oleh

Jus Satoimo Sedot Minat Pengunjung Stand Expo Distanbun Aceh

image_pdfimage_print
Serba serbi PKA VII 

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Gelaran akbar budaya aceh bertajuk Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke VII yanga g akan digelar selama 11 hari dari tanggal 5 sampai dengan 15 Agustus 2018 kali ini, terlihat semakin semarak dengan keikut sertaan Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) dalam kegiatan Expo Aceh yang merupakan bagian dari even PKA VII tahun 2018 melengkapi stand pemerintah kabupaten/kota dari seluruh Aceh. Kehadiran SKPA dalam Expo Aceh ini adalah untuk mempublikasikan dan mempromosikan hasil kerja dari masing-masing SKPA selama ini.

Salah satu SKPA yang turut berpartisipasi dalam Expo Aceh kali ini adalah Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Instansi yang kini dipimpn oleh A. Hanan, SP, MP ini mengusung berbagai produk pertanian unggulan dari semua kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. Selain memamerkan produk pertanian unggulan, Distanbun Aceh juga menampilkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pertanian dan memajang potensi pengembangan komoditi pertanian di seluruh wilayah Aceh serta menampilkan berbagai keberhasilan yang telah diraih oleh instansi yang menangani teknis pertanian dan perkebunan ini.

Begitu even PKA ini dibuka Minggu (5/8/2018) kemarin oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy didampingi Plt Gubernur Aceh, ir. Nova Iriansyah, MT Ars dan Wali Nangroe, Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, semua stang Expo Aceh langsung dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Bahkan sebelum acara dibuka secara resmi, sudah banyak pengunjung yang ‘menyerbu’ stand ini. Meskipun fokus dari penyelenggaraan PKA VII adalah pagelaran budaya, namun kehadiran Instansi teknis dengan berbagai promosi produk unggulan likal Aceh, juga cukup menarik minat pengunjung.

Seperti yang terlihat pada stand Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sejak Minggu sore hingga malam harinya. Selain tertarik untuk melihat produk-produk pertanian unggulan Aceh seperti Kopi Arabika, Pala, Lada, Kakao, serta produk hortikultura seperti Jeruk, Manggis dan berbagai produk sayur-sayuran, ternyata ada yang lebih menarik perhatian para pengunjung PKA. Menurut koordinator expo Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, drh. Ahdar, MP, dalam expo kali ini pihaknya mengurung produk pangan alternatif yang belakangan mulai populer di berbagai daerah dan kini sudah dikembangkan di Aceh. Produk pangan baru yang ditampilkan oleh Distanbun Aceh ini adalah Talas Jepang atau Talas Satoimo.

Talas Satoimo (Colocasia esculenta var antiquarum) memang baru sekitar tiga tahun lalu mulai dikembangkan di Aceh, dimulai dengan ujicoba di lahan Balai Diklat Pertanian Aceh di Saree Aceh Besar. Berbeda dengan jenis talas lainnya, talas jepang selain dikonsumsi dalam bentuk pangan olahan, dapat juga dikonsumsi dalam keadaan mentah dengan cara dimakan langsung atau dibuat jus. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa talas Satoimo banyak mengandung collagen, salah satu jenis protein yang diyakini mampu menghambat penuaan kulit. Selain itu kandungan collagen dalam talas jepang ini juga bisa mengurangi resiko pengeroposan tulang (osteophorosis) dan melancarkan peredaran darah serta mengurangi resiko tekanan darah tinggi dan serangan jantung (stroke).

Meski sudah cukup lama dikembangkan di Aceh, namun masih banyak kalangan masyarakat Aceh yang belum mengetahui khasiat mengkonsumsi talas yang memang berasal dari negeri sakura ini. Inilah yang menginspirasi Ahdar untuk mengusung produk pangan baru ini untuk diperkenalkan secara luas kepada masyarakat Aceh dan pengunjung PKA dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Ternyata ide Ahdar mendapat sambutan luar biasa, setelah memperoleh leaflet tentang talas satoimo yang dibagikan secara cuma-Cuma oleh penjaga stand, pengunjungpun mulai penasaran dan tertarik untuk mencicipi talas yang konon bisa bikin awet muda ini. Selain ditampilkan dalam bentuk umbi mentah dan produk pangan olahannya, Ahdar juga dudah menyiapkan jus Satoimo dalam kemasan dan menyediakan juicer bagi mereka yang ingin menikmati jus satoimo dalam keadaan segar, apalagi mereka dapat menikmati jus segar ini secara gratis. Bagi yang belum pernah mencoba, rasa jus satoimo ini mirip seperti perpaduan antara benguang dan salak pondoh, sama sekali tidak tersa sebagai talas pada umumnya.

“Saya tidak menduga, pengunjung begitu antusias untuk mencoba minuman sehat jus satoimo ini, setelah kami bagikan leafletnya, para pengunjung penasaran ingin mencobanya, dan kami sudah mengantisipasinya dengan menyediakan ratusan cup dan satu juicer besar untuk membuat jus satoimo segar yang khusus kami sediakan secara gratis bagi pengunjung PKA ini” ungkap Ahdar.

Lebih lanjut Ahdar mengungkapkan, dengan semakin dikenalnya khasiat talas satoimo, nantinya akan membuka pangsa pasar produk ini, dan ini akan menjadi peluang bagi petani untuk menigkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Menurut Ahdar, pengembangan talas satoimo di Aceh sudah dimulai di kabupaten Aceh Besar, selain untuk memenuhi pangsa pasar ekspor ke negara Jepang, juga untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang semakin hari semakin meningkat.

Amatan penulis sampai tadi malam, pengunjung PKA terus ‘menyerbu’ stand Distanbun Aceh, salah satunya karena tertarik untuk mencicipi jus ‘awet muda’ ini. Ahdar memprediksi, peminat jus satoimo dari kalangan pengunjung PKA akan terus bertambah sampai dengan penutupan even kebudayaan ini. Dia mersa bersyukur, ajang budaya ini ternyata juga bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan produk pertanian yang berpotensi untuk mengangkat kesejahteraan petani Aceh.

“Selain menjadi even melestarikan budaya Aceh, ternyata even ini juga bisa jadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kami sangat bersyukur bisa membantu petani untuk memperkenalkan dan mepromosikan produk pertanian yang mereka hasilkan melalui even ini” pungkas Ahdar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed