oleh

“Peluang Emas Lulusan Serjana”

banner 300x250
image_pdfimage_print

Oleh : Rikardus Nompa (Putra Daerah Manggarai Barat)

Akhir-akhir ini pengumuman pemerintah tentang penerimaan CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) disambut hangat dan antusias oleh para pencari kerja,  terutama para sarjana yang baru lulus maupun sarjana yang sudah lama menganggur.

Bahkan tidak sedikit mereka yang sudah bekerja pun, masih tetap mengidolakan impiannya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS).

Berita penerimaan CPNS mengalahkan popularitas berita lainnya. Hangatnya pemberitaan penerimaan CPNS mengindikasikan bahwa hingga kini masyarakat masih tetap menganggap bahwa profesi sebagai  PNS, merupakan profesi bergengsi yang diincar oleh banyak pencari kerja.

Fenomena Kerja PNS
Ukuran keberhasilan orang tua menyekolahkan anaknya dikaitkan dengan status pekerjaan setelah selesai kuliah. Jika kelak anaknya tamat dan bisa menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS), maka dikatakan anaknya telah sukses, dan jika bekerja di luar PNS  seolah-olah dianggap sebagai pekerjaan percuma.

Di sini prestise lebih diunggulkan dibandingkan dengan prestasi. Pencitraan seperti ini terwariskan dari generasi ke generasi yang  menjelajah pemikiran masyarakat kita.

Menjadi orang gajian lebih baik dari pekerjaan sebagai wirausaha. Orang berlomba mengejar status, kedudukan dan materi, alasannya sangat pragmatis, jadi PNS memiliki keunggulan dibanding dengan profesi lainnya.

Di samping kerjanya ringan, pakain kerjanya rapi dan necis,  masa depan dirinya dan keluarganya dijamin pemerintah, tidak ada target produksi, status sosialnya terangkat, gajinya cukup besar, mau minjam uang ke bank pun relatif lebih mudah, dan masih banyak kesenangan lain yang dimiliki oleh seorang yang menjadi PNS.

Menurut Bung Rikardus Nompa hidup ini adalah pilihan. Dalam hidup ada dua jalan kehidupan berbeda, kita berhak untuk memilih dan meraihnya: apakah kita memilih jadi karyawan yang berarti kita sudah dibeli oleh instansi/ perusahaan, atau memilih sebagai pengusaha yang memberi peluang untuk menikmati hidup bahagia.

Perbedaan yang mendasar, bila jadi karyawan kita bekerja keras untuk uang, sedangkan bila jadi pengusaha uang bekerja untuk kita. Ini semua bergantung pada kita.

Bila kita memilih jadi pengusaha konsekuensinya adalah harus mampu dan mau bekerja keras dengan berbagai risiko yang akan dihadapi. Namun jika kita ingin santai dan menjadi orang gajian dengan penghasilan datar maka pilihlah menjadi pegawai.

Fakta yang teramati sekarang ini, lulusan kuliah terus bertambah setiap tahunnya, tetapi tingkat pengangguran juga semakin banyak. Hal ini menandakan para lulusan tidak sanggup berkompetisi pada dunia kerja.

Akankah mereka terus menunggu dalam ketidakpastian, menunggu ada lowongan kerja? Sementara ada profesi lain sebagai wirausaha yang setiap hari terus membuka lowongan tanpa harus memakai surat lamaran dan tanpa ada seleksi ujian tertulis dan ujian teori; yang ada adalah ujian praktik yaitu praktik berwirausaha.

Saat ini untuk menjadi sarjana tidaklah sulit, namun untuk menanamkan roh jiwa wirausaha kepada mahasiswa merupakan pekerjaan yang sangat sulit.

Persoalannya, mind set masyarakat kita sulit untuk diubah, seolah-olah hasil akhir dari proses pendidikan adalah untuk menjadi pegawai negeri sipil.

Jika tidak ada perubahan paradigma berpikir kritis, maka ledakan angka pengangguran di negeri kita akan mencapai tahap yang mengkhawatirkan.

Lantas mau dikemanakan sarjana-sarjana tersebut jika ternayata mereka menganggur? Haruskah mereka kita biarkan berstatus sebagai pengangguran intelektual?

Karena itu maka kiat mengatasi pengangguran adalah  menanamkan jiwa wirausaha  sejak dini  kepada mereka, bila perlu sejak masih pada tingkat sekolah dasar.

