oleh

Salawati.SP. Mantan Penyuluh Tiga Kabupaten Kini Aktif Bicara Lingkungan

banner 300x250
image_pdfimage_print

Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Salawati.SP, Kabid Penataan, pentaatan, dan peningkatan kapasitas pada dinas Lingkungan hidup Kabupaten Bener Meriah, adalah mantan seorang penyuluh yang telah lama mendidikasikan ilmunya di bidang pertanian. Selain itu Salawati juga pernah mengabdi di tiga (3) Kabupaten bersaudara. Aceh Tenggara, Gayo Lues dan Kabupaten Bener Meriah.

Salawati pertama sekali diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) tepatnya di Kabupaten Aceh Tenggara. Selanjutnya dia di tugaskan di kecamatan Belang kejeren dan menjadi wanita pertama yang menjadi penyuluh di negeri seribu bukit tersebut. Bahkan ibu yang berparas cantik ini, juga mengaku kalau gajinya juga sempat di potong untuk membiayai pemekaran Kabupaten Gayo Lues pada saat itu.

Kini setelah sekian tahun berlalu, Salawati akhirnya bisa kembali ke tanah kelahirannya di Kabupaten Bener Meriah. Sosok cerdas dan punya loyalitas tinggi ini, kini di tugaskan oleh atasanya pada Dinas Lingkungan hidup kebersihan, dan pertamanan kabupaten Bener Meriah, sebagai  pemateri dan juga menjadi narasumber di setiap kegiatan program pemberdayaan Kampung Mandiri.

Sebagai mantan seorang penyuluh pertanian, Salawati tentu memahami betul yang namanya pencemaran lingkungan, serta sebab dan akibatnya. Menurut Salawati sebagai daerah pertanian persoalan utama terjadinya pencemaran lingkungan, akibat penggunaan pestisida pada bahan makanan sudah berlebihan. Tidak tepat waktu, tepat dosis dan tepat cara. Lalu apa hubungannya dengan program pemberdayaan kampung mandiri tanya Baranewsaceh.co saat kami temui di ruang kerjanya kantor Dinas Lingkungan Hidup Bener Meriah.

Menurut Salawati ada delapan (8) fungsi keluarga, salah satunya adalah terkait lingkungan. Keluarga kecil bahagia itu diawali dari diri dan lingkungan sekitar. Salawati menilai, lingkungan serta pola hidup masyarakat sekarang sudah jauh dari yang namanya alami dan serba herbal. Hal ini di sebabkan karena pencemaran di lingkungan sudah terjadi pada 3 hal. Udara, air dan tanah. Salawati menjelaskan penggunaan pestisida pada tanaman sekarang ini sudah sangat berlebihan dan mengkhawatirkan. Sementara masyarakat tidak pernah peduli akan resiko yang di timbulkan dan pencemaran.

Untuk itu dalam setiap kesempatan turun ke masyarakat Salawati selalu mengajak masyarakat kampung untuk menjaga lingkungan dengan budi daya tanaman di pekarangan rumah sebagai Apotik hidup, warung hidup, bank hidup dan lumbung hidup.

Salawati menambahkan Apotik hidup adalah tanaman yang bisa di gunakan sebagai obat, seperti jahe dan serai, warung hidup segala jenis sayuran, bank hidup tumbuhan umbian yang non pestisida yang dapat di konsumsi sebagai selingan nasi seperti jagung dan umbi. Sementara Lumbung hidup merupakan hasil tanaman yang sudah melebihi untuk di jual.

Hal ini bertujuan agar pola hidup masyarakat kembali pada pola organic dan herbal, serta dapat mengurangi resiko bahan kimia. Maka dengan sendirinya lingkungan juga terpelihara dari limbah bahan kimia. Karena apabila lingkungan rusak maka kaum perempuanlah yang paling menderita, karena menurut Salawati perempuan adalah pelaku dalam asfek lingkungan. Jelasnya, menutup perbincangan dengan media Media Baranewsaceh.co Senin 01 Oktober 2018. (DN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed