oleh

“SEBIJI KOPI, BERIBU FILOSOFI” PENINGKATAN DAN PENGUATAN KELEMBAGAAN KELOMPOK PETANI KOPI DI PANTAN CUACA

Bupati Gayo Lues serta rombongan mengikuti acara ‘Workshop Hasil Pembelajaran Pengelolaan Kemitraan Kehutanan dengan Agroforestry Kopi’. Bertempat aula Kantor Camat Pantan Cuaca. Jumat, 25/1/2019.

Kegiatan ini dimulai dari laporan panitia menyampaikan bahwa kegiatan ini telah dilaksanakan sejak bulan Maret 2017 di 4 Desa. Yakni; Atu Kapur, Cane Baru, Kenyaran dan Suri Musara di Kecamatan Pantan Cuaca. Masyarakat petani telah merasakan manfaatnya sebanyak 547 petani (365 laki-laki dan 183 perempuan).

Tujuan workshop ini. Pertama, mengidentifikasi hasil pembelajaran dari kegiatan yang telah dilaksanakan. Kedua, mendapatkan masukan dari berbagai pihak yang terlibat dalam proses pembelajaran kegiatan. Ketiga, merencanakan pengelolaan hasil pembelajaran untuk perbaikan kegiatan ke depan.

Kegiatan ini juga, telah didukung penuh oleh Pemerintah Gayo Lues, mulai dari Bupati dan Satkernya, seperi; KPH V Aceh, Bappeda dan OPD terkait lainnya, Camat dan jajarannya serta kepala Desa dan Perangkatnya serta organisasi kemasyarakatan yang dalam FMUL-Forum Masyarakat Uten Leuser. Bahkan mendapat perhatian khusus Deputy Director USAID dan pihak swasta yaitu PT. PAS untuk bekerjasama dalam skema Public Private Partnership (PPP)-mitra kebersamaan umum.

Adapun jumlah kelompok ada 14. Terbagi 7 kelompok laki-laki dan 7 kelompok perempuan. Yang termasuk jumlah anggota koperasi 33 orang dan diharapkan 1 bulan ke depan telah terdaftar 200 orang lebih. Data ini disampaikan oleh Bahri ketua Koperasi Pacu Prima Gayo.

Berdasarkan informasi dari Sarijo-Direktur InProSula-Institute for Promoting Sustainable Livehood Approach (Lembaga Untuk Mempromosikan Pendekatan Kehidupan Berkelanjutan), menjelaskan bahwa “jangan ada pembukaan lahan baru dalam kawasan hutan lindung” karena tidak memiliki legalitas sertifikasi kopi berasal. Dampaknya, pemasaran kopi tingkat Internasional tidak menerima sumber kopi yang berkedudukan di kasawan hutan lindung.

Inilah pentingnya, skema kerjasama mengembangkan kolaboratif kemitraan kehutanan untuk perbaikan keberlanjutan penghidupan masyarakat di Kabupaten Gayo Lues. Khususnya di Pantan Cuaca yang telah berjalan selama ini. Umumnya, bagi kecamatan lain yang akan dikembangkan tananam kopi.

Sebagaimana disampaikan Sarijo bahwa kerjasama ini telah mencapai target hasil yang ditargetkan. Pertama, memperbaiki kualitas lahan dengan argroforestry Kopi Gayo melalui penyelenggaran berbagai bibit sebanyak 50.000, mendistribusikan bantuan sebanyak 20.000 bibit kopi, alpukat 5.000, lamtoro (penaung), memiliki kesadaran merubah pertanaman sere wangi menjadi argroforestry kopi lahan seluas 36 ha untuk usaha konservasi dan perbaikan pengolahan/hutan. Kedua, meningkatkan kualitas budidaya dan olahan kopi dari hasil penerapan Sekolah Lapang yang telah memberi nilai tambah kopi menjadi seharga Rp70.000/kg dari sebelumnya 54.000/kg green been dan menjadi harga Rp 68.000/kg dijual bubuk dari sebelumnya seharga Rp 35.000/kg dijual biji.

Dari kedua poin tersebut, dalam rangka mengawali kegiatan lanjutan dukungan USAID – LESTARI dan merespon perhatian pihak swasta tentang rencana skema PPP dan dukungan pemerintah terutama dalam wujud akses lahan kemitraan serta menyelaraskan dengan program rehabilitasi hutan dan konservasi lahan, dibutuhkan perluasan pengaruh keberhasilan dan mengelola pembelajaran dari kegiatan sebelumnya.

Kamaruzzaman, S.Hut, M.P sebagai kepala KPH V Aceh, menjelaskan bahwa terkait persolan kawasan hutan lindung yang berdampingan dengan kawasan perkebunan kopi warga masyarakat petani. Hendaknya, tidak perlu membuka lahan baru ataupun berada dalam kawasan hutan. Karena, luas lahan terbuka saat ini di Pantan Cuaca sangat luas. Yakni 1.112,4 ha yang akan ditambah lagi tahun berikutnya seluas 5.000 ha. Untuk lebih detilnya luasan lahan tersebut. “kami pihak KPH V Aceh akan memperlihatkan hutan terbuka tersebut dalam kawasan. Titik koordinat ini, seharusnya menjadi prioritas bagi masyarakat petani kopi. Dengan skema argroforestry kopi. Hutan perlu diperbaiki dengan cara menanam kembali tananam pohon sebagai lahan tutupan hutan.
Dijelaskan Kamaruzzaman, berdasarkan Qanun Aceh Nomor 7 tahun 2016 tentang kehutanan Aceh, disebutkan hutan merupakan salah satu modal kehidupan yang perlu disyukuri, dikelola dan dimanfaatkan secara optimal untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat serta dijaga kelestariannya sehingga dapat meningkatkan pembangunan secara berkelanjutan baik untuk generasi sekarang maupun generasi akan datang.
Untuk itu, perlu memahami secara detil ‘Skema Perhutanan Sosial’. Pertama, Hutan Kemasyarakatan. Kedua, Hutan Desa. Ketiga, Hutan Adat. Keempat, hutan tanaman rakyat dan kelima, hutan kemitraan.

Dari kelima skema tersebut, masyarakat petani kopi tidak perlu lagi membuka lahan kawasan hutan bila sudah memahami definisi jenis-jenis hutan tersebut. Hak dan tanggungjawab petani adalah masa depan petani kopi itu sendiri. Untuk merawat, mengelola dan memanen hasil tanaman.
Bupati Amru dalam kata sambutannya pertama sekali mengucapkan terima kasih atas berbagai pihak yang telah terlibat dalam skema kolaboratif kemitraan di 4 desa ini. Sebagai Kepala Daerah Kabupaten Gayo Lues, mendukung penuh kegiatan ini untuk terus meningkatkan dan menambah luas kebun kopi masyarakat, semampu mungkin tanpa merambah hutan lindung.

Bupati Amru sedari awal telah menyimak pemaparan dan penjelasan dari panitia dan nara sumber. Bupati menyampaikan bahwa roh pembangunan dan peningkatan ekonomi masyarakat petani kopi yang menggantung pada kawasan hutan wajib didukung sepenuhnya. Hanya perlu diperhatikan prosedur lokasi kawasan. Singkatnya, antara lahan yang tersedia dan jumlah penduduk 4 desa ini, tidak sebanding dengan luas hutannya. Jadi, tidak perlu menambah ataupun membuka lahan dalam kawasan hutan.

Sebab berdampak pada legalitas sertifikasi biji kopi tersebut. Bila dalam kawasan hutan, maka dianggap illegal dan tidak diterima dipasaran internasional sesuai peraturan Free Trade Organisation-FTO-Organisasi Perdagangan Bebas (organisasi setingkat internasional). Cara inilah, merusak harga kopi Gayo di internasional. Sejak awal, kita harus saling mengingatkan, khusus ‘pemain lapangan’ masyarakat petani kopi dan pihak terkait yang lebih paham zona-zona kawasan jenis hutan tersebut.

Bupati Amru telah menetapkan visi dan misinya dalam hal kesejahtraan melalui pengembangan kawasan kopi 2.500 ha selama lima tahun. Maka pertahunnya, ada 500 ha yang harus menjadi prioritas ditargetkan. Bila lahan di 4 desa ini saja telah melampaui luas tersebut. Jadi tidak meleset dari target 2.500 ha kawasan kopi. Persoalannya, untuk keberhasilannya, sangat diharapkan bagi kelompok tani di desa ini, untuk bersedia berbagai pengalaman bagi petani kopi dari desa lainnya, tentunya saling belajar dalam meningkatkan hasil kuantitas dan kualitas kopi.

Pada sesi tanya jawab. Ada pertanyaan dari ketua koperasi Pacu Prima Gayo, Pak Bupati hendaknya bersedia membeli kilang kopi di Kenyaran ini yang telah lama mangkrak dan masih bagus kondisinya? Informasi tentang kilang ini, dimiliki oleh pengusaha dari Takengon yang dimodali dari orang asing, harganya melampaui 1 Miliyar lebih.

Bupati menjawab pertanyaan ini, kapasitas kilang ini harus dikaji lebih mendetail karena antara jumlah biji kopi yang dibawa ke kilang ini dengan kekuatan operasional kilang ini, apakah sudah sesuai. Singkatnya, Bupati menyetujui bila dianggap telah mendesak diperlukan oleh masyarakat petani kopi. Sumber pendanaan bisa dipinjam ke Bank Aceh. Namun, masih perlu tahapan pertimbangan lainnya. Yakni, petani kopi 4 desa ini, harus mampu meningkatkan kuantitas dan kualitas kopi.
Perlu diketahu bahwa ikon Gayo Lues sebagai penghasil kopi hanya dikenal di Pantan Cuaca. Ini harus dipertahankan. Kopi Galus telah mendunia rasanya. Ikon inilah yang mencerminkan ‘Sebiji Kopi, Beribu Filosofi’
Citra kopi Galus saat minum kopi,…
serasa berada di hamparan pemandangan Gunung Lueser….
Tiada dua rasanya. Unik dan sensasional…..

Liputan: Helmi M.
Kasubbag. Pengelola Informasi, Publikasi dan Analisis
Bagian Humas Sekdakab Gayo Lues

image_pdfimage_print

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed