Hiruk Pikuk Tentang Muslim Ikut ‘Merayakan’ Natal Dan Perayaan Pergantian Tahun Baru

by
Jeri Prananda

Oleh : Jeri Prananda

Belakangan ini terjadi hiruk pikuk luar biasa di kalangan kaum muslimin tentang hukum merayakan natal yang tidak lain adalah hari besar umat kristiani. Suatu hal yang lumrah jika umat kristiani merayakannya karena terkait dengan keyakinan yang mereka anut. Namun, disini penulis ingin mencoba membenah bagaimana hukum seorang muslim ikut merayakan natal.

Penulis memakai kata ‘merayakan’ dengan tanda petik karena untuk mencakup makna merayakan secara hakiki dengan ikut datang ke gereja, menghadiri natal serta ritual terkait dan diakhiri dengan makan bersama. Makna lain dari merayakan adalah mengucapkan selamat natal sampai pada bentuk memakai atribut dan pernak- pernik natal baik karena tuntutan kerja maupun sebagai bentuk toleransi kepada teman yang beragama lain ataupun sebab-sebab lainnya.

Kira-kira jika sampai pada tingkatan ikut menghadiri natal di gereja mayoritas dari kaum muslimin sekarang akan mengingkarinya, kecuali bagi sebagian kelompok JIL (Jaringan Islam Liberal) atau yang sejalan dengan mereka yang menganggap boleh saja seorang muslim turut hadir ke gereja.

Bentuk lain dari ikut sertanya seorang muslim merayakan natal adalah dalam bentuk mengucapkan selamat natal, memakai atribut-atribut natal dan semisalnya. Disinilah yang justru terjadi kerancuan dan hiruk pikuk. Hirul pikuk terkait polemik masalah ini luar biasa karena tidak sedikit dari tokoh kaum muslimin yang menyatakan boleh-boleh saja seorang muslim mengucapkan selamat natal atau memakai atribut natal toh iman seseorang tidak akan terpengaruh hanya karena melakukan hal-hal tersebut.

Perlu diketahui bersama bahwa ketika ikut merayakan natal berarti kita secara sadar atau tidak sadar menyetujui terjadinya berbagai keyakinan agama mereka. Contoh jelas tidakkah kita ingat bagaimana keyakinan mereka bahwa Allah memiliki putra ? Dalam Surat al Ikhlas yang kita hafal bersama dengan tegas menyatakan bahwa Allah tidak berputra, (lam yalid wa lam yuulad) Allah tidak melahirkan serta tidak berputra dan tidak pula dilahirkan

Ketika ikut memakai pernak-pernik natal berarti kita telah menyerupakan diri kita dengan mereka, Nabi Muhammad SAW pernah bersabda (artinya) “Siapa saja yang menyerupai dengan suatu kaum maka dia bagian dari kaum tersebut.” Apalagi kalau kita merenungi kembali satu-satunya doa yang kita diperintah untuk selalu mengulanginya di setiap rakaat shalat yaitu ihdinash shirathal mustaqim. Shirathlladzina an’amta ‘alaihim ghairil maghdhubi ‘alaihim waladhdhaallin. Para ulama ahli tafsir sepakat bahwa kita diperintahkan untuk tidak menyerupai almaghdhubi ‘alaihim dan adhdhaallin yaitu orang Yahudi dan Nasrani serta siapa saja yang menyerupai mereka.
Dengan kita menyerupai mereka dalam rangka memeriahkan natal akan berakibat timbulnya kebahagiaan dan kebanggaan di dalam qalbu mereka bahkan bisa jadi menyemangati mereka untuk semakin giat menyebarkan ajaran agama mereka padahal kita tahu bahwa Allah ta’ala telah menegaskan bahwa tiada agama yang diterima di sisi-Nya kecuali Islam (Qs’ Ali Imran 19 dan 85) sumber_Al-qur’an.

Mereka akan semakin bersemangat melakukan kristenisasi terutama kepada kaum muslimin yang lemah iman dan ekonomi dengan penyaluran bantuan bantuan sembako dan sebagainya.

Mengucapkan selamat terkait dengan perayaan orang kafir adalah perbuatan haram dengan kesepakatan para ulama atas dasar dalil yang kuat. Sama halnya dengan mengucapkan selamat natal atas penyembahan terhadap salib. Jika ada yang berujar bahwa imannya akan tetap kokoh dan tidak terpengaruh hanya karena mengikuti perayaan natal maka sesungguhnya ucapan ini menunjukkan pada fakta bahwa dia telah tertipu dengan keadaan dirinya dan tidak memahami hakikat iman dan akan muncul dari dirinya pengingkaran terhadap kemungkaran yang terjadi di depan matanya termasuk perayaan natal yang dari sudut pandang agama Islam termasuk kemungkaran yang besar bahkan kesyirikan kepada Allah.

Terkhusus masalah yang sedang kita bicarakan, Sahabat nabi Muhammad SAW yaitu Umar bin khatab pernah berkata ‘Jauhilah musuh-musuh Allah ketika mereka berhari raya. Artinya, semakin kuat dan benar iman seseorang dia akan semakin takut terhadap hal-hal yang bisa merusak imannya bukan semakin santai dan membanggakan imannya.

Pembahasan singkat terhadap peringatan dan perayaan tahun baru

Imam Abu Dawud dan An Nasai meriwayatkan sebuah hadits shahih dari sahabat Anas ibn Malik radhiyallahu ‘anhu bahwa ketika Nabi Muhammad SAW tiba di kota Madinah setelah hijrah dari Mekah, beliau menjumpai penduduk Madinah memiliki dua hari yang dirayakan dimana pada kedua hari itu mereka bermain-main dan bersenang-senang. Kemudian beliau bertanya ada apa dengan kedua hari tersebut dan mengapa sampai dirayakan dengan bersenang-senang.? Maka dijawab bahwa itu kebiasaan mereka sejak zaman jahiliyyah. Maka beliau bersabda.

(artinya) : “Sungguh Allah telah mengganti untuk kalian kedua hari itu dengan yang lebih baik, yaitu Idul Fitri dan Idul Adh-ha.” Hadits mulia ini memberi tuntunan kepada kita bahwa umat Islam hanya memiliki dua hari Idul tiap tahunnya yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.

Para ulama menjelaskan bahwa dua hari yang ketika itu dirayakan oleh penduduk Madinah sebelum datangnya nabi Muhammad SAW adalah dua hari yang asalnya dirayakan oleh Persia untuk merayakan awal tahun baru mereka dimana pada kedua hari itu kondisi udara sedang sejuk-sejuknya, tidak dingin dan tidak panas serta lamanya siang malam seimbang. Kemudian pada akhirnya sebagian orang Arab mengikuti kebiasaan bangsa Persia ini sampai Nabi Muhammad SAW melarangnya.||(sumber_hadist).

Peristiwa yang terjadi di zaman nabawi ini diabadikan dalam hadits yang shahih diriwayatkan dari generasi ke generasi sampai ke zaman kita sekarang. Sungguh kalau diamati kejadian di waktu itu sangat mirip dengan fenomena perayaan tahun baru di masa kini yaitu kaum muslimin mengadopsi dan meniru kebiasaan orang-orang Nasrani dalam merayakannya. Memang mungkin menurut anggapan mayoritas kaum muslimin yang turut merayakan tahun baru bahwa perayaan itu sama sekali tidak ada kaitannya dengan masalah agama. ternyata memang demikian keadaannya ketika datang larangan dari Nabi Muhammad SAW kepada penduduk Madinah bahwa mereka tidak menganggap perayaan kedua hari itu sebagai bagian dari agama. walau demikian Nabi Muhammad SAW tetap melarangnya.

Bagaimana jika ternyata perayaan tahun baru sangat berkaitan erat dengan suatu keyakinan dalam agama Nasrani bahkan sebagian referensi menyebutkan bahwa bagi sebagian sekte dan aliran di agama nasrani bahwa hari tahun baru lebih mulia dibanding hari natal itu sendiri ? Sebagian lain menyebutkan bahwa awal yang merayakan tahun baru adalah kaum Yahudi dan kemudian diikuti oleh kaum nasrani dan pada akhirnya kaum muslimin mengekor dan mengikuti kebiasaan dua agama yang jelas-jelas dilaknat dan dimurkai oleh Allah swt. Hanya bedanya, tahun baru bagi kaum Yahudi dinamakan rosh hasanahyang jatuh pada tanggal 5 September menurut kalender biasa. Namun, inti perayaan tahun baru diambil oleh kaum nasrani dari mereka adapun tanggalnya maka nasrani memiliki tahun baru tersendiri yaitu 1 Januari.

Perayaan tahun baru yang lazim diadakan mengandung beberapa hal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam diantaranya, menghambur-hamburkan uang dalam hal yang tidak bermanfaat bahkan justru mendatangkan madharat dan kerugian. Perbuatan seperti ini jelas merupakan warisan dari setan dan menunjukkan kurangnya rasa syukur kepada Allah Yang Maha Kuasa dan menyia-nyiakan waktu dalam hal yang tidak manfaat bahkan menimbulkan dosa. Padahal setiap kita akan ditanya di hari kiamat terkait umur yang Allah ta’ala anugerahkan bagaimana kita memanfaatkannya.

Dari tulisan diatas dapat kita simpulkan bahwa peranan seorang muslim dalam ikut ‘merayakan’ hari natal serta peringatan tahun baru sangat dilarang dalam pandangan islam. dan ini bukan hanya melalui sekedar ucapan melainkan berdasarkan landasan referensi sangat kuat yang bersumber dari alquran dan hadist. Semoga tulisan ini dapat bermanfaat bagi umat sehingga bisa menjadikan refleksi agar lebih memaknai arti toleransi terhadap yang beda pemahaman dengan umat islam.

Penulis adalah kabid infokom fordya blangpidie-abdya yang sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi kampus Uin Ar-Raniry Banda Aceh fakultas dakwah dan komunikasi, jurusan manajemen dakwah.