oleh

Akhirnya Korban Laporkan Syahrul Ke Polda, Terkait Dugaan Penganiayaan

Aceh Timur, BaraNewsAceh – Angin berhembus tidak sedap melanda Aceh Timur, tersiar kabar berita yang sempat viral di media Facebook dan Media Daring/portal seminggu belakangan ini, terkait kabar perlakuan tidak senonoh oknum Wabup diduga tendang seorang Perawat yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah Sultan Abdul Azis Syah (RSUD SAAS) Peureulak bernama Ns Fani Adi Riska S. Kep hingga terlentang jatuh ke tempat tidur pasien.

Korbannya adalah Ns. Fani Adi Rizka S.Kep, seorang perawat laki-laki di RSUD Sultan Abdul Azizsyah Peureulak, Aceh Timur.

Fani Adi Rizka mendatangi Polda Aceh didampingi pengacara dan Ketua Tim Investigasi Pengurus Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Aceh Iskandar.

“Kami baru saja selesai visum di RS Bhayangkara,” kata Iskandar, saat dikonfirmasi awak media Senin sore (16/12/2019).

Saat ini, kata Iskandar, pihaknya tengah dalam proses pembuatan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) di Mapolda Aceh.

Iskandar mengungkapkan, dugaan penganiayaan dialami Fani Adi Rizka pada pada Minggu malam, 8 Desember 2019 lalu di RSUD Sultan Abdul Azizsyah Peureulak.

Saat itu, kata Iskandar, Syahrul Bin Syama’un datang ke rumah sakit dengan keluhan pernafasan atau sesak. “Beliau langsung masuk ke ruang rawat, bukannya ke IGD,” kata Iskandar.

Dengan sikap seperti itu, kata Iskandar, sebetulnya Syahrul Bin Syama’un bisa dikatakan pasien ilegal. “Seharusnya di IGD dulu. Harus ada catatan medis,” katanya.

Karena itu, kata Iskandar, jika nanti ada keluar cacatan medis dari rumah sakit, itu diduga ada pemalsuan.

Menurut Iskandar, malam itu sesungguhnya Fani Adi Rizka tidak sedang dalam dinas. Meski begitu, dia sesungguhnya adalah ketua tim perawat. Karena itu, dia tetap harus bertanggungjawab.

Itulah sebabnya, saat dia mendapat laporan dari dua orang perawat wanita di rumah sakit bahwa Syahrul Bin Syama’un masuk ke ruang rawat dengan keluhan sesak, dia langsung meluncur ke rumah sakit dari kediamannya.

“Tiba di rumah sakit, Fani mengambil satu tabung oksigen dari ruang rawat lainnya dan dibawa ke ruangan Syahrul Bin Syama’un berada,” ungkap Iskandar.

Tabung oksigen itu, kata Iskandar, lantas dipasang oleh Fani.

“Setelah itu, Fani memangsang pangaman atau kunci tabung oksigen itu supaya tidak jatuh. Pada saat dia sedang memasang itulah, Syahrul Bin Syama’un dari tempat tidur bangkit, dan menendang Fani, seperti gaya karate,” kata Iskandar.

Fani terdorong beberapa meter ke belakang, dan tabung oksigen itu sampai menimpanya.

Beruntung, kata Iskandar, dia sempat tertahan oleh tempat tidur lainnya yang berada di ruangan itu.

“Mungkin kalau tidak ada tempat tidur itu, dia mungkin terdorong hingga ke tembok,” katanya.

Sementara itu, BaraNewsAceh pernah Menghubungi Syahrul  melalui WA untuk klarifikasi terkait berita Wabup tendang Perawat,  Assalamualaikum Pak Syahrul, mohon konfirmasi terkait berita yang viral akhir akhir ini, masalah tendangan mohon jawaban terimakasih, Dari Nurdin, media BaraNewsAceh Pak Syahrul.

hanya di jawab “Alaikumsalam get” tulis Syahrul dalam WA Jum’at (13/12)

Seperti yang viral diberitakan berbagai media bahwa Kronologis singkat kejadian bermula pada hari Minggu malam tanggal 08 Desember 2019, saat korban membawa tabung oksigen ke ruang pasien yang ternyata seorang Wakil Bupati, dan memasangkan pengamanan tabung oksigen yang tersedia di dinding kamar tersebut.

Ketika sedang memasang pengamanan tersebut pasien/pelaku yang bernama Syahrul tiba tiba menendang korban/perawat mengena di perut, dan korban terlentang jatuh ke tempat tidur pasien. Tidak puas kemudian pelaku /pasien mencoba untuk menendang kembali korban seorang perawat yang sudah jatuh namun pasien /pelaku di tahan oleh pasien lain yang berada di kamar tersebut, sehingga tendangan kedua gagal.

Berita terkait perlakuan tidak senonoh seorang Wakil Bupati Aceh Timur tersebut  viral di media sosial, seperti di unggah Akun Facebook said Faisal Al fairus yang di tanggapi ratusan tanda like dan hampir seratusan komentar.

Pantauan Media BaraNewsAceh di lapangan, bahwa ketika itu terlihat Awak media Aceh Timur sudah mulai jenuh memberitakan mahkota/anggle berita kasus tersebut mengingat pemberitaan tersebut menyerempet bahaya bagi sang penulis, apalagi awak media di Aceh Timur banyak yang berprofesi Doble job pagi hari sebagai ASN siang hari berprofesi sebagai awak media.

Ditambah lagi karena korban sendiri hingga sepekan berlalu belum juga membuat laporan polisi, mengutip moto klasik seorang wartawan jaman dulu bahwa “wartawan harus berani mengungkap kebenaran walau nyawa jadi taruhan”  mungkin semangat inilah yang membuat sebagian wartawan Aceh Timur terus memberitakan kasus tersebut hingga korban akhirnya melaporkan kasus tersebut ke Polisi.

Terkesan Ketua PPNI Aceh Timur Amirudin lamban bersikap, dan sering beralasan ini itu, padahal Perawat yang berada dibawah kendali organisasi PPNI Aceh Timur yang diketuai oleh Amirudin yang notabene juga berprofesi PNS sebagai pejabat teras di Aceh Timur Amirudin yang juga menjabat Sekretaris Dishub Aceh Timur sangat tidak mungkin berani memfasilitasi korban/perawat untuk melaporkan Wabup yang notabene atasan dari Amirudin  ke pihak kepolisian.

Hingga akhirnya kasus tersebut  dipantau oleh Ketua PPNI Pusat dan langsung membentuk TIM Advokasi.

Wajar sebagian awak media berdiam diri karena takut, mengingat kondisi diduga pelaku yang tendensius terhadap kondisi tersebut, kondisi seperti ini sangat berbahaya bagi kalangan insan pers, karena korban sendiri  saat itu masih bungkam “ya kami cari aman aja tidak mau terlibat dalam berita begitu an, apalagi korban tidak berani buka mulut” ungkap salah seorang wartawan yang tidak mau disebut nama. Kamis (12/12).

Walaupun sebenarnya berita tersebut adalah fakta sebagaima diungkapkan oleh para saksi dari Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) DPK RSUD SAAS melalui Kronologis kejadian yang di tanda tangani bersama.

Belakangan Wakil Bupati Aceh Timur Syahrul Bin Syama’un membantah adanya kekerasan fisik terhadap perawat RSUD Sultan Abdul Azis Syah Peureulak Aceh Timur, Memberi Bantahan kepada awak media, Jumat, 13/12/2019.

Kalau terkait pemberitaan di media sosial dalam seminggu ini, Wabup memberi sanggahan, mempertanyakan kembali apakah ada korban yang menjadi kekerasan kontak Fisik, kalau ada kenapa tidak di visum dan melaporkan.

Kalau sebelumnya tidak ada kontak fisik terhadap perawat RSUD, Wabup hanya memberi masukan dan teguran kepada karyawan RSUD.

“Saya merasa pelayanan di RSUD tersebut kurang maksimal, dikarnakan perawat suka lalai dengan gadget nya”  tambah wabup.

 

Sebagai Wakil Bupati Syahrul Bin Syama’un Memberi Tindakan keras kepada Pihak RSUD Agar Perawat – Perawat siap siaga dalam memberi pelayanan terhadap pasien yang ingin di rawat, Meminta agar perawat menjalini komitmen dalam memberi pelayanan yang maksimal kepada pasien tampa memandang miskin atau kaya, sebab menurut beliau profesi mulia jika di lakukan ikhlas dan tulus hati.

“Perawat itukan profesi mulia, pekerjaan mereka bernilai ibadah jika dilakukan dengan ikhlas dan tulus” ujarnya. (NURDIN)

News Feed