oleh

Perjalanan Panjang Buku Teka Teki Silang Bahasa Gayo Karya Kamarudin


Catatan : Fathan Muhammad Taufiq

Sekitar dua tahun yang lalu, saya kedatangan seorang anak muda yang konon berasal dari wilayah pedalaman kecamatan Linge di kabupaten Aceh Tengah. Kamarudin, nama anak muda ini, dia seorang lulusan SMA yang memilih menjadi petani ketimbang berangan jadi ‘orang’ lewat jalur akdemik di perguruan tinggi.

Awalnya saya mengira dia mau curhat atau menyampaikan permasalahan tentang usaha tani yang dia lakukan selama ini, karena sebagai seorang penyuluh pertanian, saya sudah terbiasa menerima tamu petani seperti dia. Tapi dugaan saya meleset, dia sama sekali tidak bicara tentang dunia pertanian yang dia geluti, selain menyampaikan beberapa komoditi yang dia budidayakan selama ini. Ternyata dia mendatangi saya untuk meminta pendapat atau ‘menilai’ satu karya yang sebelumnya tidak saya duga mapu dihasilkan oleh seorang petani yang tinggal jauh di pelosok desa. Karena dia tau saya juga seorang penulis yang kebetulan sudah pernah menerbitkan buku, dia ingin curhat tentang buku karyanya.

Bukan buku biasa ternyata, sebuah buku teka teki silang yang sekilas mirip dengan buku teka teki silang yang banyak dijajakan di kios-kios kecil. Tapi begitu saya membuka isiny, saya mulai terkesima, karena teka teki ini menggunakan pertanayaan dalam bahasa Gayo, bahasa daerah yang digunakan oleh mayoritas warga Gayo yang mendiamai 3 kabupaten yaitu Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues. Ini yang menurut saya unik dan luar biasa, karena ini merupakan karya literasi ringan  pertama yang menggunakan bahasa gayo. Saya anggapa sebuah karya literasi karena meski hanya sebuah buku teka teki silang, tapi mengandung muatan lokal bahasa dan budaya daerah.

Udin, panggilan akrab anak muda ini kemudian bercerita tentang awal idenya menerbitkan teka teki silang berbahasa Gayo ini. Dia melihat bahwa bahasa Gayo sebagai bahasa daerah sudah mulai ditinggalkan oleh generasi muda Gayo, kalau kondisi seperti ini dibiarkan, maka bukan tidak mungkin suatu saat generasi muda Gayo tidak lagi mengenal bahasa daerah mereka. Mengangkatnya melalui literasi ‘resmi’ dalam bentuk buku pelajaran, leflet brosur dan sebagainya, sudah banyak dilakukan oleh para budayawan dan pemerhati budaya Gayo, namu karya-karya semacam itu nyaris tidak menarik minat generasi muda Gayo.

Dari situlah kemudian muncul ide Kamarudin untuk membuat sebuah media pembelajaran bahasa dan budaya Gayo yang diharapkan akan mampu menarik kalangan anak muda. Walnya dia menggagas membuat komik berbahasa Gayo, tapi kemudian terkendala keterbatasan kemampuannya di bidang melukis dan desain grafis. Tapi anak muda ini tidak mengenal putus asa, dia kemudian rajin blusukan ke berbagai kalangan yang dia naggap bisa memberi masukan dan mendukung idenya, sampai akhirnya dia mencoba menciptakan buku teka teki silang ini.

Meski secara moril dia banyak mendapat dukungan, tapi dukungan materiil sama sekali tidak dia dapatkan, padahal untuk merealisasikan idenya, butu biaya minimal untuk mencetak buku TTSnya itu. Tapi tekad sudah terlajur bulat, apapun akan dia lakukan untuk merealisasikan idenya untuk memberikan andil melestarikan bahasa dan budaya leluhurnya. Tanpa fikir panjang, dia gunakan sebagian hasil kebunnya untuk membiayai ‘proyek’nya ini, karena berharap bantuan donasi dari para pihak, sepertinya sesuatu yang mustahil. Nggak tanggung-tanggung, dia langsung mencetak 1.000 eksemplar buku teka-teki silangnya, dalam perhitungannya, jika 60 persen saja buku TTSnya laku, biaya cetak sudah tertutupi. Dan modal yang sudah dia keluarkan bisa kembali, dia sama sekali tidak berfikir tentang keuntungan, yang penting idenya bisa terealisasi.

Lama tidak bertemu Udin, saya hanya dengar buku TTSnya bernasib sama dengan buku saya ‘Inspirasi Dari Gayo’ yang hanya laku tidak lebig dari 30 persen dari omset cetak. Meski sudah menitipkannya ke banyak toko buku dan kios-kios, tetap saja buku TTS edisi perdananya ‘seret’ di pasaran. Ini yang kemudian membuat Udin sedikit ‘down’, padahal awalnya dia berencana menerbitkan satu edisi setiap bulannya. Tapi minimnya apresiasi public, khususnya para pihak terkait, membuat Udin mesti mengelus dada, sama seperti putra putri di daerahnya yang sudah menunjukkan karya mereka.

