oleh

Detik-Detik Kematian HMI Banda Aceh

banner 300x250
image_pdfimage_print

Oleh : Khairul Umam (Komisariat Ushuluddin dan Filsafat)

Andai ranting-ranting jadi pena dan air di lautan menjadi tinta, mungkin belum cukup rasanya untuk menuliskan kesalahan serta kecacatan yang dilakukan kepengurusan HMI tepatnya dicabang Banda Aceh pada akhir-akhir perjalanannya. Tindakan-tindakan diluar akal sehat, kebijakan-kebijakan yang tidak konstitusional serta keanehan-keanehan lain yang diperlihatkan telah tertuang dalam catatan sejarah umat manusia yang kemudian berindikasi buruk bagi kesehatan organisasi ini yang secara jujur kita katakan sudah mulai sakit-sakitan dan monopouse adanya.

Seolah akan mati besok, kelancangan saya menghitung mundur detik pada kematian HMI merupakan hal yang begitu berat dan dosa rasanya. Namun apa hendak dikata, inilah kenyataan yang harus kita akui, bahwa organisasi yang telah hidup selama 71 tahun dan turut aktif merawat demokrasi serta kebhinekaan Indonesia kini keadaannya sudah mulai tidak membaik dan diramalkan harus mati dalam waktu yang singkat. walaupun, diakui atau tidak, kita masih menaruh harapan agar organisasi mahasiswa pertama di indonesia ini bisa hidup lebih hidup lama karena bangsa kita masih sangat butuh organisasi ini, atau lebih tepatnya butuh orang-orang baik di organisasi ini untuk terus mengawal serta menjaga apa yang telah dicita-citakan pendiri bangsa dahulu kala.

Ketika Membuat sebuah ramalah tentang detik kematian HMI cabang Banda Aceh tentu bukan tanpa alasan. Gagasan ini lahir dari sebuah kenyataan yang dilatar belakangi oleh carut-marut kepengurusan cabang yang kian hari makin memuakkan. Agenda-agenda tahunan yang harus nya menjadi kewajiban cabang seyogyanya sudah usai dilaksanakan demi menjaga keseimbangan serta merawat roda perkaderan yang menjadi RUH nya organisasi. Namun apalah daya, belum terakomodirnya kepentingan-kepentingan sampah beberapa oknum menjadi satu kemungkinan terhambatnya laju gerak roda organisasi yang sudah renta ini.

Menjadi satu hal yang wajar kiranya ketika semua orang terkhusus kader-kader HMI cabang Banda Aceh menumbuhkan satu harapan dimana kepengurusan kali ini bisa berahir dengan baik sekaligus menjadi pembelajaran serta percontohan bagi kepengurusan kedepannya. Berakhir dengan terjalankan program-program, serta gagasan-gagasan progresif yang dihadirkan keruang publik adalah sebuah keinginan yang kemudian menjadi harapan-harapn kosong yang bersifat utopia belaka. Namun, menjadi satu kenyataan dimana harapan tetaplah menjadi harapan yang berjarak cukup jauh dari sebuah kenyataan.

Meninggalkan kegelisahan-kegilsahan yang ada. Pertama Kita akan memulai dengan Agenda penting tahunan HMI Cabang Banda Aceh. Molornya Konfercab HMI cabang banda Aceh hari ini yang mestinya sudah berlangsung bahkan selesai adalah sebuah catatan sejarah yang buruk bagi organisasi ini. Di undur-undur nya pesta demokrasi HMI pastilah berimbas negatif serta melahirkan satu efek domino dikalangan kader dan calon-calon kader.

Konfercab yang harus nya menjadi arena pertarungan Ide serta Gagasan mengenai HMI cabang Banda Aceh kini telah menjadi tempat untuk menitipkan kepentingan-kepentingan oknum yang tidak bertanggung jawab terhadap organisasi ini. Hingga, Efek-efek yang ditimbulkan tentu akan melahirkan akibat-akibat yang sangat merugikan Organisasi. Mandeg nya perkaderan serta agenda-agenda penting lain yang kemudian gagal terlaksana merupakan akibat-akibat yang paling berbahaya dari semua tontonan kemunafikan ini. Hingga kita harus mengakui bahwa, Cabang yang harus nya menjadi lokomotif utama serta patron bagi Adik-adik komisariat telah membidani kelahiran bibit-bibit kehancuran bagi organisasi yang lagi-lagi harus kita katakan Tua ini.

Kemudian, Kehadiran Cabang yang harus nya menjadi contoh bagi komisariat-komisariat tentang bagaimana harus nya ber HMI dengan baik dan Santun malah sedang mempertonton kan sebuah drama yang sangat menjijikkan. Satu fakta dimana Praktek-praktek Tidak konstitusional dan menyimpang sangat marak terjadi pada jelang-jelang agenda tahunan (Konfercab).

AD dan ART yang harusnya menjadi pedoman menjalankan roda kepengurusan organisasi telah menjadi buku tua berabu yang kehadirannya seolah tidak dibutuhkan lagi. Ini menjadi malapetka bagi kita semua, Dimana mereka-mereka yang berada disana kini secara masif sudah membawa organisasi ini jauh dari api perjuangann nya.

Sekarang, siapa yang bertanggung jawab atas semua efek yang kemudian dihasilkan atas semua kejadian ini. Agenda tahunan yang seharus nya disana mempertarungkan ide serta gagasan malah menjadi wadah untuk menitipkan kepentingan pribadi yang jauh dari semangat awal Organisasi. Dan mereka-mereka yang berada dibalik ini harus menanggung Dosa atas kegiatan-kegiatan masif yang mencoba menjauhkan organisasi ini dari misi suci nya, serta Kita yang melihat dan mengetahui namun membiarkan organisasi ini yang sudah mulai bergerak ke titik nadir kematian nya.

Kemudian, kita semua menaruh harapan besar agar raja-raja di cabang segera melakukan pertaubatan. Memohon ampun dengan mengembalikan organisasi ini ke Jalur perjuangan awalnya menjadi langkah kecil yang wajib dilakukan untuk menutup dosa-dosa yang sudah terlampau besar adanya. Melepaskan kepentingan-kepentingan pribadi demi satu kepentingan umat serta meletakkan kembali kepentingan di ujung cita-cita serta tujuan-tujuan organisasi itu menjadi satu hal penting dari rentetan kisah panjang tak bertepi ini.

Sekarang, Menjadi PR besar bagi cabang agar segera Menyelesaikan apa yang menjadi tugas serta agenda-agenda tahunan yang merupakan elemen penting bagi bergeraknya roda organisasi yang sudah lama berhenti ini. Dan, AD dan ART yang menjadi pedoman, keberadaannya haruslah dianggap penting agar setiap sikap serta kebijakan organisasi tidak lari dari jalur organisas dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai konstitusi.

Dan terakhir, penting kiranya mengembalikan kesadaran bahwa Wacana keIndonesiaan dan Keislaman yang menjadi Missi dari HMI kini harus menjadi fokus serta tujuan yang digenggam erat dalam mengiringi langkah-langkah perjuangan kita di HMI. Mengingat komitmen kebangsaan melalui keIslaman dan keIndonesiaan yang di usung oleh HMI merupakan satu warisan megah yang kita miliki dan kita semua bertanggung jawab untuk terus merawat tradisi itu. Namun, jika kita masih berkutit dengan kepentingan pragmatis serta tujuan-tujuan kerdil dalam HMI, maka organisasi yang terlampau tua dan sakit-sakitan ini harus siap-siap menemui ajal nya dan kisah-kisah romantis nya akan menjadi satu catatan sejarah yang diceritakan dengan murung ke anak Cucu di hari nanti.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed