Ketika Garam Bernajis, Legalnya Kontes Ratu Waria Dan Sajadah Dijadikan Pijakan Kaki Tamu Agung

by

Oleh : Iskandar

Baranewsaceh.co

kita sebabai Rakyat Aceh patut Bertanya dengan keadaan dan situasi yang terjadi di Aceh belakangan ini. Siapa yang bermain didalam pelanggaran Syari’at Islam yang diniliai dilakukan secara sah (legal) di Aceh. Pemerintah! Atau hanya segelintir Orang yang berpengetahuan yang ada didalam jajaran pejabat berdasi di Aceh.?

Pada dasarnya negeri (Nanggroe Red) Aceh adalah negeri yang bersyaria’t lslami yang menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman bermazhab Syafi’i dan Rakyatnya hidup dalam kultur Hukum Syari’at Islam yang Kaffah.

Namun belakangan ini, Negeri yang berlandaskan Syariat islam tersebut sengaja dinodai oleh tangan tangan Manusia Keji dan Zhalim, terkesan Perkara yang melanggar dengan syariat Islam bisa leluasa dilaksanakan di Negeri yang berjulukan Serambi Mekkah tersebut. Dan sangat mudah mendapatkan izin dari si empunya kuasa untuk terselenggaranya event atau kontes kontes durjana yang sangat bertentangan dengan Agama Islam.

Seiring perjalanan waktu beragam peristiwa miring yang dianggap tidak beradap selalu melanda negeri Aceh tercinta. Maupun dari segi Agama, Sosial, Ekonomi, Adat dan Budaya.

‌beberapa hari yang lalu Media Sosial (Medsos) Fecebook sempat di guncangkan dengan pernyataan Pihak LPPOM Aceh tentang hak layak  konsumsi garam yang tak berlebel halal yang di klaim bernajis.

Tanpa penyelidikan dan Bukti secara Otentik pihak LPPOM MPU Aceh memvonis garam tradisional tersebut bernajis. Pernyataan tersebut dianggap telah merugikan Masyarakat petani garam tradisional khususnya yang ada di Desa Tanoh Anoe Kecamatan Jangka Kabupaten Bireuen.

setelah itu Publik di jagat raya Aceh dikejutkan dengan Kejadian di BLUD RSUD dr Fauziah Bireuen saat Acara Penyambutan Tamu Agung dari Ibukota Jakarta yang datang ke Bireuen dalam

kapasitas sebagai Tim Akreditasi Rumah sakit tingkat Kabupaten telah terjadi suatu tragedi peristiwa “Aib” memalukan sepanjang sejarah peradaban Aceh yang dikenal dengan julukan Negeri Serambi Mekkah.

Dadal acara tersebut pihak Panitia Acara membenngkan Sajadah Tempat orang Islam Shalat dijadikan sebagai pijakan kaki 3 (Tiga) tamu Agung dari jakarta. di kalangan para elit  “Pegawai” di Rumah sakit Fauziah Bireuen yang dipercayakan sebagai Panitia pada acara tersebut hal serupa dianggap sepele dan tidak melikirkan efek apa yang akan terjadi kedepan.

Spontan Netizen kembali dikejutkan dengan berita tidak sedap. Telah terselenggnya Kontes pemilihan Ratu Waria di Hotel berbintang lima Herles Palace Banda Aceh sabtu malam 16 desember 2017. Hal ini mendapat kecaman dari berbagai pihak mulai dari Masyarakat, LSM, DPRK dan DPR Aceh

Jelas-jelas Wajah Aceh yang terkenal dengan julukan Serambi Mekkah tercoreng dengan perlakuan oknum oknum yang telah memberi izin terhadap suksesnya Acara kontes pemilihan Ratu Waria tersebut. hal ini menandakan tidak loyalnya pengawasan yang dibentuk Pemerintah atas peraturan dan Hukum yang mengatur tentang Syaria’t Islam, sehingga berdampak miris terhadap pemerintahan Aceh itu sendiri. (Adam)