Plt Gubernur jadi penyemangat

Lama tidak terdengar beritanya, tiba-tiba sosok Udin muncul pada saat kunjungan Plt. Gubernur Aceh, Ir Nova Iriansyah, MT ke wilayah pedalaman Gayo Aceh Tengah. Mendengar bahwa orang nomor satu di provinsi Aceh ini akan mengunjungi daerahnya, Udin pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas itu. Meski harus melewati protokoler yang lumayan ketat, akhirnya Udin bisa ketemu langsung dengan Nova di kampung Jamat kecamatan Linge pada awal bulan April 2019 lalu. Kepada sang Gubernur, Udin menunjukkan karyanya, berharap Plt Gubernur yang merupakan putra daerah Gayo itu memberi apresiasi.

Meski hanya berupa dorongan semangat untuk terus berkarya, itu sudah cukup bagi Udin untuk kembali ‘menggeliat’ merangkai cita-cita yang sempat ‘koma’ beberapa waktu. Awalnya dia berharap respon pejabat itu tidak sekedar berupa retorika dengan kata-kata penyemangat, tapi juga disertai dukungan fasilitas, tapi harapannya tiggallah harapan, pada akhirnya kemampuan swadaya pula lah yang bisa diandalkan.

Meski demikian, motivasi dari orang nomor satu di Aceh itu, membuat Udin kembali melanjutkan cita-citanya melestarikan bahasa dan budaya Gayo lewat karyanya. Masih mengandalkan modal dari koceknya sendiri, edisi kedua teka teki silang bahasa Gayo inipun terbit kembali setelah vakum selama hampir dua tahun. Kali ini Udin tidak mau setengah-setengah, dia ingin karyanya dikenal public secara luas, dan satu-satunya cara adalah dengan memperkenalkan karyanya melalui sebuah launching.

Akhirnya di launching

Berbekal semangat nan tak kunjung padam, Udin mulai menjajagi instansi atau lembaga yang bisa membantunya untuk melaunching karyanya ini, karena dia menyadari kalau membuata acara launching sendiri, dia merasa minim akses ke berbagai kalangan, dan tentu saja butuh dana. Setelah ‘terombang-ambing’ dari satu instansi ke instansi lainnya, gayung bersambut pun akhirnya datang dari Majlis Adat Gayo, sebuah lembaga pemerintah yang lahir dari implementasi penerapan Undang Undang Pemerintahan Aceh (UUPA). Beberpa tokoh adat dan budaya Gayo yang tergabung dalam Majlis Adat Gayo itu bersedia memfasilitasi launching yang rencananya akan dilakukan langsung oleh Bupati Aceh Tengah, Drs. Shabela Abubakar.

Setelah melalui berbagai persiapan, akhirnya launching Teka Teki Silang Gayo Begegure (TTSGB) karya Kamarudin bisa terlaksana di Operation Room Setdakab Aceh Tengah, Senin ( 13/5/2019) yang lalu. Undangan yang berasal dari berbagai instansi daerah dan sekolah-sekolah di seputaran kota Takengon pun terlihat cukup antusias menghadiri acara launching ini. Namun suasana yang lumayan meraih itu kemuadian berubah nuansa menjadi ‘kuarang enak’, karena Bupati Aceh Tengah yang dijadwalkan untuk melaunching buku TTS ini tiba-tiba membatalkan kehadirannya karena ada tugas lain yang dianggap lebih penting.

Konfirmasi yang agak terlambat dari pihak protokoler Setdakab Aceh Tengah, membuat acara launching ini molor dan mengambang, sehingga banyak undangan yang kemudian meninggalkan ruangan. Ketika kemudaian Sekretaris Daerah, Karimansyah I, SE, MM kemudian hadir mewakili Bupati, ruangan yang tadinya sudah ramai, sudah berubah agak lengang. Untunglah ada prakarsa seorang relawan yang kemudian mengerahkan mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam negeri (STAIN) Gajah Putih untuk memenuhi ruangan tempat launching. Bukan cuma para mahasiswa, sebagian dosen STAIN juga dengan sukarela meibatkan diri ‘meramaikan’ acara ini.

Ketika menyampaikan pengantarnya, Kamarudin agak sedikit ‘curhat’ tentang kesulitan masalah biaya produksi, ingin mengembangkan karya ini lebih luas. Dia merasa prihatin dengan kondisi bahasa Gayo yang mulai ditinggalkan oleh masyarakat Gayo, terutama dari kalangan generasi muda. Itulah sebabnya dia tetap komitmen dengan karyanya itu, meski dia harus berjalan sendiri. Lebih lanjut Udin juga mengungkapkan bahwa tata bahasa dan kosa kata dalam bahasa Gayo sekarang ini tinggal 50 persen saja, karena sudah banyak kosa kata lama yang tidak diketahui oeleh generasi sekarang.

Dalam kesempatan tersebut Udin berharap kepada pemerintah untuk kembali menggalakkan bahsa Gayo di lingkungan pemerintah daerah,

“Saya mengusulkan kepada pemerintah, kalau bisa satu hari dalam seminggu, diterapkan wajib berbahasa Gayo di lingkungan pemerintahan kabupaten Aceh Tengah, begitu juga di rumah-rumah sekolah, kalau bukan kita yang melestarikannya, siapa lagi yang akan menjaga bahasa Gayo ini” ungkapnya.

Sekretaris Daerah, Karimansyah dalam sambutannya menyambut baik karya yang telah diahsilkan oleh Kamrudin ini. Menurut Karimansyah, ini merupakan terobosan inovatif untuk melestarikan bahasa dan budaya Gayo. Untuk iti beliau  erharap semua pihak di Dataran Tinggi Gayo ini ikut berpartisipasi dalam pnerbiatn dan penyebarluasan karya putra Gayo ini,

“Kami atas nama pemerintah kabupaten Aceh Tengah memberikan apresiasi kepada Saudara Kamaruddin yang telah mengembangkan ide cemerlangnya untuk kelestarian bahasa dan budaya Gayo, ini sangat penting, karena untuk melestarikan bahasa dan budaya Gayo harus memakai metode yang mudah dipahami dan menarik bagi semua kalangan, kami berharap semua pihak juga peduli untuk kelangsungan karya luar biasa ini” ungkap Karimansyah

Sementara itu, Ir, M Jusin Saleh, salah seorang tokoh adat dan budaya Gayo yang hadir dalam acara launching tersebut mengungkapkan bahwa bahasa Gayo tlah terkontaminasi oleh bahasa asing dan bahasa nasional. Saat ini, bahasa Gayo tidak lagi menjadi bahasa keseharian di lingkungan keluarga, sekolah maupun kantor pemerintah, begitu juga komunikasi antar warga dalam lingkungan masyarakat, juga semakin jarang menggunakan bahasa Gayo. Melalui Majlis Adat Gayo, Jusin sangat mengapresaiasi apa yang sudah dilakukan oleh Kamaruddin, dia berharap pemerintah bisa menfasilitasi kelangsungan penerbitan salah satu media pelestarian bahasa Gayo ini

“Selaku tokoh adat dan budaya Gayo, saya berharap pemerintah daerah bisa memfasilitasi anak kita Kamarudin dalam mengembangkan karyanya, ini merupakan metode baru dalam pelestarian bahasa Gayo, karena sambil bermain mengisi teka teki silang, masyarakat diajak untuk mengenal lebih jauh tentang tata bahasa dan kosa kata bahasa Gayo serta adat dan budaya Gayo” ungkapnya.

Lebih lanjut Jusin mengungkapkan, kalau buku ini bisa terbit setiap bulan, maka dampak pelestarian bahasa Gayo akan semakin terlihat, apalagi kalau generasi muda sudah mulai tertarik.

Semakin minimnya penguasaan tata bahasa dan kosa kata bahasa Gayo yang disinyalir oleh Kamarudin pun terbukti ketika dia kahir acara launching, semua undangan ‘ditantang’ untuk ikut lomba mengisi TTS ini. Dari seratusan undangan, hanya beberapa peserta saja yang mampu menjawab seluruh pertanyaan dalam buku teka teki silang tersebut. Seorang dosen di STAIN Gajah Putih Takengon, seorang kepala sekolah dasar dan seorang mahasiwa STAIN, kemudian dinyatakan sebagai pemenang lomba mengisi TTS ini.

Ini membuktikan bahwa karya si Udin ini bukan karya main-main, tapi memiliki muatan edukasi yang sangat kuat. Layak kalau nantinya dijadikan sebagai metode baku dalam pembelajaran bahasa Gayo di lembaga pendidikan. Udin hanya berharap, pidato pejabat dalam launching bukunya ini tidak sekedar retorika, tapi diikuti dengan implementasi nyata. Tanpa dukungan pemerintah dan pihak terkait, karya sebagus apapun hanyalah sebuah kesia-siaan, dan tanpa apresiasi, inovasi hanya akan menghasilkan rasa frustasi.

Semoga saja launching buku teka teki silang ‘unik’ ini bisa menjadi awal yang baik untuk kelestarian bahasa Gayo. Sebuah karya putra daerah, seudah semestinya dihargai, bukan sekedar dengan kata-kata, tapi dengan tindakan nyata. Memacu inovasi, harus dengan fasilitasi, bukan sekedar dengan basa basi.

News Feed