Sepenggal Harapan Dari Ujung Kampung Gewat Kecamatan Linge

by

Aceh Tengah Baranewsaceh.co – Sayang seribu sayang, penantian panjang tak juga berujung kepastian. Larut dalam keterpurukan, keterisoliran, dan jauh dari Hingari bingar kemajuan. Itulah Linge, sebuah kecamatan yang masih termarginalkan, dan sebuah daerah seperti di anak tirikan, dalam wilayah Kabupaten Aceh Tengah.

Mega proyek Perueren Ketapang, konon sampai menyedot uang negara mencapai puluhan milyar rupiah. Tapi apa hasil yang telah didapatkan. Masyarakat Linge tak lebih dari penonton yang berdiri tegak disisi lapangan.

APBK, APBA, APBN, DAK, DAU, HIBAH, ASFIRASI, OTSUS, dan entah apa lagi nama dari paket bantuan pemerintah untuk Kabupaten Aceh Tengah. Tapi sampai hari ini. Dari sekian banyak jenis dana tersebut. Berapa persenkah yang terpampang  di papan nama untuk sebuah proyek di kecamatan Linge…???.

Miris memang, kebijakan sebuah Rejim. Ego sektoral seolah bumbu pelengkap dari nikmatnya sebuah perseteruan politik. Tanah leluhur, Negeri Linge, tetap larut dalam keterpurukan dan keterisoliran.

Bumi merah Johan ini seakan tak tersentuh oleh kemajuan dan pembangunan. Tanah kelahiran Aman Dimot ini seperti Nasip Pahlawan ini, yang tak pernah mendapat pengakuan. Padahal kita mengaku berdarah Linge, keturunan Linge, bahkan dari jauh sengaja datang berjiarah ke makam Linge. Lalu apa yang sudah kita perbuat untuk Linge…?

Linge ku sayang, Linge Ku Malang. Negeri asal muasal yang terlupakan, Kapan dan kapan, lantang pertanyaan yang terus disuarakan, terkadang suara parau itu tak lagi didengarkan akibat telinga sudah tertutup oleh cerita Bakso Babi yang menghebohkan.

Mata tak lagi berpungsinya untuk melihat yang di kejauhan, yang selama ini harus berjalan diatas kubangan lumpur setiap hari.

Gewat adalah salah satu contoh desa yang termarginalkan, terkucilkan, dalam segala asfek pembicaraan birokrasi. Gewat adalah cermin keberhasilan dari seorang pemimpin yang setiap hari bercerita “Insha Allah”.  Gewat semakin Gawat,  karena kondisi  jalan menuju kampung ini sudah kiamat, hancur dan butuh perhatian.

Reje Ayu Kampung Gewat Sandi Suardi, lewat relis yang dikirim ke media ini Senin (27/11) Banyak
menumpahkan keluh kesahnya. kurang lebih 30 Kilometer dari Kampung Gewat, Jarak yang harus dilalui untuk bisa berdiri dan berjalan kaki diatas jalan aspal.

Kampung ini adalah catatan kelam serta gambaran kegagalan dari seorang pemimpin yang tak mampu membuat perubahan. Catatan kelam dari seorang pemimpin yang tak mampu mengayomi dan membuat trobosan.

Menyusuri Kampung Great seakan mengingatkan kita pada era bangsa ini diawal kemerdekaan. Kampung yang dihuni 33 kepala keluarga ini, sampai hari ini belum pernah menikmati yang namanya penerangan listrik.

Daerah yang dikenal sebagai penghasil kapulaga, minyak serai, kopi robusta, dan getah Pinus ini. Tetaplah menampilkan wajah alami sebagai daerah yang masih jauh dari kemajuan.

Reje Ayu Kampung Gewat berharap kepada pemkab Aceh Tengah, agar memperhatikan daerah ini dan mengeluarkan masyarakat dari segala bentuk keterisoliran.

Disisi lain Dia juga mengharapkan Pemerintah membuka terobosan jalan sebagai akses menuju kampung Arul item. Hal ini bertujuan agar kedua kampung  ini bisa dilalui sekali jalan. Disamping untuk lebih membuka ruang, tentu lebih utama mempermudah masyarakat dalam bertransaksi ekonomi, dan menghindari kebuntuan sebagai kampung mati.(HT)