banner 1280x334

Proyek Dinas PUPR di Desa Kedataran Gabungan Diduga Tumpang – Tindih

by
*Proyek ini sudah pernah dikerjakan desa Kedataran Gabungan *Dihimbau Kepada Dinas pemberdayaan masyarakat dan kute,Dinas PUPR,dan Inspektorat turun ke Lokasi

 Kutacane Baranewsaceh.co  – Proyek pembangunan jalan Kedataran-Lumban Sinaga yang dikerjakan Dinas pekerjaan umum dan penataan ruang(PUPR) Kabupaten Aceh Tenggara(Agara) yang berada di desa Kedataran Gabungan Kecamatan Lawe Sigalagala Kabupaten Aceh Tenggara, diduga tumpang-tindih. Pasalnya proyek pembukaan jalan dan penyiraman pasir dan batu(sirtu) ini, sudah dikerjakan desa Kedataran Gabungan pada tahun 2016.

Pantauan Jurnalis Baranews.Aceh di lapangan pada hari Kamis(21/12) pukul 14.00 Wib, bahwa beberapa orang pekerja melakukan kegiatan penyelesaian Gorong-gorong dan Tembok penahan tanah(TPT) disitu. Amatan Wartawan media ini di sekitar lokasi,bahwa lebar jalan lebih luas dari lebar semula,dan adanya Gorong-gorong dan TPT serta tanah lebih padat.

Adapun Plang  proyek pembangunan  pekerjaan Jalan Kedataran Gabungan-Lumban Sinaga, juga ditengarai bermasalah karena kenyataan di lapangan,bahwa pembangunan jalan itu menghubungkan desa Kedataran Gabungan dengan desa Lawe Loning Sepakat,sedangkan  Lumban Sinaga berada di desa Lawe Loning I Kecamatan Lawe Sigalagala. Salah seorang warga yang berinisial (RS) mengatakan bahwa proyek pembangunan Jalan Kedataran Gabungan-Lumban Sinaga sangat disayangkan,karena akan merugikan desa(kute) Kedataran Gabungan dengan hilangnya proyek desa tahun 2016,dan menguntungkan bagi Dinas pekerjaan umum dan penataan ruang(PUPR) Kabupaten Aceh Tenggara.

Konfirmasi Awak media ini kepada Kepala desa(pengulu kute) Kedataran Gabungan,Bindu Sihite melalui ponselnya no.0823 7092 0xxx berupa  fotocopy  yang didapat dari Kantor Camat Lawe Sigalagala,tidak berfungsi. Juga,Salah seorang warga yang tinggal di Dusun Lumban Sianturi menyatakan keluhan dan uneg-unegnya khusus kepada Jurnalis Baranews.Aceh,bahwa proyek Jalan Lumban Sinaga-Lumban Sianturi terkesan asal-asalan hanya pengikisan tanah dan penyiraman sirtu,padahal menurut layanan pengadaan secara elektronik(LPSE) Aceh Tenggara proyek tersebut dianggarkan RP.1,73 milyar. Dimohon kepada pihak berwenang untuk turun kelapangan dan meninjau ulang proyek tersebut.(P.Lubis)