oleh

Hanya Berefek ke Pemilih Tradisional dan Milenial

Baranewsaceh.co – Kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden beberapa waktu lalu sudah menyerahkan foto dan nama yang akan dicantumkan di surat suara untuk Pilpres 2019. Foto kedua pasangan capres yang berbeda kostum ini diklaim masing-masing kontestan memiliki arti penting.

Seperti diketahui, dalam foto resmi yang diluncurkan KPU, pasangan Jokowi-Ma’ruf memakai baju putih dan Ma’ruf pakai peci hitam dan Jokowi tidak memakai. Sedangkan Prabowo-Sandi memakai setelan jas berwarna hitam dan juga memakai kopiah.

Menanggapi hal ini, sejumlah pengamat politik menyatakan bahwa foto yang dimunculkan oleh kedua pasangan capres-cawapres di surat suara yang sudah dipublikasikan oleh KPU lewat iklan Youtube berjudul “Yuk Kenali Peserta Pemilu 2019” ini tidak akan memengaruhi perubahan pemilih saat pencoblosan.

“Tidak ada pengaruh signifikan. Untuk memilih capres-cawapres di Pemilu 2019 nanti publik sudah lebih mengenal pilihan kedua pasangan capres itu, tanpa berpengaruh dari foto ataupun titel atau gelar nama yang ada di surat suara,” kata Direktur lembaga kajian politik, hukum dan demokrasi Universitas Sebelas Maret Surakarta, Agus Riewanto, kepada INDOPOS, Kamis (3/1/2019).

Ia menjelaskan, publik saat ini sudah tahu siapa yang harus dipilih untuk capres-cawapres berdasarkan rekam jejak.

“Pilihan rakyat terhadap capres-cawapres lebih kepada aspek ketokohan calon dan seberapa besar program dan janji selama kampanye kelak dapat diwujudkan,” jelasnya.

Senada juga dijelaskan oleh peneliti Indonesia Public Institute (IPI) Jerry Massie. Menurutnya perubahan pilihan didasarkan foto di surat suara relatif kecil.

Namun dirinya tidak memungkiri jika di sisa tiga bulan jelang pemilihan 17 April 2019, kedua tim pemenangan terus memainkan isu dari foto di surat suara itu, maka publik bisa sedikit berubah. “Tapi jika terus di-blow up maka bisa berdampak luas. Ini punya influence atau pengaruh terhadap pemilih mengambang dari tradisional. Begitu pula pemilih milenial bisa terperangkap juga,” ucapnya.

“Namun bagi pemilih rasional dan kalangan akademis, hal itu tidak ada pengaruhnya. Apalagi saat ini media sosial sudah kencang sekali mempekenalkan rekam jejak dari kedua pasangan capres-cawapres itu,” tambah Jerry.

Sebelumnya, Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-KH Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto, menjelaskan soal foto yang dipakai capres-cawapres itu agar terlihat kontras dengan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

“Jadi foto tentu saja ini juga mencerminkan bagaimana Pak Jokowi dan Kiai Ma’ruf itu kan putih. Yang di sana hitam bajunya. Sini putih, sana hitam. Kemudian Pak Jokowi mencerminkan optimisme memandangnya menatap masa depan dengan percaya diri. Yang di sana menunduk. Itu dari fotonya,” ujar Hasto kepada wartawan di Jakarta.

Hasto menjelaskan bahwa Kiai Ma’ruf menunjukkan jati dirinya sebagai seorang ulama dengan menggunakan sarung tidak ada perubahan di situ. “Dan kemudian Pak Jokowi juga mencerminkan bersama Kiai Ma’ruf keindonesiaan kita. Jadi dari warnanya aja kontras. Yang di sini putih, yang di sana hitam,” jelas Sekjen PDIP ini.

Padahal sebelumnya, Jokowi tidak mengenakan peci dalam foto yang dipublikasikan KPU untuk sosialisasi peserta Pilpres 2019. Hasto menepis perubahan foto Jokowi berkaitan dengan politik identitas.

“Oh nggak. Itu kan foto ini lebih pada mencerminkan bagaimana pemimpin itu tampil apa adanya di depan rakyat. Gitu,” ujarnya.

Namun sindiran itu disambut oleh juru bicara Badan Pemenangan Prabowo-Sandi, Andre Rosiade.

Ia menjelaskan bahwa kostum capres-cawapres nomor urut 02 itu tidak mencerminkan keburukan hati. “Yang penting itu hati jangan hitam. Untuk apa baju putih tapi sebatas pencitraan, tapi sebatas… tapi hatinya hitam. Janji-janji manis, tapi tidak ditepati setelah berkuasa,” ujar Andre, Kamis (3/1/2019).

Andre memerinci hal-hal yang disebutnya hanyalah pencitraan dan janji-janji manis kubu Jokowi. Andre menyinggung soal mobil Esemka. “Itu faktanya, mulai dari Esemka, mobil Esemka tuh bisa dijadiin monumen itu, monumen kebohongan namanya,” sebut Andre.

Andre menegaskan tak ada yang salah dari setelan jas hitam yang dikenakanPrabowo-Sandi. Andre, saat ditanya apakah setelan jas hitam itu akan dipakai Prabowo-Sandi sebagai foto surat suara, tak bisa menjawab. Saat ini, foto Prabowo-Sandi berjas hitam disebutnya sementara dipakai di beragam alat kampanye paslon nomor urut 02 itu.

“Pak Prabowo nggak ada masalah pakai jas warna hitam, tapi hatinya tidak hitam, tidak membohongi rakyat. Mulai dengan mobil Esemka sampai sekarang nggak jelas juntrungannya. Tidak ada masalah jas Pak Prabowo dan Bang Sandi hitam. Yang penting hatinya tidak menipu rakyat seperti jagoannya Mas Hasto. Kalau Pak Prabowo jadi presiden, saya usulkan bikin monumen antikebohongan, mobil Esemka monumennya supaya jadi catatan bagi rakyat. Jangan bohong,” cetus Andre menambahkan.

Sumber : INDOPOS.CO.ID

banner 300x250

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed