banner 728x150

MTQ Keluarga di Aceh Tengah Kembali Diprotes

by

Takengon, Baranewsaceh.co  – Seleksi Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) kategori keluarga di Aceh Tengah, kembali diprotes.

Aksi itu kembali mencuat saat panitia menggantikan nama keluarga Drs. Idris Ismail dengan salah satu keluarga lainnya.

Padahal, Drs. Idris Ismail sebelumnya telah dinyatakan lulus sebagai pemenang satu dalam MTQ kategori keluarga pada seleksi ditingkat kecamatan Kebayakan beberapa waktu lalu untuk mengikuti seleksi tingkat kabupaten.

Kepada wartawan, Drs. Idris Ismail mengaku kecewa terhadap kebijakan panitia. Terlebih kata Idris, anggota keluarganya juga telah mempersiapkan diri untuk mengikuti MTQ keluarga itu.

ia juga mengaku telah membuat surat pengunduran diri sebagai ketua balai pengajian sebagaimana diamanahkan dalam Petunjuk Pelaksana (Juklak-Red) MTQ kategori keluarga.

Surat pengunduran diri itu pula sebut Idris, merupakan saran dari panitia agar keluarganya bisa ikut serta dalam pelaksanaan MTQ keluarga tingkat kabupaten.

“Semua persyaratan sudah saya penuhi, termasuk membua surat pengunduran diri dari ketua balai pengajian, tapi akhirnya panitia tetap mengeluarkan keluarga saya dari peserta. Keputusan ini sangat merugikan kami,” ujar Idris kepad wartawan, Rabu 4 Oktober 2017.

Pimpinan Tempat Pengajian Anak (TPA) Al Maghfirah, Desa Kute Lot, Kecamatan Kebayakan itu juga mempertayakan Juklak MTQ keluarga yang terbit setelah pendaftaran dilakukan.

Juklak itu katanya, diterbitkan tanpa diterakan tanggal. Dalam Juklak itu pula tidak satupun dibubuhi tandatangan, baik itu pimpinan atau anggota rapat.

“Ini aturan yang sangat diragukan,” kata Idris.

Merujuk pada salinan Juklak pada poin no 13 yang ditunjukkan Idris, berbuyi “Peserta MTQ keluarga adalah keluarga yang anggotanya tidak sedang menjabat sebagai Reje (Kepala Desa-red), Imem (Imam-red), dan atau Pimpinan Dayah/Balai Pengajian”.

Sebelumnya, MTQ Keluarga di Aceh Tengah, juga diprotes oleh salah satu pimpinan pesantren setelah ia dicoret dari daftar peserta.

Terpisah, Kepala Dinas Syari’at Islam Aceh Tengah Alam Syuhada membenarkan adanya item dalam Juklak yang melarang pimpinan pasantren atau ketua balai Pengajian tidak dibenarkan untuk mengikuti MTQ keluarga.

Juklak itu katanya, merupakan keputusan bersama yang lahir dalam rapat beberapa waktu lalu. Bahkan kata Alam Syuhada, pihaknya juga berancana membentuk kategori MTQ tingkat pimpinan pasantren atau dayah, namun usul itu pula mendapat penolakan dari para pimpinan dayah itu sendiri yang hadir dalam rapat kala itu.

“Bahkan hasil rapat kita meminta agar pihak kecamatan seperti Lembaga Pekan Tilawatil Qur’an (LPTQ) untuk melakukan sosialisasi keputusan ini” ujarnya.

Kendatipun, Alam Syuhada menyesalkan kurangnya sosialisasi keputusan rapat itu kepada masyarakat, sehingga ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan MTQ keluarga kali ini.

Untuk diketahui, MTQ keluarga ini merupakan program pemerintah Aceh Tengah dibawah pimpinan bupati Ir. H. Nasaruddin. Seluruh anggota keluarga akan diberangkatkan umrah secara gratis sebagai hadiah bagi pemenang.

Selain MTQ kategori Keluarga, pemerintah Aceh Tengah juga mengadakan MTQ tingkat Reje (kepala desa-Red) dan Imem (Imam-Red). Bagi pemenang MTQ ini juga akan diberangkatkan umrah secara gratis.(Rilis/HT)

Teks foto : Drs. Idris Ismail, pemenang satu seleksi MTQ Keluarga tingkat Kecamatan, memperlihatkan dokumen persyaratan dan salinan Juklak MTQ Keluarga. (HT)