oleh

REKAM JEJAK SAYUTI MALIK SOSOK MANUSIA BIJAKSANA

 

Liputan : Andre

Kita semua tahu bahwa kebijaksanaan tidak bisa dipelajari hanya dari buku ataupun bangku sekolah. Standarnya, kebijaksanaan itu bagaimana seseorang belajar untuk membuat penilaian yang masuk akal dan benar. Pembuktiannya ‘bukti bukan ucapan, ataupun fakta bukan kepalsuan’. Singkatnya, banyak orang pandai bercakap tapi tak ada bukti.

Sayuti Malik telah membuktikan kerjanya di berbagai sektor bukan sekedar ucapan belaka. Oleh karena itu, alasan penting Sayuti Malik berusaha menjadi Calon Legislatif DPRA menjadi sosok manusia bijaksana.

Sayuti Malik beranjak dari kesadaran kita sebagai manusia yang hidup di tengah masyarakat plural adalah suatu keniscayaan. Sebab itu, berbuat baik sama halnya beribadah yang kita anut bahwa kerja kita adalah tindakan kita yang mencerminkan ibadah kita sepanjang hari dan selama hayat-nyawa di kandung badan.
Ciri-ciri bijaksana itu adalah adanya kebenaran yang disetujui bersama dan membawa kita ke moral yang lebih baik. Jujur antara tindakan dan ucapan, ataupun tidak melakukan yang menyimpang dan tidak mengambil hak orang lain yang bukan hak kita.

Sayuti Malik mengemukakan pernyataan ini di depan masyarakat tani Kopi di Godang, Kecamatan Pantan Cuaca, Masyarakat tani di Lawe Dua, Kuta Cane dan masyarakat Pining serta bagi mahasiswa Jurusan Tarbiayah, IAIN ARRANIRY BANDA ACEH dalam berbagai kesempatan.

Sayuti Malik mengungkapkan ‘manusia bijaksana’ merupakan gejala masa depan yang harus dicapai untuk masa depan suatu bangsa; baik di tataran keluarga, masyarakat, organisasi, pemuda/i, wartawan, partai politik dsb.

Gejala masa depan yang dimaksud Sayuti Malik bahwa perkembangan jaman sekarang dan akan datang menuntut setiap orang harus bijak terhadap dirinya pribadi karena hampir semua pekerjaan ditopang dengan teknologi digital. Segala hal ada di genggaman tangan yakni telepon pintar salah satunya dan perangkat lunak program digital dalam berbagai mode.

Sebab itu, segala upaya aktivitas masyarakat dikendalikan oleh tekonologi informasi. Inilah problematis semakin hari semakin tergerus mental masyarakat yang mulai pudar untuk menjadi bijaksana. Contohnya, lambatnya merespon perkembangan jaman dengan pemanfaat sumberdaya alam dan sumber daya manusia. Sehingga, tiap masyarakat berserakan dalam berbagai kepentingan untuk mencapai kesejahtraannya dalam aktivitas ekonomi, budaya dan politik.
‘sesungguhnya perkembangan tekonologi informasi itu membuat kita semakin cepat maju dalam berbagai sektor. Namun, sebaliknya semakin mundur karena tidak memanfaatkan kaedah penggunaan tekonologi informasi itu dengan layak yang diikuti pengetahuan yang bijak yakni baik bagi kita pribadi maupun orang lain. Tanpa membedakan agama, suku, budaya dan bahasa’. Inilah mencerminkan pribadi yang bijaksana.

Sayuti Malik melihat persoalan di atas, secara jelas mengekpresikan bagaimana cara meningkatkan budi manusia ini agar tetap setara dengan akalnya. Pembuktian ini dari pengalamannya sebagai koordinator manajer di beberapa NGO sejak masa pemulihan bencana alam Tsunami 2005 sampai dengan tahun 2010. Selain itu, diterapkan juga bagi mahasiswa IAIN ARRANIRY sebagai dosen enterprenuer untuk menguji-coba kemandirian mahasiswa agar menghasilkan siap saji makanan yang bernilai ekonomis. Tujuannya, kelak setelah mencapai gelar Sarjana maka Sarjana itu bisa mandiri untuk mengembangkan keterampilannya di masyarakat.

Pengalaman inilah yang ingin diterapkan oleh Sayuti Malik bagi siapa saja kelak mewujudkan ‘manusia bijaksana’ adalah sikap mental untuk menjadikan pengalaman kebenaran.

Sayuti Malik sadar betul bahwa dari pengetahuan untuk menjadikan bijaksana. Namun, tidak ingin berkutat pada sebatas dalam buku saja ataupun hanya di atas kertas saja bijaksana itu. Ada beberapa ciri-ciri untuk mewujudkan ‘manusia bijaksana’.

Pertama, kebenaran yang disetujui bersama yang membawa kita arah moral yang lebih baik. Kedua, kompetensi seseorang yang perlu dikembangkan bila ingin lebih bijaksana. Ketiga, kebaikan seperti layaknya orang idealis dan mempraktikannya secara nyata. Keempat, menghindari keputusan pribadi yang tidak mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas dan masa depan membuat kita gagal.

Kelima, menyatakan kebaikan adalah sikap untuk hidup lebih harmonis dengan masyarakat, diterima dan berkontribusi ke masyarakat dan masa depan. Keenam, untuk menjadi bijaksana, kita tak perlu mengelak, marah, atau bahkan mengabaikan kenyataan pahit di lingkungan. Kita mesti belajar menerima kenyataan. Ketujuh, tiap ide harus dipraktikkan dan dilakukan berdasarkan standar baik yang optimal. Kedelapan, kita harus saling belajar untuk meningkatkan kebijaksanaan kita secara mandiri.

Dari delapan poin itu, Sayuti Malik ingin mengejar mimpi masyarakat menjadi kenyataan dengan cara untuk membuat ide nyata diterima dan menggugah orang lain bertindak. Disinilah kita belajar dari hal-hal berkualitas. Yang jelas Sayuti Malik tidak ingin menjadi orang bijaksana sendiri. Karena itu, Sayuti Malik ingin menghargai pendapat dan kebijaksanaan orang lain.
Dengan ini pula, Sayuti Malik ingin menyampaikan Visi dan Misinya CALEG DPRA PA dapil 8. Nomer urut 5. Visi : “Terwujudnya Perekonomian masyarakat yang stabil melalui pengembangan berbagai potensi unggulan daerah. Terutama sektor peternakan dan pertanian dengan mengoptimalkan peran serta pemuda/i setempat.

Misi: 1. Generasi muda yang cerdas, mandiri, berkepribadian santun, dan berakhlak mulia.

2. Daerah yang memiliki pertumbuhan ekonomi baik yang dihasilkan dari kenaikan nilai tambah produk lokal.

image_pdfimage_print

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed