oleh

Ideologi Pancasila Masih Relevan dalam Merangkul Masyarakat NKRI

Oleh: Januar Pagar M.Lubis

Pancasila yang lahir tanggal 1 Juni 1945 yang idenya keluar dari Ir.Soekarno dkk, menjadi rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa kepada masyarakat Indonesia lewat Founding Fathers kita. Pancasila yang terdiri dari 2 kata, yaitu Panca artinya lima,dan Sila yang maknanya dasar. Adapun bunyi dari Pancasila adalah Sila I-V, yaitu Ketuhanan yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Adapun Pancasila didapatkan dari hasil nilai-nilai,budaya,tradisi yang ada di Bumi Nusantara yang disarikan oleh Bapak Founding Fathers . Pancasila yang menjadi dasar , ideologi, dan falsafah Negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI), cukup ampuh dalam proses perjalanan bangsa kita. Kita masih mengingat pemberontakan PKI Madiun tahun 1948, dan puncaknya pemberontakan G30S/PKI tahun 1965 yang mencoba mengganti dasar Negara Pancasila, adalah gagal.

Disalah satu media yang pernah ditonton oleh penulis, Ada seseorang pengkritik yang melampiaskan uneg-unegnya dan keluhan(complain) kepada Pemerintah(Negara) yang mencoba “mengganti”  Pancasila menjadi Pancagila yang inisialnya (SG) mengatakan, bahwa Pancagila itu adalah1. Keuangan yang maha kuasa  2.Korupsi yang adil dan merata 3. Persatuan mafia hukum Indonesia  4. Kekuasaan yang dipimpin oleh nafsu kebejatan dalam persekongkolan dan kepura-puraan 5.Kenyamanan sosial bagi seluruh keluarga pejabat dan wakil rakyat.Walaupun kritik (SG) pada faktanya ada “benarnya” tetapi  Pelaku yang mencoba “mengganti” Pancasila diancam pasal 68 UU no.24 Tahun 2009.

Salah seorang narasumber media ini yang tidak perlu diungkapkan ke publik, menyebutkan bahwa pelanggaran terhadap sila-sila Pancasila akan berdampak dan berisiko. Lebih lanjut, Dia mengungkapkan bahwa 5 Presiden RI berturut-turut, yaitu  Ir.Soekarno jatuh karena pelanggaran Sila I Pancasila,yaitu mencoba toleran dengan Komunis yang berupaya “meniadakan” Allah dan agama-agama lewat Nasakom ; Jend.(Purn) Soeharto habis kekuasaannya karena melanggar Sila II Pancasila,yaitu kekuasaan yang otoriter yang menangkap orang dan memenjarakan orang tanpa prosedur hukum(mutlak); Prof.Dr.(ing)Baharuddin Jusuf Habibie berakhir jabatannya karena tidak melaksanakan  Sila III Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia dengan lepasnya Provinsi Timor-timur(Timtim) dari NKRI; K.H. Abdurrahman Wahid berakhir pemerintahannya karena tidak melakukan Sila IV Pancasila,yaitu ingin membubarkan DPR; dan terakhir ialah Presiden Megawati Soekarno yang “lengser” karena tidak mengindahkan Sila V Pancasila, yaitu tidak mengungkap dalang kasus 27 Juli tentang penyerbuan Gedung DPP PDI di Jl.Diponegoro, tabir kejahatan Orde baru.

Terbukti, Pancasila masih cocok dan tidak ketinggalan(Aktual), serta masih membaharui(Reformatif) dalam Negara kita yang menerapkan 4 pilar kabangsaan,yaitu Pancasila,UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal ika; di saat sekarang masih dilanda terorisme dan radikalisme, dan tahun politik.

Kini,BPIP sudah dilantik oleh Presiden Joko Widodo, dengan Megawati Soekarnoputri sebagai ketua Dewan pengarah, Prof.Dr.Mahfud MD, K.H. Maarif Amin, Prof.Dr.Syafii Maarif, Pdt.Dr.A.A.Yewangoe, Romo.Benny Soesatyo,Yudi Latif,dll.

Penulis: Jurnalis Baranews.Aceh, Pengamat kebijakan publik, Hukum, dan Lingkungan hidup

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed