oleh

Lomba Melengkan Tingkat Pelajar SD dan SMP se – Kabupaten Bener Meriah

banner 300x250
image_pdfimage_print

 



Bener Meriah, Baranewsaceh.co – Melengkan adalah perpustakaan hidup yang hanya bisa dilihat, didengar dan di saksikan dalam sebuah hajatan adat tertentu. Melengkan juga merupakan warna bahasa yang  melambangkan keindahan seni bertutur sapa Gayo dalam sebuah prosesi adat ketika hendak menyerahkan pengantin.

PP nomor 48 tahun 2014 seakan menghentikan langkah dan hilangnya seni bertutur Gayo yang satu ini. Eksistensi bahasa adat melengkan tamat sudah riwayatmu. Melengkan hilang oleh regulasi dan aturan peradaban baru. Melengkan adat betutur sapa Gayo, yang telah terwariskan dari generasi ke generasi, kini hanya menyisakan pelakunya saja, tanpa tahu kapan dan dimana lagi bahasa melengkan tersebut akan di perdengarkan.

Menyikapi tradisi budaya sebagai perpustakaan hidup yang telah hilang. Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bener Meriah kembali menggali dan menyelenggarakan lomba Melengkan tingkat pelajar Sekolah dasar (SD) dan lomba Melengkan tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP). Sementara pelaksanaan berlangsung selama 4 (empat) hari berturut turut dari tanggal 17 – 20 September 2018 di Aula Gedung Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bener Meriah. Selasa (18/09).

Hari ini sebanyak 20 peserta tingkat SMP yang mewakili dari sekolah masing masing, selanjutnya menyampaikan ucapan Melengkan sebagai mana layaknya saat penyampaian Melengkan saat penyerahan mempelai dalam sebuah adat perkawinan. Selain itu peserta di haruskan menyampaikan Melengkan dalam dua sesi yaitu penyerahan dan penerimaan.

Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Bener Meriah Ridwan,S.Pd  kepada Baranewsaceh.co mengatakan. Tujuan di selenggarakannya lomba melengkan tingkat pelajar SD dan SMP se Kabupaten Bener Meriah lebih kepada upaya pelestarian tradisi adat budaya melengkan sebagai bentuk perpustakaan hidup yang telah hilang.

Lebih lanjut Ridwan mengatakan. Pemerintah pusat lewat kementrian pendidikan dan kebudayaan terus berupaya mempertahankan dan melestarikan kebudayaan serta menghormati kearifan lokal, sebagai mana tertera dalam peraturam menteri pendidikan dan kebudayaan nomor 10 tahun 2014 tentang pedoman pelestarian tradisi.

Dari sudut pandang kami Melengkan merupakan sebuah bentuk Perputakaan hidup dari bahasa adat yang tidak tertulis. Melengkan itu ada, dan hanya bisa di lihat didengar dan di persaksikan dalam acara tertentu saja. Inilah makna dari Perpustakaan hidup yang kami maksud.

Sementara tim penilai Lomba Melengkan terdiri dari para ahli Melengkan yang terdiri dari M. Nasir dari Majelis adat Gayo, Abdul Mutalib mantan Kabit Kebudayaan Dikjar Bener Meriah, dan Umar Riadi dari lembaga adat Bener Meriah.

Amatan Baranewsaceh.co terlihat peserta begitu antusias mengikuti acara ini. Selain itu kehadiran para pendamping juga begitu memberi semangat dalam penyampaian Melengkan oleh peserta. (DN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed