Sosok Perempuan Hebat Dibalik Sukses Diklat Pertanian di Aceh

by


Catatan : Fathan Muhammad Taufiq *)

ACEH BESAR, BARANEWSACEH.CO – Balai Pendidikan dan Latihan Pertanian Aceh yang berlokasi di kawasan Saree, Aceh Besar, merupakan satu-satunya balai diklat pertanian yang ada di provinsi Aceh. Tidak mengherankan jika kemudian balai diklat ini menjadi tumpuan para penyuluh pertanian dari seluruh Aceh untuk mendapatkan pelayanan diklat yang mereka butuhkan. Balai diklat yang sudah berdiri lebih dari 30 tahun ini, awalnya memang bernama Balai Latihan Penyuluh Pertanian (BLPP), karena balai diklat ini memang fokus menyelenggarakan berbagai pelatihan bagi para penyuluh pertanian. Namun belakangan, setelah namanya berubah menjadi Balai Diklat Pertanian, lembaga diklat yang sejak 7 tahun lalu dipimpin oleh drh. Ahdar, MP ini, juga menyelenggarakan berbagai diklat bagi petani, selain tetap intens menjadi tempat para penyuluh mengasah kemampuan dan ketarampilan mereka melalui diklat teknis maupun fungsional.

Setiap tahunnya, balai diklat ini menyelenggarakan tidak kurang dari 50 angkatan diklat, reguler dimana setiap angkatan diikuti oleh 30 peserta yang berasal dari seluruh kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. Untuk sekali penyelenggaraan, meliputi tiga kelas dengan waktu pelatihan rata-rata 1 minggu atau 7 hari, artinya untuk menyelenggarakan semua angkatan diklat tersebut dibutuhkan waktu 17 minggu penuh. Sementara interval penyelenggaraan diklat, biasanya hanya berselang 4 -5 hari antar angkatan, berarti dalam sebulan, balai diklat ini menyeleggarakan 2 – 3 kali diklat. Untuk diklat reguler saja, waktu yang tersita untuk penyelenggaraannya 6 – 7 bulan, belum lagi diklat kerjasama yang juga sering dilaksanakan di balai dikalt ini. Balai Pelatihan Pertanian Jambi dan Pusat Pelatihan Kepemimpinan dan Sumber Daya Manusia Pertanian (PPMKP) Ciawi, adalah dua lembaga diklat lingkup Kementerian Pertanian yang sering bekerjasama dengan Balai Diklat Pertanian Aceh dalam penyelenggaraan berbagai diklat pertanian.

Untuk menyelenggarakan diklat dengan jadwal yang cukup padat tersebut, tentu butuh manajemen dan pengaturan skedul yang baik, mulai dari mengirimkan surat panggilan calon peserta ke semua kabupaten/kota, menghubungi nara sumber atau pemateri, menyusun jadwal diklat, menyediakan software dan hardware pendukung pelatihan, mengatur kamar atau asrama peserta, menyediakan akomodasi dan konsumsi bagi peserta, menyelenggarakan diklat sesuai jadwal, sampai neyusun laporan dan membuat evaluasi pelaksanaan diklat. Untuk melakukan semua itu, tentu dibutuhkan tenaga-tenaga skill yang siap bekerja all time dengan sinergi antar individu yang baik pula.

Untuk mengkoordinir semua tahapan diklat, tentunya dibutuhkan seorang manajer yang mampu mengatur semua kegiatan mulai dari persiapan, pelaksanaan sampai dengan pelaporan dan evaluasinya. Sang manajer harus mampu memanage timnya agar dapat bekerja dengan baik, sehingga pelaksanaan diklat dapat berjalan dengan baik pula. Demikian juga dengan indek kepuasan para peserta diklat, juga menjadi salah satu focus dari tim atau panitia penyelenggara diklat.

Beruntung Balai Diklat Pertanian Aceh memiliki seorang perempuan tangguh yang siap bekerja all out untuk melaksanakan seluruh rangkaian diklat yang dialokasikan dib alai diklat ini. Sosok perempuan pekerja keras ini, tidak lain adalah Tisri Budayanti, SP, MP yang sehari-hari menjabat sebagai Kepala Bagian Tata Usaha di balai diklat tersebut. Sebagai kepala bagian tata usaha, tugas Tisri tidaklah ringan, seluruh urusan ‘rumah tangga’ balai menjadi tanggung jawabnya, mulai dari urusan administrasi, perlengkapan, peñata usahaan sampai penyelenggaraan semua diklat, menjadi tanggung jawab perempuan berwajah manis penyandang gelar Magister Pertanian dari Universitas Andalas Padang ini.

Setiap kali putaran diklat dimulai, Tisri adalah sosok yang paling disibukkan dengan urusan ini, karena sesuai dengan jabatannya, dia juga berperan sebagai ketua panitia setiap kali ada penyelenggaran diklat di balai ini. Memang dia tidak bekerja sendirian, ada beberapa staf yang siap membantu pekerjaannya, namun tanggung jawab utama tetap terletak di pundaknya. Itulah sebabnya, dia nyaris tidak punya hari libur, karena begitu diklat dimulai, tidak ada istilah libur meskipun hari Sabtu dan Minggu. Namun semua itu bisa di’handle’ oleh Tisri, karena dia memang punya skill manajemen yang sangat baik, ditambah lagi pengalamannya selama puluhan tahun bertugas di tempat ini.

Meski setiap putaran diklat sangat menyita fikiran, tenaga dan waktunya, namun sosok perempuan peramah yang berpenampilan sederhana ini, seperti tidak mengenal rasa capek. Senyumnya selalu mengembang dibibirnya saat bertemu dengan peserta maupun nara sumber diklat, begitu juga dengan sapaan ramah yang selalu dilontarkannya. ‘Standar pelayanan’ seperti inilah yang membuat setiap diklat yang dia kelola selalu berjaan sukses, dan selama bertahun-tahun dia menjadi penyelenggara diklat, nyaris tidak pernah ada keluhan apalagi komplain dari peserta maupunn nara sumber. Begitu juga hubungan nya dengan rekan kerja sekantornya, semua berjalan mulus berkat manajemen dan pendekatan kekeluargaan yang dia terapkan selama ini. Meski posisinya sebagai ‘leader’ dalam setiap penyelenggaraan diklat, namun dia tidak pernah menganggap stafnya sebagai bawahan, tapi dia anggap sebagai mitra kerja, sehingga mereka dapat bersinergi dan bekerja dengan baik sesuai tugas dan fungsi mereka masing-masing.

Tak sekedar memerintahkan staf untuk bekerja, namun Tisri juga ikut bekerja bersama mereka, sehingga para staf pun bisa bekerja dengan nyaman, meski terkadang mereka harus bekerja sampai larut malam dan semua pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik. Itulah sebabnya, sampai dengan saat ini, Kepala Balai Diklat Pertanian Aceh, Ahdar, terus memberikan kepercayaan penuh kepada sosok perempuan tangguh ini untuk mengelola semua kegiatan diklat yang diselenggarakan di balai diklat ini. Karena selama puluh tahun Tisri bertugas di tempat ini, nyaris tanpa cacat sedikitpun.

Satu lagi kehebatan perempuan ini, selain piawai mengelola pelaksanaan diklat, ternyata dia juga mampu bertindak sebagai nara sumber atau pemateri diklat. Tidak aneh memang, karena pengetahuannya tentang pertanian dan penyuluhan memang memadai, karena dia juga seorang sarjana pertanian lulusan perguruan tinggi terkemuka di Aceh. Meski menjadi pemateri bukan tugas rutinnya, kerena kesibukannya menjadi penyelenggara diklat memang ‘seabreg’,  namun ketika diserahi tugas untuk mengampu materi diklat, sama sekali tidak ada kecanggungan baginya.

Diluar urusan diklat, Tisri juga dikenal sebagai seorang manajer yang baik dalam mengurusi rumah tangga instansi dimana dia bertugas. Tidak mudah mengelola balai diklat berskala provinsi seperti Balai Diklat Pertanian Aceh ini, namun Tisri adalah soso ‘bertangan dingin’ yang mampu mengembang tugas dan tanggung jawabnya dengan baik. Selain mampu memanage balai diklat tempatnya bertugas sehingga bisa terus eksis sampai saat ini, pengelolaan manajemen balai diklat yang di’komando’inya juga sudah mendapatkan pengakuan dan akreditasi dari lembaga terkait. Perolehan sertifikat ISO 9001 bagi Balai Diklat Pertanian Aceh tahun 2016 lalu, tidak dapat dilepaskan dari peran perempuan ini. Sinerginya yang sangat baik dengan pimpinan balai, juga membuat balai diklat ini, kini menjadi salah satu destinasi study banding maupun penelitian bagi para mahasiswa baik dari dalam maupun luar Aceh.

Tak hanya faham dengan seluk beluk pengelolaan balai diklat pertanian dan mengurusi berbagai kegiatan diklat, Tisri juga sosok cerdas yang mampu bersinergi dengan pimpinannya untuk melakukan terobosan-terobosan baru dai komplek balai diklat itu. Pembangunan berbagai instalasi pendukung seperti instalasi hidroponik, instalasi pengolahan limbah dan biogas, taman agro dan Farmer Agro Market yang kini berdiri di komplek balai diklat ini, juga tidak terlepas dari perannya dalam menyusun rencana pengembangan balai diklat ini. Di sela-sela kesibukannya yang ‘menggunung’, Tisri juga masih sempat untuk bercengkerama dengan pengunjung Farmer Agro Market untuk memperkenalkan produk-produk pertanian lokal yang dijual di pasar petani tersebut.

Meski kesibukannya luar biasa, namun Tisri tetaplah seorang perempuan yang tidak pernah melupkan kodratnya sebagai ibu rumah tangga. Dia tetap mampu menjadi isteri yang baik bagi suaminya dan menjadi ibu yang baik bagi putra putrinya. Waktu senggang pada saat ‘jeda’ diklat, dia manfaatkan semaksimal mungkin untuk bercengkerama bersama keluarganya. Memasak dan menyiapkan segala keperluan suami dan anak-anak juga tidak ditinggalkannya, meski dia harus pandai-pandai berbagi waktu. Keharmonisan dalam keluarganya yang tetap terjaga, adalah bukti bahwa dia juga seorang ibu rumah tangga yang mampu mempertahankan predikatnya sebagai ibu rumah tangga yang baik.

Itulah sosok perempuan tangguh yang selama ini menjadi ‘motor penggerak’ Balai Diklat Pertanian Aceh, dibalik senyum yang selau mengembang dibibirnya, sebuah tanggang jawab berat mampu dia emban dengan baik. Bekerja dengan ikhlas, itu motto hidupnya, sehingga tanggung jawab seberat apapun dapat dia jalani  tanpa beban, karena dia merasa itu memang sudah menjadi panggilan jiwanya. Hampir semua penyuluh pertanian di Aceh pernah ‘berhutang budi’ pada sosok perempuan berkulit sawo matang ini, karena berkat jasanya, mereka dapat menikmati pelayanan diklat di satu-satunya balai diklat pertanian di Aceh ini, darena mengikuti diklat adalah salah satu aktifitas wajib bagi setiap penyuluh yang terkait langsung dengan peningkatan karir mereka, Dan Tisri lah, sosok yang berada dibelakang sukses setiap diklat yang diikuti oleh para penyuluh pertanian ini. Tak dapat dinafikan lagi, dibalik kebersahajaan penampilannya, Tisri Budayanti adalah sosok perempuan hebat.

*) Pemerhati bidang pertanian dan ketahanan pangan, kontributor berita dan artikel pertanian di berbagai media cetak dan online, berdomisili di Takengon, Aceh