banner 1280x334

Labu Butternut Squash ‘Laris Manis’ di Ajang Sabang Sail 2017

by


Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

BARANEWSACEH.CO – Dinas Pangan Aceh sebagai instansi yang berfungsi mengawal ketahanan pangan, termasuk diversifikasi pangan, terus berupaya agar labu madu yang sudah mulai dikembangkan di Aceh ini, dikenal dan diminitai oleh masyarakat sebagai salah satu bahan pangan alternatif yang menyehatkan. Berbagai even pun dimanfaatkan oleh instansi yang menjadi penanggung jawab masalah ketahanan pangan di Bumi Serambi Mekkah ini untuk mensosialisasikan dan mempromosikan komoditi pangan yang sudah mulai dikembangkan di Aceh sejak tahun 2016 yang lalu itu.

Tidak terkecuali Even ‘Sabang Sail’ yang merupakan even pariwisata internasional yang di gelar di Sabang pekan yang lalu, tidak lupuk dari ‘lirikan’ Dinas Pangan untuk mensosialisasikan sekaligus mempromosikan labu madu yang merupakan hasil pengembangan di komplek Balai Diklat Pertanian Aceh di Saree, Aceh Besar ini. Dipajang dalam stand Dinas Pangan Aceh dalam bentuk miniatur Tugu Nol Kilometer, bentuk labu madu yang unik dan ‘imut-imut’ tak ayal segera menarik perhatian para pengunjung Sabang Sail 2017 yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan juga dari luar negeri. Sebagian besar pengunjung memang baru pertama kalinya melihat labu ‘berkelas’ ini, namun bagi yang pernah melaihatnyapun, masih penasaran juga ingin merasakan manis dan ‘legit’nya labu yang di luar negeri dinamai ‘Butternut Squash’ atau ‘Butternut Pumpkin” ini. Apalagi pihak pengelola stand yang ‘dikomandoi’ oleh, drh. Ahdar, MP, pelopor pengembangan labu madu di Aceh ini, selain mengusung ribuan buah labu berbentuk unik ini juga menyediakan berbagai produk olehan labu madu yang boleh dicoba secara gratis oleh pengunjung.

Produk olahan labu madu yang kemudian ‘laris manis’ dicoba oleh para pengunjung adalah jus labu madu yang rasanya memang unik dan bikin penasaran. Tak heran jika stand yang memajang labu madu ini menjadi salah satu stand yang ramai dikunjungi pengunjung Sabang Sail. Dan kebanyakan mereka yang sudah mencoba produk pangan olahan labu madu, kemudian tak segan ‘memborong’ buah-buah labu yang penampilannya memang eksotik ini.

Ahdar yang juga Kepala Balai Diklat Pertanian Aceh mengungkapkan, dari sekitar 500 kilogram  labu madu yang dia siapkan untuk even ini, nyaris ludes diborong pengunjung Sabang Sail yang berakhir tiga hari yang lalu.

“Selain bentuknya unik, rasa dan khasiat labu madu madu untuk kesehatan, menjadi daya tarik pengunjung Sabang Sail ini untuk mencoba labu madu yang kami kembangkan di komplek pertanian kami di Saree” ungkap Ahdar bangga.

Harga labu madu yang hanya dipatok Rp 20.000,- juga menjadi salah satu penyebab komoditi pangan alternatif ini laris manis dalam ajang pariwisata bertaraf internasional itu. Salah seorang pengunjung dari Jawa Timur, Yulianto mengatakan kalau labu madu dari Aceh ini kulaitasnya sangat bagus dan rasanya enak, harganyapun jauh lebih murah.

“Di Surabaya, saya pernah beli labu ini di salah satu mall, harganya 50 ribu sekilo, disini cuma 20 ribu, nanti saya juga akan pesandalam jumlah besar untuk dipasarkan di daerah saya, ini prospek usaha yang sangat menguntungkan” ungkap Yulianto usai memborong beberapa kilogram labu madu dan mencicipi segelas jus butternut squash ini.

Sementara itu Kepala Bidang Distribusi Pangan, A. Hanan, SP, MP yang bertindak sebagai penanggung jawab stand pameran Dinas Pangan Aceh juga menyatakan rasa puasnya. “Misi” instansinya untuk menggali potensi dan memasyarakatkan sumber pangan alternalif, termasuk labu madu ini, mendapat sambutan antusias dari pengunjung sabang sail. Ini bisa menjadi peluang untuk membuka akses pemasaran labu madu yang dihasilkan petani Aceh ke luar daerah, bahkan ke luar negeri, karena dari segi kulaitas, labu yang dihasilkan dari kawasan pertanian Saree ini sangat bagus dan harga yang ditawarkanpun cukup bersaing.

“Alhamdulillah, labu madu yang mulai kami perkenalkan sebagai pangan alternatif sehat, mendapat sambutan antusias pengunjung Sabang Sail ini, mudah-mudahan pasca even ini akan terjadi transaksi bisnis labu madu antara petani di Aceh dengan pengusaha dari luar daerah maupun luar negeri, karena kualitas dan harga yang kami tawarkan cukup bersaing dibandingkan dengan produk serupa yang berasal dari daerah lain atau impor” ungkap A. Hanan didampingi Ahdar dan karyawan Dinas Pangan Aceh.

Lebih lanjut Hanan menyatakan, puhaknya akan terus berusaha mengembangkan komoditi ini pada skala yang lebih luas, karena prospek pasarnya juga sangat bagus. Disamping untuk meningkatkan kesejahteraan petani, pengembangan labu madu ini juga sebagai salah satu upaya diversifikasi pangan yang menjadi salah satu tugas dan tanggung jawab instansinya.