oleh

Catur Kule di Pining Dalam Hut Republik Indonesia Ke-73

banner 300x250
image_pdfimage_print

GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO – Dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia ke 73 di kawasan pedalaman Hutan kecamatan Pining pada tahun ini memiliki nuansa baru dari peringatan tahun sebelumnya.

Beragam hiburan dan permainan zaman dahulu yang sudah langka bahkan  mungkin jarang kita temui sekarang kini di tampilkan dalam ulang tahun kemerdekaan tahun ini, antara lain, Kecapi, Permainan Paduk, Gasing dan Catur Kule.

Kecapi adalah Alat musik teradisional suku Gayo, sebuah alat musik bunyi yang bisa mengeluarkan gema dan suara berbentuk nada terbuat dari batang bambu besar, pertunjukan yang ditampilkan oleh kalangan ibu-ibu memberikan kesan kehidupan masa gadis mereka dahulu membuat hanyut para penonton ke zaman dahulu suku Gayo, hal ini di sebabkan karena para pemain dapat memberikan kesan bahwa kecapi adalah salah satu alat hiburan mereka di masa lalu.

Permainan Paduk adalah jenis permainan yang di mainkan oleh anak anak dengan mengunakan beberapa buah biji kemili, biji kemili itu akan di susun yang memiliki beragam nama, dari atas ke bawah, Ulu (berarti kepala ) RONGOK,  TIGE, terus LAH susunan terakhir bernama ATAT, para pemain yang memainkan peran secara bergantian setelah di tentukan lemparan yang paling jauh dari susunan kemiri yang di sebut dengan “MANGKA”, maka dia lah yang pertama mendapatkan jatah untuk melempar kemiri yang di susun, siapa yang bisa mengenai kepala atau susunanya lain nya, maka ia mendapatkan buah kemeri tersebut dari atas sampai kebawah, di akhir permainan siapa yang lebih banyak memperoleh buah kemili dari permainan tersebut maka dia adalah sang Pemenang.

Gasing adalah pertandingan mengadu ketangkasan lewat memutarkan gasing, yang di ikuti oleh orang laki-laki dewasa dalam Pertandingan ini.

Catur Kule, adalah jenis permainan teradisional suku Gayo jenis catur yang terbilang sangat Unik, karna anak catur tidak seimbang antara kedua pemain, satu pemain hanya memiliki dua buah anak catur yang disebut sebagai sepasang Harimau  memainkan peran untuk melindungi diri dari serangan lawan yang memiliki dua puluh dua anak catur, dalam permainan ini jika sepasang harimau ini berhasil masuk perangkap Hinga harimau tidak bisa melangkah, maka pihak harimau kalah.

Penampilan permainan teradisional ini bertujuan untuk mengembalikan pemainan asli suku Gayo  yang kini hampir punah demikian disampaikan oleh camat Pining dalam sambutanya. (USMAN ALI)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed