banner 1280x334

Keberadaan Agama Serta Pluralisme di indonesia

by

Oleh : Jeri Prananda

Semua manusia memiliki hak asasi yang sama, meskipun berbeda agama, ras, etnis, dan budaya (Q.S. al-Hujurat: 13). Indonesia merupakan Negara plural dalam berbagai aspek, diantaranya aspek teologi dan budaya. Oleh karena itu sesuai dengan semboyan Indonesia “Bhinneka Tunggal Ika”. Nah, dari keberagaman itulah perpecahan seharusnya tidak terjadi, dan semestinya dijadikan satu kekuatan besar untuk menghadapi era global yang terkadang dipenuhi hujan kontrakdiksi.

Disinilah pluralitas dan pluralisme sangatlah berkaitan. Ibarat dua sisi mata uang logam yang satu sama lain tak bisa dipisahkan. Pluralitas yang sederhananya berarti keberagaman, merupakan fakta sosial. Sedangkan pluralisme adalah sikap untuk menyikapi pluralitas tersebut. Maka dari itu al-Qur’an sendiri telah menyinggung tentang ajaran pluralism ini, mulai dari perbedaan-perbedaan ras, etnis, agama, dan pula perbedaan pandangan. Kesemuanya telah di ajarkan dalam kitab suci umat Islam (al-Qur’an).

Mestinya manusia menghargai pluralitas sebagai kenyataan hidup mereka itu dalam kehidupan sehari-hari. Hal semacam itu sebetulnya merupakan konsekuensi logis mengapa Tuhan menciptakan pluralitas di dunia ini. Perbedaan bukan untuk menegasikan yang lain, atau menafikan yang lain.

Tetapi lebih dari itu, supaya manusia bisa banyak belajar antara satu sama lain, dan membuka jalan dan jalur dialogis atau pertukaran gagasan dan pengalaman yang bersifat konstruktif, bukan destruktif. Pepatah Arab mengatakan:

Undzur ma qaala, wala tandzur man qaala, lihat apa yang dikata, tetapi jangan melihat pada siapa yang berkata.

Konsekuensi lain yang harus diterima dan harus diterapkan oleh manusia dari firman Tuhan dalam surat al-Hujurat ayat 13 itu, diantaranya adalah toleransi terhadap penganut sekte atau keyakinan lain.(sumber), juga kebebasan HAM, demokrasi, tidak fanatik dan yang lainnya harus pula ditegakkan. Sebab tujuan utama agama adalah khusus untuk misi kemanusiaan yang harus bisa memenusiakan manusia seutuhnya, bukan yang lainnya.

Sederhananya, agama harus ‘menghamba’ pada manusia. Artinya, agama harus sejalan dan memihak pada misi kemanusiaan tadi, seperti tidak berprilaku intimidatif atau anarkis terhadap penganut agama lain dan lain sebagainya, sekalipun kita pada posisi mayoritas.

Agama hanyalah sebuah wasilah (perantara) bukan ghoyah (tujuan). Namun faktanya dalam kehidupan sosial, masih banyak masyarakat kita yang menganggap agama sebagai tujuan. Alhasil, klaim sesat selalu muncul untuk menyalahkan kepada siapapun yang berada di luar keyakinan mereka.

Tradisi seperti ini sudah lumrah terjadi sejak zaman dulu kala hingga zaman now, pasca wafatnya Nabi. Dulu, setelah terjadinya arbitrase antara pihak Ali dan Mu’awiyah, muncullah kaum Khawarij yang memposisikan diri mereka sebagai pihak oposisi dari kedua pihak (Ali dan Mu’awiyah). Nah, kaum Khawarij inilah yang selalu menyesatkan dan mengkafirkan pihak yang tidak sevisi dan semisi dengan keyakinan mereka.

Padahal, awalnya hanya perbedaan sikap politik, namun kemudian menjadi sikap teologis. Artinya, kita sebagai akademisi harus jeli, mana yang punya kepentingan politik, mana yang benar-benar berada di jalur teologis. Menetralisir keadaan itu penting.

Kalau kita lihat fenomena teologi Islam di Indonesia sekarang, sangatlah memprihatinkan. Betapa mudahnya mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan perspektif. Perpecahan dalam ruang lingkup Islam saja sudah heboh, apalagi lintas agama? Yang sering bertengkar ya biasanya antara Sunni-Syi’ah, Muhammadiyah-NU, bahkan belakangan Ahmadiyah juga diintimidasi oleh golongan mayoritas di awal. Padahal yang dipermasalahkan hanya perbedaan pandangan, toh semuanya merujuk dari satu sumber yang sama yaitu (al-Qur’an). Karena adanya term saling menyesatkan tadi, sampai mengakibatkan terjadinya tragedi saling menumpahkan darah antar sesama seakan-akan sebuah nyawa itu tidak ada harganya.

Masih ingat kejadian bom bali yang dilakukan kelompok teroris Ali gufron dan gerombolan nya? Image terhadap pemeluk agama Islam sendiri semakin bercitra negatif di mata Barat. Padahal Islam merupakan agama rahmatan lil ‘alamin secara teoritis doktrinal. Tapi pada tatanan praktisnya masih di pertanyakan. Penyebab semua itu karena tidak memahami secara kaffah apa itu Islam. Meminjam istilah Gus Mus, orang yang seperti itu memahami Islam hanya setengah-setengah dan tidak tuntas. Cak Nur juga pernah menulis dalam buku Islam, Pluralisme & Toleransi Keagamaan menegaskan bahwa agama alam semesta adalah al-Islam-sikap pasrah dan taat kepada Sang Kholiq. Perjanjian primordial sebelum manusia lahir ke bumi dalam suatu kesaksian dan pengakuan bahwa Allah itu Tuhan yang Maha Esa, menunjukkan kepatuhan dan ketundukan atau ber-islam kepada-Nya.(sumber)

Penulis beropini bahwa semua Agama memiliki konsep ke-islam-an. Secara esoterik agama-agama yang ada, Yahudi, Nasrani, Islam, Hindu, Budha dan lai-lain berunjuk pada hakikatnya mencari kebenaran dan menuju keselamatan. Mustahil Agama mengajarkan keburukan dan mengajak kesesatan. Karena agama merupakan pedoman manusia untuk mencapai kebahagiaan (happiness).

Dalam sejarah Islam, sikap menghargai pluralitas telah lama dipratekkan. Seperti dalam sejarah Islam awal, apa yang telah dilakukan Nabi dalam mengelola pluralitas masyarakat Madinah. Dan ternyata pengelolaan tersebut berhasil meredamkan ketegangan konflik berkepanjangan antar suku di Madinah. Ada tersirat kata-kata menarik dari Quraisy Shihab yang penulis masih ingat dalam perkataan nya beliau mengatakan

‘Perpecahan terjadi akibat kesalahpahaman. Bukan sesuatu yang gampang manusia mampu memahami satu sama lain. Dan itu merupakan hal yang tidak mudah’.

Menurut penulis, konsep toleransi keagamaan harus ditumbuhkan dalam hati manusia dalam peradaban ini. Bahwa sesungguhnya di dunia hanya ada kebenaran-kebenaran yang sifatnya relatif, dan kebenaran yang tunggal itulah hanya punya yang Muthlaq yaitu kebenaran dari Allah.

Sikap perbedaan pendapat di dalam tatanan kemasyarakatan harus betul betul di pahami dengan benar sehingga tidak melahirkan Kontroversi yang menimbulkan perpecah belahan antar manusia hingga menyebabkan pertumpahan darah yang tidak bermakna. Perbedaan persepsi dari segala lini tidak menjadikan sebuah masalah dan persoalan, akan tetapi melalui perbedaan perbedaan persepsi tersebut bisa menciptakan kerukunan dan persatuan antar sesama bangsa demi terwujudnya kemaslahatan negeri yang tercinta.

Penulis adalah mahasiswa Aceh barat daya yang sedang kuliah di jurusan manajemen dakwah fakultas dakwah dan komunikasi kampus Uin Ar-Raniry Banda Aceh