oleh

Adaptasi Suku Jawa Dilingkungan Aceh Timur Desa Alue Geunteng

             Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki persebaran penduduk yang tidak merata, sekitar 60% dari jumlah seluruh penduduk Indonesia tinggal di pulau jawa yang luasnya hanya 6,7% dari luas seluruh daratan Indonesia. Adanya persebaran penduduk yang padat di Pulau Jawa tersebut dapat menimbulkan dampak negatif tehadap kehidupan sosial. Untuk mengatasi masalah tersebut program transmigrasi salah satu bentuk solusi yang tepat. Salah satu provinsi di pulau Sumatra yang dijadikan lokasi transmigrasi adalah di Aceh, dan para transmigrasi yang ada di Aceh sendiri sering di sebut dengan Etnis Jawa.

Kehadiran suku Jawa yang ada di Aceh khususnya di kabupaten Aceh timur ini sendiri telah ada sejak zaman kepemimpinan Sultan Iskandar Muda. Kabupaten aceh timur adalah sebuah kabupaten yang berada di sisi timur aceh, indonesia. kabupaten ini juga termasuk kabupaten kaya minyak selain aceh utara dan aceh tamiang. Alue Geunteng merupakan sebuah gampong yang terletak di kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur, provinsi Aceh, Indonesia

Keberadaan etnis Jawa sendiri di Aceh suatu kenyataan yang terjadi dan masih bertahan sampai masa kini. Maksud dari etnis Jawa di sini adalah masyarakat yang masih menjalankan adat-istiadat dan Budaya Jawa. Hal tersebut dapat di lihat dari bahasa, pandangan hidup, nilai-nilai tradisi. Sebelum masa kemerdekaan, kedatangan orang Jawa ke Aceh sebagian besar dikarenakan proses pengiriman tenaga-tenaga kerja untuk perkebunan-perkebunan yang bertempat di Aceh. Mereka bekerja diperkebunan kelapa sawit PTPN 1 Kebun Karang inong Desa Alue Geunteng yang sekarang beralih menjadi perkebunan karet pada pada tahun 2014. para tenaga-tenaga kerja yang dikirim ke Aceh tidak lagi meninggalkan Aceh dan kembali ketempat asalnya, tetapi mereka mulai menetap di Aceh.

Meskipun mereka memilih menetap di Aceh tapi mereka tidak meninggalkan kebudayaan mereka yang sangat kuat diturunkan oleh nenek moyangnya. Pada saat itu mereka belum bisa beradaptasi dengan penduduk asli Aceh, mereka hanya saling beradaptasi sesama orang jawa saja. Hal yang membuat orang-orang Jawa susah beradaptasi dengan penduduk asli Aceh, Seiring perkembangan waktu kehidupan etnis Jawa yang berada di desa alue geunteng kabupaten aceh timur telah beradaptasi dengan kehidupan dan adat istiadat suku aceh  seperti  Kegiatan sosial yang dilakukan bersama antara etnis Jawa dengan suku Aceh sering dilakukan, terutama kegitan yang dilakukan di Meunasah seperti shalat berjamaah, musyawarah bahkan gotong rotong rutin di hari minggu untuk membersihkan lingkungan tempat tinggal bersama, begitupun menjelang hari-hari besar umat Islam sperti memasuki bulan suci Rahmadhan, Idul Fitri dan idul Adha. bukan hanya dalam bersosialisasi saja namun dalam tradisi budaya aceh, seperti tarian, makanan, bahasa dan acara-acara memperingati hari besar seperti meugang.

  • Tarian

Tarian yang disukai oleh masyarakat etnis Jawa di desa alue geunteng kabupaten aceh timur. Kesukaan mereka terhadap tarian Aceh tidak hanya sebatas menyaksikannya. Akan tetapi, beberapa tarian Aceh sudah dapat ditarikan oleh generasi muda etnis Jawa, misalnya seudati. Bahkan, tarian ranup lampuan sudah menjadi tarian wajib setiap ada acara tertentu, baik acara pesta perkawinan maupun acara-acara seremoni lainnya, untuk menyambut para tamu. Tidak hanya sebatas tarian, demikian pula halnya dalam bidang musik, masyarakat etnis Jawa juga sudah menguasai ragam musik Aceh, misalnya rapai.

  • Makanan

Makanan yang dimaksud di sini mencakup kue-kue dan lauk-pauk. Kue-kue dan lauk-pauk antar masyarakat etnis Aceh dan masyarakat etnis Jawa tentu berbeda. Dalam masyarakat etnis Jawa tertentu berbeda. Dalam masyarakat etnis Aceh terdapat kue-kue seperti timphan, bhoi, dodoi, keukarah, meseukat, boh usen, kue spit, marike, dan lain-lain. Kue-kue tersebut selalu dihidangkan ketika ada acara kenduri atau hari raya, baik hari raya Idul Fitri maupun hari Raya Idul Adha. Kue-kue tersebut juga sudah disuakai oleh masyarakat etnis Jawa, bahkan mereka hidangkan setiap menyambut tamu pada acara-acara seperti disebutkan di atas. Demikian pula lauk-lauk yang terdapat dalam masyarakat etnis Aceh seperti kuah plik, asam keung, keumamah dan lain-lain juga sudah akrab dengan lidah masyarakat etnis Jawa.

  • Bahasa

Bahasa adalah kemampuan yang dimiliki manusia untuk berkomunikasi, setiap suku mempunyai bahasa yang berbeda-beda. di desa Alue Geunteng sendiri  Sebagian dari mereka masih mempertahankan bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari. Dalam pergaulan sehari-hari mereka menggunkan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dengan masyarakat Aceh dan menggunkan bahasa Jawa untuk berkomunikasi dengan sesama mereka. namun seiring berjalannya waktu sebagian suku jawa yang bertempat tinggal di desa Alue Geunteng sudah mulai bisa menggunakan bahasa aceh untuk berkomunikasi dengan masyarakat suku aceh.

  • Meugang

Meugang adalah tradisi memasak daging dan menikmatinya bersama keluarga, kerabat dan yatim piatu oleh masyarakat Aceh, Indonesia. Meugang atau Makmeugang adalah tradisi menyembelih hewan berupa kambing atau sapi dan dilaksanakan setahun tiga kali, yakni Ramadhan, Idul Adha, dan Idul Fitri. walaupun kegiatan meugang adalah tradisi masyarakat aceh akan tetapi masyarakat desa Alue Geunteng yang bermayoritas suku jawa juga ikut melaksanakan kegiatan meugang.

Saya sendiri sebagai masyarakat yang lahir dan dibesarkan di desa Alue Geunteng Kabupaten Aceh Timur sudah terbiasa dengan adat istiadat budaya aceh walaupun saya sendiri bersuku jawa. menyatukan dua suku didalam satu lingkungan bukanlah hal yang sulit jika saling memilliki sifat toleransi dan saling bersosialisasi.

 

Penulis : Muhammad Raisul Ihsan, IAIN Langsa.  

News Feed