banner 1280x334

Sarjana Muda Beban Daerah… ?

by

Oleh : Muhammaddinsyah

Pagi tadi Sabtu (05/01/2017), saya di undang menghadiri prosesi yudisium beberapa sahabat dan sepupu yang sudah terlebih dahulu menanggalkan status mahasiswanya di salah satu kampus ternama di provinsi ini.

Para sarjana muda, Nampak senyum sumringah, bahagia, bahkan ada yang menghadirkan keluarganya. Ratusan sarjana muda yang telah lepas dari kandangnya kini siap mencerdaskan anak bangsa (Sarjana Keguruan). Dalam hati saya berkata

” kasihan pemda Bener Meriah, setelah ini akan bertambah lagi sarjana yang akan menjadi Beban Daerah.

Setelah prosesi yudisium selesai, tibalah kami ke acara yg di tunggu tunggu yaitu acara makan makan dan minum minum. Sahabatku mentraktir kami di sebuah caffe di sekitaran darussalam. Sembari tertawa dan bercerita, salah satu dari teman saya bertanya mengenai Rasionalisasi terkait honorer di Bener Meriah. Dengan tidak bersemangat saya menjawab, Belum jelas, Katanya sih di tes, tapi belum tau tanggal pastinya, siapa yang tes, bagaimana sistem penilainya, belum jelas. Yang waktu itu katanya fiktif juga belum ada kabar pasti, katanya polisi yang selidiki selebihnya tidak jelas kataku.

Kemudian munculah pro dan kontra di antara kami, sambil minum kopi, terus menyampaikan opini kami masing masing terkait kebijakan bupati Ahmadi,SE.

Salah satu teman saya kembali bertanya Apakah Bupati Berkewajiban Menciptakan Lapangan Pekerjaan Bagi Rakyatnya, Tanyanya lantang rada “okeng pora”
saya jawab sebisanya saja, pastinya saya tidak tau. Namun, bukan saja Bupati kita semua wajib menciptakan lapangan kerja.
Memang seyogyanya Pemda Bener Meriah harus mampu menciptakan lapangan kerja bagi penduduknya.

Apa lagi daerah kita Bener Meriah. Mayoritas penduduk adalah petani kopi dan penghasil palawija, namun harga hasil bumi tersebut pun tidak stabil, ingatkan beberapa minggu kebelakang ini harga palawija turun drastis. Dalam hal ini dinas perdagangan harusnya punya solusi. Kemudian kopi pun begitu, selain buah yang kurang harga juga gak naik naik. Artinya rakyat butuh alfternative lain, dan Pemda sebagai perpanjangan tangan rakyat berkewajiban memikirkan cara untuk mengatasi hal itu.

Contoh, rasionalisasi honorer yang berujung demo kemarin adalah bukti bahwa masyarakat Bener Meriah hampir kehilangan pilihan. Tidak ada tempat untuk berkerja bagi sarjana di Bener Meriah.

Jadi, Bukan Hanya Bupati, Tapi Pemda, DPRK dan kita semua Berkewajiban untuk menciptakan Lapangan Kerja. Atau setidaknya memikirkanlah sedikit bagaimana caranya agar rakyat bisa makan. Kataku.

Teman ku (yang okeng tadi) kembali berkata ” betul ya, ke oya gune e ara pemerintahen, ara bupati, ara dpr, ara dinas dinas. Ke gere kin sana male gune e oya ike gere berbuet demi kepentingan masyarakat banyak, ike oya we i puter puter, ulang tahun BM, pacu kude ke ngok ken aku pilih kam kin bupati. Aku pe pane. Hahaha. Katanya sambil ketawa..

Kemudian ku jawab ” hanati gere calon ta mane ? Enti seudzon. Positive thingking kite.

Lalu salah seorang teman (agak melow) berkata ” tidak semua orang lahir di keluarga kaya, banyak di antara kita yang dikhianati Nasib, Saya hanya tersenyum, sambil tenggelam dalam pikiran, dihantui pertanyaan. Apakah Pemda Berkewajiban Menyediakan Lapangan Kerja Bagi Rakyatnya…?