banner 1280x334

Dibalik Janji Manis Kaderisasi Kaum Muda Aceh

by
Adam Zainal (Kinet BE)

Opini !
Penulis
Adam Zainal (Kinet BE)

Kaderisasi atau Pengkaderan adalah proses pendididikan jangka panjang untuk pengoptimalan potensi-potensi kader dengan cara mentransfer dan menanamkan nilai-nilai tertentu, hingga nantinya akan melahirkan kader-kader yang tangguh. Kaderisasi Bukanlah hal yang baru terdengar dikalangan Anak Muda Aceh dari dulu sampai sekarang, semenjak Partai Politik Lokal di Aceh didirikan. Pengkaderan Pemuda-pemudi Aceh adalah sebuah misi atau tujuan utama yang tertulis dan mungkin juga sering didengungkan oleh Pihak-pihak pemangku jabatan dan tokoh-tokoh Intelektual Aceh yang ada didalam Partai Lokal Aceh tersebut, salah satunya Partai Aceh (PA).

Ironisnya! Hal itu tidak pernah juga dilakukan. Padahal tanggungjawab mereka dengan kaum muda Aceh terbilang sangatlah besar. Salah satu Kewajiban mereka adalah mencerdaskan generasi masa depan Aceh dengan kultur kaderisasi dan memberi pemahaman serta pendidikan politik yang Ber-ideologi KeAcehan.

kaderisasi suatu lembaga atau suatu kelompok pemuda dapat dipetakan menjadi dua ikon secara umum. Pertama, pelaku kaderisasi (subyek). Dan kedua, sasaran kaderisasi (obyek). Untuk yang pertama, subyek atau pelaku kaderisasi sebuah lembaga adalah individu atau sekelompok orang yang dipersonifikasikan dalam sebuah organisasi dan kebijakan-kebijakannya yang melakukan fungsi regenerasi dan kesinambungan tugas-tugas lembaga. Sedangkan yang kedua adalah obyek dari kaderisasi, dengan pengertian lain adalah individu-individu atau Pemuda-pemuda yang dipersiapkan dan dilatih untuk meneruskan visi dan misi lembaga.

Kaderisasi merupakan kebutuhan internal lembaga yang tidak boleh tidak dilakukan. Layaknya sebuah hukum alam, ada proses perputaran dan pergantian disana, misalkan yang Tua digantikan dengan yang muda. Kerena pengdahulunya tidak akan kekal dan abadi dalam mengurus suatu lembaga. Namun satu hal yang perlu kita pikirkan, yaitu format dan mekanisme yang komprehensif dan mapan, guna untuk memunculkan kader-kader yang tidak hanya mempunyai kemampuan di bidang manajemen lembaga, tapi yang lebih penting adalah tetap berpegang pada komitmen sosial dengan segala dimensinya.

Sukses atau tidaknya sebuah institusi Lembaga dan wujud dari keberlanjutan dari lembaga tersebut adalah munculnya kader-kader muda Baru yang memiliki kapabilitas dan komitmen terhadap dinamika sebuah Daerah untuk masa depan. Namun selama ini hal tersebut sangat bertolak belakang dengan tujuan dan harapan yang diinginkan oleh kaum muda Aceh itu sendiri. Karenanya, Kata Kaderisasi hanyalah bualan semata, dan janji manis ditaburi gula hanya untuk meyakinkan kaum muda.

Dalam kurun waktu selama 12 tahun ini, pasca perdamaian Aceh tidak ada satupun kaum muda Aceh yang ditampilkan atau dimunculkan dari proses kaderisasi tersebut, Baik itu dari pemangku kebijakan yang notabane dari Partai Lokal (Parlok) atau pemuda yang erat ruang lingkup tokoh-tokoh intelektual Aceh yang mempunyai segudang ilmu tentang sejarah dan Ideologi KeAcehan. Bahkan tidak ada tokoh muda yang dimunculkan dari proses blusukan dan pencitraan politik dari Program sekolah politik yang kini sedang dicanangkan oleh individu-indivdu tertentu. Faktanya, Mereka ketakutan jika posisinya dalam sebuah lembaga digantikan oleh Pemuda.

Terkesan, hal tersebut hanyalah sebuah kebohongan nyata yang dipertontonkan oleh intelektual-intelektual yang duduk disebuah lembaga partai tertentu guna untuk mencari dukungan dengan mengorbankan pemuda sebagai buruh atau kuli politik dalam meraup suara untuk mendapatkan kursi kekuasaan didalam parlemen Pemerintah Aceh.

kaderisasi (sebagai proses) memiliki tugas atau tujuan sebagai proses humanisasi atau pemanusiaan dengan cara transofmasi nilai-nilai sejarah yang ber-ideologi KeAcehan agar Penerus revolusioner Aceh tidak ditelan Bumi. Pemanusiaan manusia disini dimaksudkan sebagai sebuah proses pentrasformasian ilmu yang membuat manusia (dalam hal ini pemuda, mahasiswa) agar mampu meningkatkan potensi yang dimilikinya (spiritual, intelektual dan moral).