oleh

Insfirasi Budaya Dari Lembah Birah Panyang ” Toweren Antara”

banner 300x250
image_pdfimage_print

Takengon, Baranewsaceh.co – Toweren Antara adalah sebuah kampung hasil dari pemekaran dari kampung induk Toweren. Kampung tua ini terletak di kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Sebelumnya kampung Toweren merupakan satu kesatuan. Namun proses pemekaran kampung  ini telah terbagi kedalam 4 (empat) desa, yakni, Kampung Toweren Antara, Kampung Toweren Toa, Kampung Toweren Uken dan Kampung Waq. Kendati terpisah secara administrasi Toweren masih tetap satu. Hal ini di tandai dengan berdirinya sebuah masjid besar sebagai pusat ibadah bagi masyarakat Toweren secara keseluruhan.

Dalam rangka memeriahkan HUT RI yang ke 73. Kampung Toweren Antara memiliki tradisi yang lain dari desa yang lainnya. Ada sesuatu yang unik di Kampung Toweren Antara. Hal yang pertama adalah Kekompakan masyarakatnya yang selalu menyatu dalam segala asfek kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Selanjutnya bila kita berbicara tentang eksistensi adat dan budaya Gayo, maka di Kampung Toweren Antara, kesemuanya itu masih ada. Kampung ini masih melestari tradisi adat budaya, serta kearifan lokal.

Hal yang positifnya, para orang tua juga mewariskan tradisi dan tatacara yang berkaitan dengan tradisional Gayo tempo douloe kepada para generasi mudanya. Sehingga dapat di pastikan 10 tahun kedepan tren tradisi  kearipan lokal warisan budaya leluhur, masih ada di kampung ini.

Begitu juga pada kegiatan pesta rakyat dalam rangka HUT RI ke 73 tahun ini. Kampung Toweren Antara memberikan warna lain dalam hal pesta rakyat. Sentuhan kearifan lokal merupakan materi utama untuk terus di kembangkan dan di pertahankan. Budaya ini adalah tren positif dan layak menjadi sumber insfirasi bagi kampung kampung lainnya di Kabupaten Aceh Tengah.

Ahmad Zaky (23) sumberBaranewsaceh.co di Kampung Toweren Antara Sabtu (18/08) mengatakan. Pelaksanaan pesta rakyat tahun ini khususnya Kampung Toweren Antara banyak menampilkan sentuhan budaya lokal seperti pelatihan membuat senuk ” sendok nasi yang terbuat dari batok kelapa. Pelatihan munayu ” mengayam tikar” pelatihan munyemat ” menyematkan daun rumbia pada sebilah bambu yang nantinya di pergunakan sebagai bahan atap rumah. Pelatihan membuat jangkat. Ayaman serabut dari kulit pohon yang di pergunakan sebagai tali sebagai pengikat dan cantolan saat menggendong kayu bakar. Selanjutnya pelatihan membuat kue tradisional seperti timpan dan yang lainnya bagi para remaja putri.

Sementara aneka permainan mungkin ada kesamaan dengan kampung kampung lainnya, cuma ada satu yang tampil beda yaitu “Pacu kuda sange”. Pacu kude sange adalah lomba berlari bagi usia anak anak dengan membuat batang dedaunan yang biasa tumbuh di pinggiran jalan, oleh penduduk setempat di namai “Sange” pokok sange juga sering di pergunakan sebagai bahan pembuat sangkar burung.

Lomba ini mirip dengan peran seorang zoki yang sedang memacu kudanya. Lomba ini hanya di peruntukan bagi anak anak usia sekolah dasar. Intinya dari permainan ini, siapa yang lebih cepat berlari itulah pemenangnya.

Kesemuanya merupakan satu kesatuan tradisi dan kearifan lokal yang hampir terlupakan. Bahkan generasi sekarang diyakini tidak mampu lagi memahami proses pembuatan benda benda tersebut.

Ide kreatif dari pemuda Toweren Antara ini pantas di apresiasi sebagai motivasi positip bagi pelestarian budaya, lalu apakah kampung kampung yang lain di Aceh Tengah, apakah masih punya keinginan untuk mewariskan budaya dan tradisi tersebut pada generasi akan datang. Atau sebaliknya tradisi adat budaya leluhur ini hanya tinggal catatan dalam buku, sementara kita sebagai orang Gayo dan pelaku sejarah tidak tau lagi bagaimana mewariskan pada generasi berikutnya. (DN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed