banner 728x150

Obsesi ku Menjadikan Sekolah ku Menjadi Yang Terdepan

by


Oleh : Alimin Sutoyo.
Permendiknas Nomor 13 Tahun 2007 tentang Standar Kompetensi Kepala Sekolah/Madrasah terdiri atas 5 kompetensi yaitu : kompetensi manajerial, kompetensi kewirausahaan, kompetensi supervisi, kompetensi kepribadian, dan kompetensi sosial.

Pada kompetensi manajerial terdapat substansi yang merupakan akar keberanianku untuk membuat “tampil beda” dalam pelaksanaan ujian semester ganjil (USG) pada tahun ini.

Ada 16 poin pekerjaan kepala sekolah (kepsek) temaktub pada kompetensi manajerial permendiknas tersebut serta merta tercermin dari tindakan berani yang kulakukan. Aku tidak dapat menuliskan ke -16 poin satu persatu karena keterbatasan ruang pada Media online ini, tetapi diantara yang dapat kusimpulkan adalah : Mengelola guru, staf, sarana dan prasarana  dalam rangka pendayagunaan yang optimal serta memanfaatkan kemajuan teknologi informasi bagi peningkatan pembelajaran dan manajemen  sekolah/madrasah.

Sejak Aku dan Guru-guru di sekolahku menerima ilmu “SAGUDELTA” dari sang masternya langsung “Bpk. Khairuddin Budiman” seorang penggiat Ikatan Guru Indonesia (IGI) dan Ikatan Guru Mata Pelajaran (IGMP) Matematika IGI Pusat pada 28 Oktober 2017 dan menerima tantangan Bapak Sukardi dan MKKS SMA/MA/SMK Kabupaten Bener Meriah (BM) untuk mensharingnya kepada  puluhan guru tim pembuat soal US/USBN, aku terus mencari cara untuk menjadikan sekolahku menjadi paling terdepan dalam mengaplikasikan konsep “SAGUDETAL” secara hakiki di Bener Meriah, sekaligus melarang guru-guruku di SMA Negeri 2 Bandar  menggunakan kertas karena terus terang aku merasa “Nek” dan “boring” dengan konsep “papper examination” pekerjaan yang kulakukan puluhan tahun.
Saat ini aku pun sedang terobsesi dengan  aksi “go green” atau “save our forest”.

Ternyata “diperlukan 1 batang pohon pinus usia 5 tahun untuk memproduksi 1 rim kertas”. Limbah yang dihasilkan dari proses produksi kertas juga sangat besar dan mencemari lingkungan serta diperlukan biaya mahal untuk memproses limbah tersebut. Hutan Tanaman Industri (HTI) Indonesia tidak dapat mencukupi 5,6 juta ton/tahun bahan kayu yang diperlukan sedangkan ironinya sebagian besar dokumen disekelilingku adalah kertas dan juga sangat banyak yang menjadi sampah.

Waktu 1 minggu sebelum Hari – H pelaksanaan USG banyak kuhabiskan untuk melatih guru-guruku membuat soal di Aplikasi I spring, berdiskusi dengan wakil dan staf-staf dan guru-guruku baik tatap muka maupun di grup medsos kami, sosialisasi kepada komite sekolah dan siswa-siswaku. Semua itu kulakukan secara “fight” kukerjakan “all out”bahkan sampai dini hari. Ambisiku sebagai “leader” dan “agent of change” mempertaruhkan semua yang kupunya demi meng”goal”kan rencana “Paperless” sudah sampai keubun-ubun kepalaku.

Akhirnya waktu yang ditunggu tiba pada Senin, 4 Desember 2017. Dengan jantung berdebar-debar mengingat waktu persiapan USG yang hanya 1 minggu tidaklah cukup untuk “Culture Shock” di sekolahku, SMA Negeri 2 Bandar. Alhasil pada hari pertama pelaksanaan USG disamping kesuksesan aku menemukan banyak masalah, diantaranya  yaitu : tidak seluruh siswa membawa android atau laptop, Tidak semua guru pengawas atau proktor kelas memiliki aplikasi share it di androidnya atau jika punya tidak pandai menggunakannya, tidak semua guru kompeten membuat soal di Ispring apalagi soal bergambar serta video dan mp3, Tidak semua guru kompeten mensetting, mempublish dan mengenerate soal yang sudah dibuat dan masalah-masalah lainnya. Wakilku Pak Sofyandi mengatakan tingkat keberhasilan USG hari pertama mencapai 75 %  (biasa permulaan) dan menyakinkanku bahwa besok  masalah-masalah akan terselesaikan .

Pada malamnya Kami kembali berdiskusi di grup medsos kesayangan kami untuk memecahkan masalah – masalah yang kami temukan tadi, menemukan “problem solving”, dan mengatur strategi besok hari ke-2 USG diantaranya menghadirkan aplikasi share it di android guru pengawas dan proktor ruangan dan melatih step-step penggunaannya. Alhamdulillah di hari ke -2 kami semua termasuk siswa peserta  penilaian merasa nyaman senyaman kertas yang dikipaskan ketubuh kami yang kepanasan.

Sayup –sayup kudengar Pak Sofyan berguman “ So far is good”. Kulihat senyum puas diraut wajah guru-guruku “yang dulu berat sekarang hasilnya ringan”. Aku mengerti maksud kata-kata itu yaitu mereka tidak akan pernah lagi mengoreksi jawaban siswa dengan membolak-balik kertas karena aplikasi ini langsung memproses jawaban siswa menjadi nilai siswa. Baru tahu enaknya. (Kepala SMA Negeri 2 Bandar).