oleh

Rakyat Tak Sudi Ada Pemimpin Curang

Ilustrasi/net

Penulis : Jacob Ereste 

Rasa cinta kita pada bangsa dan negara dengan tidsk membiarkan tata kelola negara maupun praktek pemerintahan semskin buruk dan mengsbaikan amanah rakyat. Oleh karena itu setiap orang harus siap menjaganya agar tetap dapat berlangsung serta berjalan dengan lebih baik dari cara yang dilakukan sebelumnya. Karena itu praktek pelsjsanaan Pemilihan Umum ,(Pemilu) ysng dilakukan dengan cara curang tidak boleh dibiarkan sebab bukan saja akan merusak perjalanan sejarah bangsa Indonesia membangun budaya demokrasi, tapi juga bisa menjadi contoh yang kelak ajan dilskuksn juga oleh generasi berikutnya di Indonesia.

Budaya demokrasi yang dibangun dengan cara curang pasti akan menghasilkan pemimpin yang tidak bisa dipercaya untuk menjalan amanah rakyat. Apalagi hendak diharap menghantar segenap warga bangsa menjadi masyarakat yang adil dan makmur untuk dapat menikmati kesejahteraan secara aman dan nyaman dalam bentuk lahir maupun bathin.

Pemilu yang dilakukan dengan curang hanya akan melahirkan pemimpin yang tidak amanah, egoistik, hanya akan selalu mengutamakan kepentingan sendiri serta kepentingan daru kelompoknya saja yang telah ikut berjasa untuk menensngkan perebutan kekuasaan yang menghalalkan segala caranya itu.

Itulsh sebabnya semua warga bangsa Indonesia yang mencintai nrgeri ini harus bertanggung jawab melakukan pencegahan atau penyelamatan masa depan bangsa dan negara kita tidak sampai terpuruk dan ambruk jatuh tanpa masa kepastian masa depan yang lebih baik dan lebih beradab

Siapapun pelaku kecurangan dalam pelaksanaan Pemilu yang akan menghasilkan pemimpin banga dan sejumlah pejabat publik yang kelak hendak menentukan arah serta kebijakan dari seluruh gerak serta model dari pembangunan fisik maupun non fisik untuk bangsa dan negara Indonesia tidak bisa dibiarkan berprilaku curang. Karena apapun bentuk dari pembangunan yang hendak kita lakukan harus ditegakkan dengan pondasi yang kokoh tidak cuma dalam arti material belaka, tetapi juga dalam pengertian moral ,(spiritual) dan etika (budaya) yang bersih dan terpuji bahkan bernilai luhur. Karena hanya dengan begitu nilai-nilai kemanusiaan seperti yang dimaksud dari sila-sila faksafah bangsa Indonesia mulai dari sila kemanusiaan yang adil dan beradab itu wajib mengalir dalam detak jantung dan darah perjuangan segenap warga bangsa Indonesia yang damba pada masa depan yang lebik baik dan lebih beradab.

Kecuali itu, perilaku jahat dengan berbuat curang untuk menenangkan Pemilu jelas tidak Pancasilais. Sebab perilaku curang itu juga bertentangan dengan sila-sila Pancasila lainnya.

Oleh karena itu perasaan dengan mengatakan diri paling Pancasilais sesungguhnya tidak patut, karena pencitraan serupa itu harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata, bukan sekedar gaya atau cuma pencitraan belaka.

Begitulah perilaku curang dalam Pemilu harus kita hentikan dan patut diproses secara hukum hingga tuntas. Jika tidak rakyat akan marah. Sebab suara dari rakyat yang sah itu telah dijadikan bancaan –ditipu– dengan cara yang curang. Dan jelas rakyat tidak sudi mempunyai sosok pemimpin ysng culas dan curang.

Rakyat tak sudi pada pemimpin yang berperilaku curang jekss ditandai oleh munculnya bsnyak protes pada insiden Pemilu kita di Malaysia dan sejumlah tempat lainnya. Begitu juga dengan temuan 400 ribu amplop yang mau ditebar dan meracuni moral anak bangsa kita. Jadi tampilnya Gerakan Emak-emak Bersams Rakyat (Gebrak) dari Rumah Kedaulatan Rakyat Jakarta, wajar dan patut mendapat perhatian serta dukungan dari segenap elemen pergerakan.

Banten, 21 April 2019

News Feed