oleh

Pemuda Desa Gele Rapat Tari Saman Roa Lo Roa Ingi

image_pdfimage_print

Gayo Lues, Baranewsaceh. co – Pemuda pemudi Desa Gele musyawarahkan tarian saman dua hari dua malam atau lebih di kenal orang gayo dengan sebutan (roa lo roa ingi), tari saman ini di adakan dalam rangka melaksanakan pertunjukan seni.

Rapat tersebut di hadiri oleh, Ketua Pemuda Sukri Adi Benka, Kepala Pengulu, Tokoh Adat (todat), Tokoh Agama (toga), Tokoh Masyarakat (tomas), dan pemuda pemudi Desa Gele yang turut hadir dalam musyawarah tersebut.

Sukri Adi Benka dalam pidatonya menyampaikan, adapun tujuan kita rapat pada malam ini untuk menyusun perogram tarian saman yang akan kita gelar beberapa hari lagi. Bertempat di Menasah Desa Gele Kecamatan Blangkejeren pada malam Senin (9/09/2018), sekira pukul 21.00 WIB.

“Menurut Sukri Adi Benka, tari saman merupakan salah satu media untuk pencapaian pesan/(dakwah) tarian ini mencerminkan pendidikan, keagamaan islam, sopan santun, kepahlawanan,  kekompakan dan kersamaan dalam melakukan kegiatan,” tutur Ketua Pemuda Sukri Adi Benka.

Beliau juga menjelaskan, pada umumnya tari saman merupakan salah satu media dakwah untuk menyebarkan Agama Islam yang di populerkan oleh seorang Ulama Besar Gayo bernama Syeh Saman, seiring berjalannya waktu “Tari Saman” mulai berkembang dan juga digunakan sebagai tarian untuk menyambut tamu pekinting,  dan acara pesta tari saman juga merupakan sebagai wadah mempererat persatuan dan kesatuan serta mempererat tali silaturrahmi antara sesama pemuda pemudi dan juga orang tua di dalam suatu desa dan desa yang lain, melalui persatuan ini kita bisa lebih kuat di dalam bidang apa saja sesuai dengan daerah kita sebagai suku Gayo yang kental dengan syariat Islamnya.

“Tarian saman ditarikan oleh kaum peria dengan jumlah ganjil, tari saman dikendalikan oleh seorang penangkat yang duduk paling tengah di formasi penari, tari saman menggunakan syair dalam bahasa gayo, tari saman di bagi dalam beberapa gerakan atau bagian utama dalam posisi duduk: rengum, dering, salam, uluni lagu, lagu, anak ni lagu dan penutup. Tari saman tidak menggunakan iringan musik apa pun, tari saman menggunakan baju adat gayo bernama baju kantong lengkap dengan motif kerawang,” jelas Sukri Adi Benka. (Anto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed