Final Pacuan Kuda Stadion Seribu Bukit Dipadati Masyarakat

 

Gayo Lues, Baranewsaceh.co – Seminggu Sudah pacuan kuda berlalu tapat pada hari ini minggu 21 Oktober 2018 final pacuan kuda ditutup Bupati Gayo Lues, pacuan kuda yang diadakan setahun sekali di Negeri Seribu Bukit ini.

Dihari penutupan ini sungguh ramai masyarkat menyaksikan siapa pemenang terbaik dalam perlobaan pacuan kuda tersebut.

Dari kampung yang ada di Gayo Lues bahkan ada masyarakat dari Kabupaten Aceh tenggara turun kelapangan stadion seribu bukit hampir tidak adalagi tempat parkir kendaraan roda dua, tiga dan roda empat sungguh ramainya Penonton.

Padatnya penonton di stadion itu hingga ada penonton yang menjerit kesakittan karena kakinya terinjak kawanya, pada siang itu juga semua warung makan, warung kopi,jualan baju padat sekali didatangi penonton tidak ada terlihat yang kosong, sempat heboh juga menjadi perbincangan permainan komoditi putar macat hingga orang tua pada saat itu anaknya sedang berada diatas komiditi dia nekat naik keatas mengamankan anaknya yang sedang ketakutan karna macatnya komoditu putar itu, tidak berlangsung lama komoditi itu macat dan kembali berputar menghibur penonton.

Pada saat itu juga terlihat kuda yang sedang berlari kencang, sang joki seakan memaksakan kuda yang ditungganginya harus meraih piala terbaik dipinal pacuan kuda kali ini.

Hingga berahir dipembagian piala, dalam perlombaan kali ini yang paling banyak meraih juara yaitu kuda dari Kabupaten Aceh Tengah yakni Enam Kuda, dari Kabupaten Bener Meriah Empat Kuda dan Dari Kabupaten Gayo Lues Dua Kuda. (**)




Kompetisi Kopi Untuk Menemukan Barista Terbaik


GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO – Serangkaian kompetisi yang akan berlangsung 17 s/d 18 Oktober 2018 dalam rangkaian Festival Budaya Saman yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Gayo Lues bertempat di halaman Bale Musara Jln. Blangkejeren – Kutacane Kabupaten Gayo Lues, Rabu, (17/10/ 2018).

Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Gayo Lues Safrudin, S.Sos mengatakan “ Kegiatan kompetisi kopi ini adalah salah satu rangkaian kegiatan Indonesiana yang akan dilaksanakan selama 2 hari yaitu Tanggal 17 s/d 18 Oktober 2018.

Kabupaten Gayo Lues merupakan Kabupaten ke-2 di Aceh dan ke-8 di tingkat nasional yang menyelenggarakan kompetisi kopi, ujarnya.

Safrudin  juga mengatakan Dalam kompetisi kopi ini yang dilombakan adalah para Barista (peracik kopi) harus bisa menebak jenis kopi dengan merasakan kopi, meracik kopi yang berasal dari Gayo Lues dan waktu yang tercepat menjadi juaranya.


Kegiatan kompetisi kopi ini akan dinilai oleh para dewan juri yang telah berlisensi Internasional yang berasal dari Banda Aceh, Medan, dan Gayo Lues dan diharapkan dari kompetisi ini dapat mempopulerkan kopi yang ada di Gayo Lues ini, kata Safrudin.

Setelah kopi Gayo Lues ini dikenal di tingkat Nasional dan Internasional diharapkan dapat berdampak positif untuk ekonomi masyarakat Gayo Lues dari budidaya kopi, jelas Safrudin. (ABDIANSYAH)




Bupati Gayo Lues Hadiri Acara Aceh Gayo Trail Adventure (AGTA) 2018

GAYOLUES, BARANEWSACEH.CO – Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru hadiri pelaksanaan kegiatan Aceh Gayo Trail Adventure (AGTA) 2018 bertempat di Lapangan Pancasila  Kp. Jawa Kec. Blangkejeren Kab. Gayo Lues, Pkl. 09.30 Wib, Sabtu, 29 September 2018.

Kegiatan tersebut diikuti oleh sekitar 250 Orang dan tampak hadir di antaranya Ketua DPRK Gayo Lues H.Ali Husin, SH, Dandim 0113/GL Letkol Inf M Faisal Nasution SIP, Kapolres Kab. Gayo Lues AKBP Eka Surahman SIK, Sekda Kab. Gayo Lues H.Thalib SSos MAP, Para kepala Dinas di Kab. Gayo Lues dan para Raider peserta AGTA 2018 dan Para insan pers serta warga masyarakat.

Kadis Pariwisata Kab. Gayo Lues Saprudin S.Sos selaku panitia penyelenggara mengatakan  “ Kegiatan Aceh Gayo Trail Adventure (AGTA) 2018 di Kabupaten Gayo Lues merupakan rangkaian kegiatan Gayo Alas Mountain Internasional Festival (GAMIFEST)”.

Kegiatan akan dilaksanakan selama dua hari mulai tanggal 29 s/d 30 September 2018,  Kegiatan Aceh Gayo Trail Adventure (AGTA) 2018 di Kab. Gayo Lues di ikuti oleh 180 Raider dari berbagai komunitas di Aceh dan Sumatra Utara.  Route yang akan di lalui dalam kegiatan AGTA 2018 yaitu 5 (lima) kecamatan antara lain Kec. Blangkejeren, Kec. Dabun Gelang, Kec. Kuta Panjang, Kec. Blangjerango dan Kec. Kuta Panjang dengan total jarak tempuh sekitar 120 Km, ujar Saprudin S.Sos

Pada kesempatan itu Bupati Gayo Lues H Muhammad Amru  dalam arahannya mengatakan “ Selamat datang kami ucapkan kepada para peserta AGTA 2018 di Kab. Gayo Lues, selamat menikmati keindahan alam Gayo Lues dan tentunya juga segala kekurangan yang di Kab. Gayo Lues.

 

Kami dari Pemda Gayo Lues berharap kehadiran saudara di sini bisa memberi masukan yang positif untuk memperbaiki kekurangan yang ada di Kabupaten Gayo Lues. AGTA 2018 ini merupakan satu rangkaian kegiatan Gayo Alas Mountain Internasional Festival (GAMIFEST) yang di buka di takengon beberapa waktu lalu dan rencananya akan di tutup di Kab. Gayo Lues pada tanggal 20 November 2018, ujarnya.

Untuk GAMIFEST di selenggarakan oleh 4 (empat) Kabupaten antara lain Kab. Bener Meriah, Kab. Aceh Tengah, Kab. Aceh Tenggara ,dan Kab. Gayo Lues.  GAMIFEST ini dilaksanakan karena ke 4 (empat) Kabupaten ini memiliki ke khasan seni budaya yaitu Alas Gayo dan memiliki perbedaan seni budaya yang berbeda dengan Aceh pesisir.   Route yang dilalui sangat menantang dan juga melewati permukiman penduduk sehingga kami berpesan agar peserta berhati hati serta menjaga keselamatan diri masing masing dan masyarakat, jelas H. Muhammad Amru. (ABDIANSYAH) 

 




Pemerintah Diharapkan Kembangkan Destinasi Wisata Halal

Indonesia terus kembangkan destinasi wisata halal (Foto: Istimewa)

Jakarta, Baranewsaceh.co  – Ketua DPR RI Bambang Soesatyo berharap pemerintah mendorong daerah-daerah di Indonesia untuk mengembangkan destinasi wisata yang memenuhi syarat sebagai wisata halal.

“Sampai saat ini belum semua destinasi wisata memenuhi syarat sebagai destinasi wisata halal. Destinasi wisata banyak yang baru mencapai tingkatan wisata ramah Muslim,” kata Bambang Soesatyo, di Jakarta, Senin.

Menurut Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet, masyarakat Indonesia mayoritas muslim serhingga akan lebih tepat jika di daerah banyak destinasi wisata yang memenuhi syarat sebagai wisata halal. Bamsoet berharap, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) segera melakukan langkah taktis dalam membangun kesadaran pasar terhadap wisata halal.

“Pemerintah melalui Kemenpar agar menggandeng pemerintah daerah, akademisi, pelaku industri wisata, komunitas, dan media, untuk membangun lebih banyak wisata halal,” katanya. Menurut dia, Kemenpar juga sebaiknya membangun sinergi dengan unsur penta-helix, guna melakukan percepatan pengembangan destinasi wisata halal di Indonesia.

Bamsoet juga meminta Kemenpar bersama Dewan Syariah Nasional Majelis Ulama Indonesia (DSN-MUI), Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), serta pemerintah daerah di seluruh daerah segera melakukan sertifikasi bagi destinasi yang memenuhi sejumlah persyaratan sebagai wisata halal.

Langkah tersebut, kata dia, untuk perlindungan bagi turis yang menginginkan rasa aman dan nyaman dari aspek syariah saat berwisata di destinasi wisata halal. “Sertifikasi halal tersebut akan berdampak pada peningkatan kualitas hotel ataupun restoran, sehingga mampu mendongkrak daya saing di tengah ketatnya persaingan bisnis wisata, baik perhotelan maupun restoran di Indonesia, sekaligus untuk mewujudkan Indonesia sebagai kawasan taman wisata dunia,” katanya. /Riza Harahap/ANTARA




Insfirasi Budaya Dari Lembah Birah Panyang ” Toweren Antara”


Takengon, Baranewsaceh.co – Toweren Antara adalah sebuah kampung hasil dari pemekaran dari kampung induk Toweren. Kampung tua ini terletak di kecamatan Lut Tawar, Kabupaten Aceh Tengah.

Sebelumnya kampung Toweren merupakan satu kesatuan. Namun proses pemekaran kampung  ini telah terbagi kedalam 4 (empat) desa, yakni, Kampung Toweren Antara, Kampung Toweren Toa, Kampung Toweren Uken dan Kampung Waq. Kendati terpisah secara administrasi Toweren masih tetap satu. Hal ini di tandai dengan berdirinya sebuah masjid besar sebagai pusat ibadah bagi masyarakat Toweren secara keseluruhan.

Dalam rangka memeriahkan HUT RI yang ke 73. Kampung Toweren Antara memiliki tradisi yang lain dari desa yang lainnya. Ada sesuatu yang unik di Kampung Toweren Antara. Hal yang pertama adalah Kekompakan masyarakatnya yang selalu menyatu dalam segala asfek kegiatan sosial dan kemasyarakatan.

Selanjutnya bila kita berbicara tentang eksistensi adat dan budaya Gayo, maka di Kampung Toweren Antara, kesemuanya itu masih ada. Kampung ini masih melestari tradisi adat budaya, serta kearifan lokal.

Hal yang positifnya, para orang tua juga mewariskan tradisi dan tatacara yang berkaitan dengan tradisional Gayo tempo douloe kepada para generasi mudanya. Sehingga dapat di pastikan 10 tahun kedepan tren tradisi  kearipan lokal warisan budaya leluhur, masih ada di kampung ini.

Begitu juga pada kegiatan pesta rakyat dalam rangka HUT RI ke 73 tahun ini. Kampung Toweren Antara memberikan warna lain dalam hal pesta rakyat. Sentuhan kearifan lokal merupakan materi utama untuk terus di kembangkan dan di pertahankan. Budaya ini adalah tren positif dan layak menjadi sumber insfirasi bagi kampung kampung lainnya di Kabupaten Aceh Tengah.

Ahmad Zaky (23) sumberBaranewsaceh.co di Kampung Toweren Antara Sabtu (18/08) mengatakan. Pelaksanaan pesta rakyat tahun ini khususnya Kampung Toweren Antara banyak menampilkan sentuhan budaya lokal seperti pelatihan membuat senuk ” sendok nasi yang terbuat dari batok kelapa. Pelatihan munayu ” mengayam tikar” pelatihan munyemat ” menyematkan daun rumbia pada sebilah bambu yang nantinya di pergunakan sebagai bahan atap rumah. Pelatihan membuat jangkat. Ayaman serabut dari kulit pohon yang di pergunakan sebagai tali sebagai pengikat dan cantolan saat menggendong kayu bakar. Selanjutnya pelatihan membuat kue tradisional seperti timpan dan yang lainnya bagi para remaja putri.