Pendidikan merupakan jalan mengantarkan seseorang menjadi entrepreneur. Melalui pendidikan orang akan memperoleh pengaruh yang baik untuk menjadi wirausaha.

Namun untuk mencapai hal tersebut perlu ada sistem pendidikan yang menyeluruh, agar mampu menghasilkan orang-orang yang mandiri dan utuh,  agar mampu memperbaiki kualitas kehidupannya.

Budaya Feodalisme
Secara historis masyarakat kita memiliki sikap feodal yang diwarisi dari penjajah Belanda, dimana profesi sebagai pegawai memiliki status sosial cukup tinggi dan disegani oleh masyarakat.

Di tengah kondisi ekonomi yang dirasakan sangat ini memberatkan, pilihan untuk menjadi PNS agaknya dijadikan harapan demi mengamankan kestabilan perekonomian rumah tangga. Inilah yang menjadikan minat untuk menjadi seorang PNS demikian kuat berkembang di tengah masyarakat.

Jiwa dan roh feodalistik masih melekat, dimana ada kecenderungan sikap masyarakat selalu memposisikan atau mengistimewakan status sosial seseorang khususnya kepada  PNS, apalagi yang bersangkutan memegang jabatan. Pemerintahpun  juga menjadi sumber penyebab praktik pola hubungan yang feodalistik.

Kita bisa melihat bagaimana pejabat publik mendapatkan perlakuan istimewa, ketika yang bersangkutan melakukan kegiatan kedinasan.

Fakta tersebut yang menyebabkan profesi sebagai PNS menjadi incaran semua orang, terkesan mewah, dilayani, dihormati dan selalu didahulukan.

Siapa yang tidak tertarik dengan kemewahan dan kemegahan seperti itu? Padahal sejatinya kita adalah pelayan masyarakat bukan malah sebaliknya minta dilayani.

Selanjutnya jika kita menekuni  profesi sebagai pegawai akan menghabiskan banyak waktu untuk kegiatan di kantor sesuai dengan peraturan yang berlaku. Hidupnya bagaikan robot saja yang secara terus menerus menjalankan aktivfitas rutin.

Karena itulah tidak usah ngotot ingin menjadi PNS, karena ia merupakan pintu rezeki yang paling sempit. Kita bisa bayangkan, satu formasi lowongan kerja PNS bisa diperebutkan ribuan calon pelamar, berarti sangatlah sempit peluang kita untuk bisa meraihnya.

Namun kalau jika ada peluang untuk itu, jangan ditolak, karena ada yang menilai pekerjaan yang paling enak di dunia adalah menjadi PNS, kerjanya enak dan bila perlu enak-enakan, gajinya pasti dan hidupnya ditanggung pemerintah.

Mohon maaf sebesarnya bagi rekan-rekan saya yang sedang berkompetisi menuju panggung PNS. Disini saya hanya mencoba membuka wawasan berpikir rekan-rekan semua, melihat kondisi ril yang sudah ada. Saya disini menawarkan solusi dimana kebaradan Kab. Manggarai Barat salah satu icon destinasi wisata yang sangat berpotensi untuk membangun perekonomian masyarakat.

Untuk merinci sebagai bentuk dari dongkraknya ekonomi masyatakat, disini masyarakat dituntut untuk berwirausaha.

Pesan Rikardus Nompa dalam hal ini yaitu, “Berhentilah berpikir dari segi keterbatasan dan mulailah berpikir dari segi kemungkinan” karna sejatinya Hidup ini adalah Kompetisi.

Disini kita sama-sama meneropong hal ini, lebih khusus di Kabupaten Manggarai Barat, sebagaimana yang dimuat oleh “Indonesiakoran.com” pada Rabu, 10 Oktober 2018 | 13:07 WIB.

Sebanyak 5.163 orang melamar sebagai calon pegawai negeri sipil (CPNS) dengan mendaftar secara online di Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan Daerah (BKPPD) Kabupaten Manggarai Barat, Sebas Wantung, dari jumlah tersebut sebanyak 2.166 orang di antaranya telah menyerahkan berkas asli pendaftaran ke Panitia Penyelenggara di Kantor BKPPD.

“Sisanya sebanyak 2.997 pelamar, belum memasukkan berkas kepada Panitia Penyelenggara,” tuturnya, di Labuan Bajo, Selasa (9/10/2018). (RED)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed