oleh

Meningkatkan Ekonomi Pelaku Usaha Gula Aren dan Kopi


* Helmi Mahadi, M.A

lambat tapi pasti,…Kopi dan Gula Aren Galus telah menjadi primadona,…
SUDAH selayaknya peningkatan ekonomi petani Gula Aren dan Kopi di mulai dari cara pengolahan keamanan pangan. Dua produk ini merupakan produk unggulan yang ada di Gayo Lues. Keberhasilan produk ini di pasaran lokal tingkat Provinsi Aceh telah menjadi ikon unggulan dari Kabupaten Gayo Lues. Terbukti, saat Pameran Pekan Kebudayaan Aceh-PKA ke VII tahun 2018, Agustus Lalu. Gula Aren dan Kopi Gayo Lues menjadi primadona bagi pengunjung untuk membelinya.

Dimaksud persoalan itu, harus menjadi prioritas standar produk halal yang bersertifikat. Sertifikat ini adalah informasi bagi konsumen umum yang memberikan rasa aman dikonsumsi. Yang dijamin berdasar hukum kepala BPOM no 22 tahun 2018 tentang syarat bagi pelaku industri rumah tangga pangan.

Inilah peran penting koordinasi lintas sektor antara Pemda Galus, BPOM Aceh, Dinas Kesehatan, Dinas Perdagangan, UKM dan Koperasi, Dinas Perindustrian dan Pertambangan. Untuk melihat peluang pelaku usaha ketahanan pangan yang ada di Galus.

Seiring best seller—laku laris manis, kedua komoditi ini merupakan langkah jitu untuk menyerap tenaga kerja dan mengurangi angka kemiskinan. Caranya, meningkatkan ekonomi pelaku usaha untuk berkecimpung dalam bisnis e-commerce sebagai strategi pemasaran dengan kemasan yang menarik. Hal ini identik dengan perkembangan revolusi industri 4.0 yang memudahkan segala produk industri dapat dipasarkan melalui teknologi digital internet.

Untuk menyiapkan hal tersebut, pelaku usaha Kabupaten Gayo Lues, harus update-memperbaharui diri untuk dapat mengimbangi persaingan usaha. Dalam proses update, pelaku usaha didampingi oleh Aceh Green Community melakukan Pelatihan dan Penyuluhan Keamanan Pangan Bagi Pelaku Usaha Mikro khususnya pengrajin Gula Aren Kecamatan Pining dan Pelaku usaha Kopi tingkat Kabupaten Gayo Lues. Yang berupaya memberikan pengetahuan tata cara untuk mendapatkan sertifikat halal.

Secara perlahan tapi pasti, dua unggulan ikon komoditi ini dalam perkembangannya di pasar telah memenuhi sertifikat halal, maka produksi pun semakin meningkat. Langkah selanjutnya memproduksi secara kualitas dan kuantitas diperlukan strategi baru teknologi tepat guna sebagai penunjang proses produksinya.

Kegiatan ini merupakan prasyarat dalam rangka memperoleh Sertifikasi Produksi Pangan Industri Rumah Tangga (SPP-IRT). Aceh Green Community (AGC) bekerjasama dengan Dinas Kesehatan Gayo Lues, menghadirkan trainer dan tim penyuluh Bapak Sri Wardono, M.Si Apt (Kepala Lokal BPOM Aceh Tengah) dan Bapak Teuku Muhammad Umri Ubit, M.Sc. Pharm., Apt (Pengelola Kefarmasian Dinkes Aceh). Tempat, Wisma Nusa Indah. Kamis, (7/12/2018).

Materi-materi yang disampaikan meliputi; diawali Pre Test ini untuk menilai pemahaman peserta di bidang pangan, higinis pengolahan dan penyaji pangan, penanganan dan penyimpanan pangan, dan pengendalian hama, sanitasi tempat dan peralatan.

Dari pre tes ini dilanjutkan dengan empat pemaparan materi yang mendukung pengetahuan tata cara memperoleh standar produksi pangan. Pertama. Cara Produksi Pangan yang baik untuk Industri Rumah Tangga (CPPB-IRT). Kedua, Teknologi Pengolahan Pangan tepat guna di Industri Rumah Tangga Pangan (IRTP). Ketiga, Penggunaan Bahan Tambahan Pangan (BTP), dan Keempat. Persyaratan label dan iklan pangan dalam peraturan perundang-undangan di bidang pangan, Keamanan dan Mutu pangan, Prosedur Operasi Sanitasi yang Standar (Standard Sanitation Operating Procedure/SSOP), dan di akhiri Post Test.

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta yang lulus akan mendapatkan Sertifikat Penyuluhan Keamanan Pangan (SPKP) yang ditanda tangani oleh Kepala Dinas Kesehatan Gayo Lues, untuk selanjutnya sebagai syarat mendapatkan SPP-IRT setelah Dinkes mengunjungi dan menganalisa tempat usaha.

Sebagaimana dijelaskan, nara sumber Wardoyo bahwa sejak awal tahun 2018, BPOM Aceh telah mendirikan dua kantor BPOM wilayah Aceh; BPOM Aceh Selatan dan Aceh Tengah. BPOM Aceh Tengah berada dalam wilayah empat Kabupaten yakni Ateng, Aceh Tenggara, Bener Meriah dan Gayo Lues. Fungsi BPOM adalah mengawasi ketahanan produksi pangan. Secara teknis, BPOM berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Daerah yang berfungsi pengawasan, memberikan sanksi dan memberi ijin pelaku usaha.

Pemerintah Gayo Lues melalui Dinkes harus pro aktif menginventaris pelaku usaha makanan dan minuman. Untuk diberikan ijin layak konsumsi dengan label halal. Sebagai strategi membuka jalan bagi pelaku usaha untuk terus meningkatkan ekonomi.
Gayo Lues telah terkenal tingkat nasional dan internasional, yang memiliki sumber daya alam Hutan Lindung Leuser sebagai warisan dunia dan Tarian Saman. Tidak hanya itu, juga terkenal Gula Aren dan Kopi sebagai destinasi wisata kuliner dan makanan.
Kopi,…kopi,…kopi,…jangan lupa ada Gula Aren. Mantap…!!!

* Helmi Mahadi, M.A
ASN Sekdakab Galus
e-mail : helmimahadigl@gmail.com

News Feed