pudjo Nugroho; Walikota Medan, Abdillah, SE,Ak; Drs.Rahudman Harahap; Drs.Dzulmi Eldin, dan ada bupati Tapanuli Tengah, Bonaran Situmeang, SH.MH, dll.

Apa yang dilakukan pejabat-pejabat ini, berbanding terbalik dengan yang dilaksanakan Yohanes Gama Marshal Lau.Untuk itu mari kita mencintai negara ini(NKRI), yang dianugerahkan oleh Tuhan Yang Maha Esa, lewat pengorbanan jiwa raga para pahlawan bangsa, dalam mengusir penjajah.Mencintai negara ini (nasionalisme), lewat profesi kita, patuh kepada hukum dan perundang-undangan, menjaga lingkungan hidup, menjauhi narkoba, cinta budaya, seni Indonesia, menghormati Bendera merah putih dan lambang-lambang negara, memakai bahasa Indonesia yang benar, menjauhi tindakan kriminal, teroris, makar, dan sebagainya.Indonesiaku tangguh, indonesia tumbuh, dalam wabah Covid-19.Semoga…!!!

Penulis: Jurnalis media online Baranews.aceh

News Feed