oleh

Refleksi 13 Tahun Perdamaian Aceh

banner 300x250
image_pdfimage_print

Ditulils oleh : Adam Zainal

Tabir malam menjadi bukti, bisingnya siang menjadi saksi 13 (tiga belas) tahun Nanggroe Aceh ini damai, Pasca penandatanganan Nota kesepahaman antara GAM dengan RI pada 17 Agustus 2005 silam di Helsinky, Firlandia. 15 Agustus bukan 17 Agustus.

Di meja perundingan Helsinky, kesepakatan kedua belah pihak telah melahairkan Nota kesepahaman Memorandum Of Understanding atau yang lebih dikenal dengan sebutan MOU Helsinky yang menyembutkan keistimewaan Aceh bisa berdiri sendiri (Self Government) yang artinya menata pemerintahan sendiri.

Selamat tiga belas tahun perdamaian Aceh, dan selamat dengan janji-janji yang tertuang dalam poin-poin MOU Helsinky yang sudah terealisasi ataupun yang belum terealisasi sama sekali.

Pagi itu (15 Agustus 2005), Rakyat Aceh menantikan sebuah kebahagiaan yang dipadukan dengan rasa kekhawatiran dan kegelisahan. Begitu mendapat kabar bahwa GAM dan RI telah berdamai, tentu sebagian Rakyat Aceh menyambut baik akan perdamaian itu. Betapa tidak, konflik bersenjata yang telah membara selama 30-an tahun lamanya, berakhir juga. Namun dibalik berita perdamaian antara kedua belah pihak tersebut, ternyata menyisakan kekhawatiran yang tidak dapat dihindarkan lagi.

Kini, usia perdamaian Aceh sudah memasuki tahap dasawarsa. 13 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mengobati luka lara truama, dilema dan keterpurukan serta ketertinggalan disemua lini, termasuk sektor ekonomi, kesejahteraan, Pendidikan dan kesehatan, serta sektor Infrastuktur dan pembangun materil maupun moril, serta keadilan sosial bagi Rakyat Aceh pada umumnya.

Refleksi 13 tahun perdamaian Aceh, kita bisa melihat dan bisa menilai sendiri capaian-capaian apa saja yang sudah dilakukan oleh pemerintah Aceh dan apa-apa saja yang belum dicapai oleh pemerintah Aceh pada kurun waktu 13 tahun belakangan ini. Refleksi ini perlu di edukasi kembali, mengingat generasi baru Aceh tidak semuanya peka dan mengerti dengan sejarah perdamaian ini.

Pasca perdamaian Aceh, kita hidup seperti dalam mimpi dan angan-angan yang besar, bermakna kita hidup dalam aspek penuh kepura-puraan. Buktinya, sampai dengan hari ini masih banyak butir-butir MOU yang belum di Implementasikan dan jauh dari kata terealisasi. Mengingat masa dan waktu yang terhitung lama (13 tahun), Pemerintah belum mampu membawa perubahan baru untuk Aceh dalam sektor Pembangunan, Ekonomi, Kesejahteraan dan sebagainya.

Kemudian, dalam butir-butir MOU Helsinky, Aceh punya hak mengatur diri sendiri (Self Goverment) serta memikili kewenangan dan keistimewaan. Namun itu hanya tertulis dibuku hijau perdamaian (buku MOU), akan tetapi semua itu sama sekali tidak terealisasi dan terwujud dengan semestinya sampai dengan saat ini.

Disamping itu, kita berharap pemerintah Aceh, dan semua elemen Rakyat Aceh untuk lebih fokus menjalankan Roda pemerintahan Aceh sesuai dengan kewenangan-kewenangan sebagaimana yang tersebut didalam butir-butir perdamaian Helsinky. Hal ini juga bermanfaat sebagai pemeliharaan terhadap kemurnian sejarah tentang perjuangan panjang rakyat Aceh.

Pada peringatan perdamaian Aceh tahun ini kita berharap semoga akan ada pihak-pihak yang bersedia untuk memberikan edukasi terhadap kaum muda Aceh, supaya generasi Aceh kedepan lebih Melek terhadapa sejarah dan butir-butir MOU Helsinky, Guna untuk sama-sama mencari jalan keluar supaya janji-janji yang telah disepakati bersama antara GAM-RI tersebut segera terealisasi sebagaimana mestinya.

Sejauh ini, semua elemen Rakyat Aceh sudah mampu merawat dan menjaga perdamaian Aceh ini dengan penuh kedamaian dan keikhlasan. Namun, Harapan kita bersama sebagai Rakyat Aceh pada umumnya hanya mengharapkan supaya butir-butir MOU Helsinky tersebut segera terealisasi.

“SalamDamai Aceh Ku”
Penulis : Adam Zainal alias Kinet BE

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed