oleh

Riwayat Perjalan Sayuti Malik Menuju Legislatif


SAYUTI MALIK lahir dan besar di Kota Cane, Lawe Dua 30 Maret 1973. Dinamika pendidikan yang ditempuhnya membentuk karakternya sebagai sosok yang membumikan cara berpikir dan realitas masyarakat Aceh pada umumnya. Sejak sekolah di Pesantren Paya Bundong, Medan. Aktif beorganisasi dan meneruskan sekolah di Fakultas Pertanian Unsyah pun masih sibuk berorganisai yang mengkristal pada perlawanan rejim Orde Baru untuk menuntut dihapuskan Daerah Operasi Militer- DOM Aceh sejak 1989 – 1998. Bergandengan tangan bersama aktivis Unsyah membuatnya memilih berjuang secara diplomasi melalui Partai Aceh, sejak tahun 2007.

Kini Sayuti bergegas kembali untuk memperjuangan hak-hak dasar keistimewaan Aceh dengan mewujudkan perdamaian MOU HELSENKI. Dengan cara, membuka akses lapangan kerja bagi anak negeri Aceh melalui entreprener agrobisnis pertanian yang berbasis lingkungan.

PUTRA dari pasangan Sabaruddin (alm)  $ Ratimah Simatupang ini lahir dan dibesarkan di Aceh Tenggara , tepatnya di desa lawe dua kecamatan Bukit Tusam kabupaten Aceh Tenggara.  Setelah menimba pendidikan SD dan SMP di Aceh Tenggara pada tahun 1989 beliau hijrah ke Sumatera Utara untuk menimba ilmu di Pesantren Paya Bundung selama 5 Thn.

Mengakhiri studinya di Paya Bundung thn 1994 setelah memperoleh ijazah KMI(kulliyatul Muallimin Islamiya)  dan Aliah beliau memberanikan diri untuk mengikuti UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri) ,  walaupun pada saat itu mustahil rasanya seorang alumni pesantren bisa menembus jalur UMPTN krn memang pelajaran umum sangat minim muatannya dalam kirikulum pesantren,  akan tetapi bukan sayuti namanya kalau tidak berani menerima tantangan.Dengan semangat yang membara sayuti muda mendaftarkan diri di ajang seleksi mahasiswa dengan memilih 2 pilihan jurusan yaitu Kedokteran Umum USU Medan dan Pertanian UNSYIAH Banda Aceh, Alhamdulillah setelah seleksi beliau di terima pada pilihan kedua yaitu Universitas Syiah Kuala Banda Aceh Fakultas Pertanian.

Menjadi mahasiswa di kampus negeri dengan konsentrasi bidang exsakta yang menyita banyak waktu tidak menyurutkan niatnya untuk bisa mengabdikan ilmu yang sudah di galinya saat di pesantren dulu, hingga pada tahun 1995 beliau diterima sebagai tenaga pengajar di pesantren Moderem Darul Ulum Jambo Tape Banda Aceh.

Era reformasi yang dimulai dengan tumbangnya rezim orde baru tidak terlepas peran serta sayuti sebagai aktifis angkatan 98 yang terus menyuarakan agar di cabutnya Daerah Operasi Militer dari bumi Aceh, bersama dua aktifis 98 lainya yaitu Iqbal Selian dan Aliman Selian yang sama-sama berasal dari Aceh Tenggara bisa mengisi keterwakilan masyarakat Aceh Tenggara hingga tidak dianggap masyarakat yang apatis dengan penderitaan rakyat Aceh.Tak jarang beliau harus berurusan  dengan aparat keamanan demi membela nasib para pengungsi saat terjadi pengungsian besar-besaran di era 1999-2000.

Saat bencana tsunami terjadi pada 26 Desember 2004 juga mengalami seperti yang dialami masyarakat aceh pada umumnya,  hanya saja beliau berhasil menyelamatkan diri dengan menaiki tempat yang lebih tinggi di rumh tetangga sementara rumah beliau sendiri hanyut terbawa air tsunami. Sayuti beserta keluarga kecilnya terpaksa harus merasakan tinggal di pengungsian beberapa saat karena tempat tinggalnya hanya tinggal fondasinya saja.

Mobilitas bantuan datang bertruck-truck ke aceh baik dari dalam negeri maupun dari manca negara beberapa saat pasca bencana tsunami. Karena memiliki kemampuan bahasa inggris dan arab yang  memadai sebagai buah dari nyantri selama 5 tahun di pesantren moderen, tentu tidak sulit bagi sayuti untuk berkomunikasi dengan masyarakat internasional yang waktu itu sedang banyak  datang ke aceh baik sebagai pengantar bantuan atau sebagai penyelamat korban bencana. Hingga tepat 1 bulan setelah tsunami sayuti di terima kerja sebagai office manager pada sebuah lembaga penelitian kesehatan milik angkatan laut Amerika (US-Namru 2).

Setahun di lembaga ini karena project berakhir maka kembali harus mencari peluang baru di lembaga lain. Tak ada keraguan sama sekali akan menjadi pengangguran pasca berakhirnya program karena sayuti sangat yakin bahwa ia memiliki kapasitas untuk bekerja di lembaga lain. 3 bulan mencari akhirnya sayuti di terima di International Organisation for Migration sebuah lembaga bantuan pengungsi yang bermarkas di Jenewa-Swiss, pada lembaga ini sayuti di percaya sebagai staf program dan koordinator lapangan untuk wilayah kerja Aceh Tengah, Bener Meriah, Aceh Tenggara dan Gayo Lues.

Sudah menjadi hal yang lumrah bekerja di NGO harus siap gonta ganti lembaga, setelah 3 tahun 3 bulan di lembaga ini sayuti diterima di USAID sebuah lembaga penyandang dana dari Amerika, di sini beliau dipercaya sebagai staf program pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Tak hanya di level Aceh sayuti juga harus berani bersaing pada level nasional, demi mendukung karir sang istri yang merupakan dosen di UIN Arraniry Banda Aceh yang saat itu harus melanjutkan jenjang masternya di UIN Syarif Hidayatullah, sayuti tanpa ragu sama sekali memboyong keluarganya untuk pindah dan menetap di jakarta dengan keyakinan beliau akan bisa mencari kerja di ibu kota.  Benar saja seperti keyakinannya 4 bulan sebelum sang istri mulai kuliah di UIN,  sayuti sudah terlebih dahulu di terima kerja di Bina Swadaya Konsultant Jakarta sbg program manager untuk pemberdayaan pemulung di 5 provinsi termasuk Aceh dan Bali.

Jarak tak menghalangi sayuti berkiprah untuk daerahnya, ini ia buktikan dengan tetap memasukkan Aceh dalam program yang dia kendalikan dari jakarta, termasuk jenjang masternya di unsyiah juga dia rampungkan saat berdomisili di Jakarta.

18 belas bulan menetap dan mencari hidup dan penghidupan di Jakarta adalah waktu yg cukup bagi sayuti untuk menyimpulkan bahwa hidup di ibu kota tidak seindah yg kebanyakan orang bayangkan,  beliau tidak menikmati,  hingga diambil keputusan untuk kembali ke Aceh dan menetap sembari mencari usaha apa yang bisa dilakuka tanpa harus terpisah dari keluarga.

Ada yang membekas di benak beliau saat tinggal di jakarta, Yaitu kunjungan ke Jonggol Farm untuk melihat peternakan kambing perah milik bapak Iqbal. hal ini menginspirasi sayuti untuk mencoba usaha serupa di Aceh.Bermodalkan kemauan keras dan ketekunan,  sayuti berhasil membangun peternakan kambing perah di Aceh yang di beri nama UD PUNA Farm, usaha ini telah mengantarkan sayuti dipercaya sebagai dosen kewira Usahaan di Unsyiah dan UIN yang telah dia lakoni sejak 3 tahun yang lalu.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed