Saran dan Sumbangsih Jurnalis Terhadap Konflik Israel-Palestina

by
*Catatan khusus bagi masyarakat Agara, dan Aceh pada umumnya *Jangan sampai pikiran, energi terkuras hanya untuk membahas konflik

Kutacane Baranewsaceh.co – Jurnalis Baranewsaceh Biro Aceh Tenggara(Agara), P.Lubis sangat memperhatikan dan peduli terhadap konflik Israel-Palestina yang berada di Timur Tengah. Sejak presiden Amerika Serikat(AS/USA), Donald Trump menandatangani  kepindahan kantor Duta besar AS dari Tel Aviv ke Yerusalem, maka dunia bergejolak dengan ditandai demo dan protes di beberapa negara termasuk Indonesia yang tidak menyetujui pengakuan sepihak Donald Trump terhadap ibukota Israel.

Di media cetak dan media elektronik, bahwa konflik Israel-Palestina dikupas dan diberitakan dengan judul: “ Trump menantang dunia”, “ Bara baru Palestina” , “ Polemik Yerusalem” dan demo di depan Gedung kedutaan AS di Jakarta dengan membawa spanduk bertuliskan “ Trump Berjaya Palestina resah”. Warga Indonesia yang mayoritas menganut agama Islam(muslim) dengan rasa persaudaraan( ukhuwah Islamiah) tentu saja tidak salah melakukan demo dan protes karena kebijakan controversial presiden Donald Trump, dengan mengedepankan kedamaian, tidak melanggar hukum, provokasi, dan melanggar kepentingan dan hak asasi manusia(Ham) orang lain.

Bila kita merunut kebelakang dan catatan sejarah bahwa agama Yahudi, Kristen,dan Islam adalah agama semitik keturunan Nabi Ibrahim. Di Indonesia masih banyak orang(warga) yang belum paham bahwa agama yahudi tidak sama dengan agama Kristen(Nasrani). Perjumpaan Wartawan media ini dengan beberapa warga, bahwa mereka mengidentikkan agama Yahudi sama dengan agama Kristen(Nasrani). Perlu diketahui, bahwa agama Yahudi mengakui Yahweh(Allah) dan Nabi Ibrahim, sedangkan Kitab mereka adalah Kitab Taurat, Mazmur(zabur),dan Kitab-kitab yang lain. Tempat ibadah mereka adalah Sinagoge. Agama Kristen(Nasrani) mengakui Yahweh(Allah) dan Nabi Ibrahim(Abraham), Kitab Taurat, Mazmur(zabur) yang termasuk Perjanjian Lama(PL) di Alkitab, serta Kitab Injil. Bangsa Israel(yahudi) tidak mengakui Yesus Kristus sebagai Jurusemat(Mesias), karena mereka tidak setuju maka Ahli-ahli Taurat yahudi, Imam-imam Kepala Yahudi, Imam Besar Kayafas membuat skenario dengan bekerjasama kepada pemerintahan Romawi(Penjajah) melalui Wali negeri Pilatus yang berkuasa pada waktu itu, untuk membunuh Yesus Kristus dan menyalibkannya di Bukit Golgota.

Orang/bangsa Israel pada tahun 70 Masehi dihancurkan oleh Jenderal Titus dari kerajaan Romawi,termasuk kota Yerusalam diporak-porandakan. Orang Israel ditawan,terbuang,dan merantau(diaspora) ke beberapa daerah di luar wilayahnya. Sejarah juga mencatat bahwa bangsa ini dijajah selama 13 abad(Abad VII-XX) termasuk dijajah Turki. Hitler pernah melakukan kekejaman kepada orang Yahudi dengan memasukkan mereka ke Kamp konsentrasi Nazi, supaya orang Yahudi musnah. Tahun 1917 bangsa Inggris menguasai Israel dengan mandat  Liga Bangsa-bangsa(LBB). Sejak bangkitnya zionisme pada akhir abad XIX, mereka melakukan diplomasi,pertemuan-pertemuan,dan menentukan daerah(negara) mereka. Orang Israel satu persatu pulang ke palestina dan membangun pemukiman. Tahun 1948, orang Israel memproklamirkan kemerdekaannya. Tahun 1967 terjadi perang antara Israel dengan Palestina yang dibantu Mesir dan Yordania, kenyataannya Israel menang dan wilayahnya bertambah dengan dicaploknya dataran tinggi Golan. Bangsa Israel memang bangsa yang aneh(kontroversial) dan unik, yang menjengkelkan banyak negara. Banyak pakar yang memprediksi bahwa orang Yahudi akan punah bahasanya, Tauratnya, Sinagogenya, dan wilayahnya; Sebab mereka terbuang dan berserak, merantau ribuan tahun dinegeri orang, tetapi faktanya bisa bertahan dan eksis. Konflik Israel-Palestina selama ini didominasi oleh pencaplokan tanah dan pembangunan pemukiman, bukan agama.

Catatan ini penting sebagai masukan dan pertimbangan kepada masyarakat aceh Tenggara, khususnya,dan Aceh pada umumnya,serta WNI. Indonesia yang selama ini dikenal Islam modern, reformis,dan demokratis perlu mengedepankan hikmat dan bijaksana. Kita bersyukur dan beruntung kepada Presiden RI, Joko Widodo dan Menlu Retno Marsudi yang proaktif mengadakan diplomasi dan pertemuan dengan negara-negara OKI. Diplomasi, membantu dengan sukarela(barang,sembako,Obat-obatan),dan mendoakan bangsa Palestina adalah langkah bijak dan terpuji. Di tingkat dunia, Paus Fransiskus( pimpinan tertinggi Kristen Katolik)sudah memprotes, Presiden Perancis, Presiden Turki,dll. Di Indonesia juga,para pemuka agama yang terdiri dari Prof.Dr.Din Syamsudin, PBNU, Ketua Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia(PGI) Pdt.Dr.Henriette Lebang, Sekjen PGI, Pdt.Gomar Gultom, M.Th , Romo. Benny Susatyo, Prof. Dr. Frans Magnis Suseno (Kristen Katolik) telah sepakat untuk tidak menyetujui pengakuan sepihak Presiden Donald Trump.

Belakangan ini,masyarakat perlu mencermati kejadian-kejadian yang terjadi di Negara kita(NKRI), banjir yang melanda dibeberapa daerah, Gunung Agung yang meletus di Bali, Ketua DPR, Setya Novanto yang diduga menggelapkan anggaran e-KTP yang meresahkan warga,Aktivis yang ingin melegalkan LGBT(Lesbian, Gay, Bisex, dan Transgender), merebaknya narkoba, korupsi,radikalisme, kegiatan Tahun baru, pembangunan infrastruktur, Pilkada 171 daerah di tahun 2018,Pileg/Pilpres tahun 2019 yang harus diperhatikan dan butuh pikiran,energi, dan anggaran. Jangan-jangan,Konflik Israel-Palestina didalamnya ada agenda besar dan didesain untuk membuat goyah negara-negara yang berpenduduk Muslim,termasuk Indonesia salah satunya. Amerika Serikat dengan intelijennya yang terkenal CIA, dan Israel dengan jaringan spionasenya yang masyhur Mossad,apabila mereka bergabung akan menjadi kekauatan besar. Mari kita ingat 4 pilar kebangsaan kita yaitu, Pancasila, UUD 1945, NKRI,dan Bhinneka Tunggal  Ika. Pemerintah Indonesia harus selalu mengingat bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,dan ikut memelihara ketertiban dunia sebagaimana tercantum dalam pembukaan UUD 1945.(P.Lubis)