Sementara aneka permainan mungkin ada kesamaan dengan kampung kampung lainnya, cuma ada satu yang tampil beda yaitu “Pacu kuda sange”. Pacu kude sange adalah lomba berlari bagi usia anak anak dengan membuat batang dedaunan yang biasa tumbuh di pinggiran jalan, oleh penduduk setempat di namai “Sange” pokok sange juga sering di pergunakan sebagai bahan pembuat sangkar burung.

Lomba ini mirip dengan peran seorang zoki yang sedang memacu kudanya. Lomba ini hanya di peruntukan bagi anak anak usia sekolah dasar. Intinya dari permainan ini, siapa yang lebih cepat berlari itulah pemenangnya.

Kesemuanya merupakan satu kesatuan tradisi dan kearifan lokal yang hampir terlupakan. Bahkan generasi sekarang diyakini tidak mampu lagi memahami proses pembuatan benda benda tersebut.

Ide kreatif dari pemuda Toweren Antara ini pantas di apresiasi sebagai motivasi positip bagi pelestarian budaya, lalu apakah kampung kampung yang lain di Aceh Tengah, apakah masih punya keinginan untuk mewariskan budaya dan tradisi tersebut pada generasi akan datang. Atau sebaliknya tradisi adat budaya leluhur ini hanya tinggal catatan dalam buku, sementara kita sebagai orang Gayo dan pelaku sejarah tidak tau lagi bagaimana mewariskan pada generasi berikutnya. (DN)




TP-PKK Kabupaten Aceh Timur, Juara Dalam Lomba Kuliner Pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7

Banda Aceh, Baranewsaceh. Co – Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Aceh Timur, meraih sejumlah juara dalam lomba kuliner pada Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke-7 yang berlangsung di Banda Aceh 5-15 Agustus 2018.

Kabag Isra Setdakab Aceh Timur, Mujiburrahman, mengatakan berdasarkan pengumunan panitia PKA Selasa (14/8), TP PKK Aceh Timur berhasil meraih juara II dalam lomba kuliner khususnya pada kategori pengolahan sagu. Sedangkan juara pertama diraih Kota Banda Aceh.

Selain pengolahan sagu, TP PKK Aceh Timur, juga berhasil menyabet juara II pada kategori menu balita. Selain itu, dalam kategori lomba masak ikan dan kue tradisional, lomba gerakan pengolahan pangan lokal, dan kategori menu rumah tangga keluarga TP PKK Aceh Timur juga berhasil meraih juara III. “Selain di bidang kuliner, TP PKK Aceh Timur, juga berhasil meraih harapan I dalam kategori lomba kerajinan anyaman,” jelas Mujiburrahman.

Selanjutnya, dalam pengumuman para juara yang berlangsung di panggung utama Taman Sulthanah Safiatuddin itu, Aceh Timur juga berhasil meraih juara III dalam lomba bidang seni, adat dan budaya, khususnya pada kategori lomba peuayon aneuk. Sementara untuk kategori lomba boh gaca, sendra tari, dan seni seudati tunang, Aceh Timur hanya berhasil meraih harapan II. “Sedangkan untuk kategori lomba merukon, Aceh Timur memperoleh juara harapan III, jelasnya.

Satya lencana budaya tidak kalah membanggakan, jelas Mujiburrahman, seorang budayawan Aceh Timur yakni Abubakar AR juga menerima piagam penghargaan Satya Lencana Budaya yang diserahkan langsung oleh Pangdam Iskandar Muda di Istana Wali Nanggroe Aceh.

“Abubakar AR merupakan seniman di Aceh Timur yang selama ini mendedikasikan diri dalam seni dan kebudayaan Aceh. Karena itu kita sangat bangga atas penghargaan yang diprolehnya. Semoga ini bisa menjadi motivasi bagi budayawan lainnya di Aceh Timur untuk terus berkarya,” harap Mujiburrahman. (sss)




KERAWANG GAYO JADI PRIMADONA DI ACEH EXPO 2018

 

Oleh : Anugrah Fitradi, S.Pt

Aceh Expo 2018 merupakan ajang promosi berbagai produk-produk unggulan dari setiap Instansi atau yakni Satuan Kerja Perangkat Aceh (SKPA), Pemerintah Kabupaten dan Kota, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), lembaga dan swasta. Terdapat juga pameran bermacam kuliner, fashion dan otomotif. Disitu pula para peserta menampilkan produk-produk unggulan yang berkualitas berupa hasil dari kerajinan tangan dan kuliner yang memiliki daya saing tinggi untuk dipasarkan secara lokal, Nasional maupun Internasional.

Kabupaten Aceh Tengah juga ambil bagian pada Pameran di Aceh Expo yang berlokasi di Lapangan Blang Padang Kota Banda Aceh Provinsi Aceh. Stand yang berukuran 3 x 3 m ini berisi berbagai macam corak kerajinan tangan yang khas yaitu “Kerawang Gayo” dan berbagai komoditi unggulan di bidang pertanian seperti Alpukat Gayo, Jeruk Keprok Gayo, Nenas Gayo, Bawang Merah Gayo, Markisa, Nenggri, Terong Belanda dan sebagainya. Tak terkecuali “Kopi Arabika Gayo” yang sudah terkenal sebagai salah satu komoditi yang berkelas Ekspor ke berbagai manca negara.

Dimana pengunjung yang datang ke Stand Kabupaten Aceh Tengah ini disuguhkan oleh minum gratis Kopi Arabika Gayo, serta dapat melihat beberapa produk fashion yang bercorak motif Kerawang Gayo seperti Upuh Ulen-ulen, tas, jilbab, kipas, bros, gelang tangan, dan berbagai baju kaos yang bersablon kerawang dan lain sebagainya.

Yang lebih menarik lagi adalah pengunjung dapat ber-foto di Stand yang berlatar belakang “Upuh Ulen-ulen” di dinding Stand, dan juga dapat bergaya dengan memakai Upuh Ulen-ulen. Upuh Ulen-ulen adalah selembar kain busana adat diselimutkan kepada calon pengantin, kainnya berwarna hitam, dirajut benang yang bermotif Kerawang Gayo. Sejak hari pembukaan Aceh Expo digelar sampai hari ke-6 ini (09/08/2018) banyak sekali pengunjung ingin berfoto dengan memakai Upuh Ulen-ulen dan rela antri untuk dapat memenuhi niatnya, terutama pengunjung yang berusia remaja yang berasal dari berbagai kalangan masyarakat yang hadir ke Aceh Expo tersebut. Dan banyak tanggapan positif yang diutarakan oleh pengunjung yang telah berfoto dan rasanya sangat memuaskan. Serta banyak pula yang mengagum aroma dan rasa Kopi Arabika Gayo yang disuguhkan dalam Stand Kabupaten Aceh Tengah.

Upuh Ulen-ulen ini menjadi salah satu primadona yang ditunggu-tunggu oleh banyak pengunjung masyarakat Aceh khususnya dan masyarakat dari luar Aceh pada umumnya. Dengan ini semoga Kerawang Gayo dapat lebih dikenal oleh semua kalangan masyarakat luas.

Kegiatan Aceh Expo 2018 ini merupakan salah satu rangkaian dalam Ajang Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 7 Tahun 2018. Yang berlangsung sejak tanggal 4 Agustus 2018 sampai dengan tanggal 13 Agustus 2018 di Lapangan Blang Padang Banda Aceh. Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ini diselenggarakan setiap 4 tahun sekali.

*)Penyuluh Pertanian Kabupaten Aceh Tengah




Serba-serbi PKA, Distanbun Aceh Promosikan Khanduri Boh Kayee di Ajang PKA VII


 

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq.

Salah satu kekhasan provinsi Aceh sehingga dulu pernah disebut sebagai Daerah Istimewa Aceh, adalah keistimewaan di bidang adat istiadat atau tradisi. Banyak sekali adat atau tradisi masyarakat Aceh yang tidak di temui di daerah lain, karena memang hanya berlaku di daerah Aceh. Kalaupun tradisi tersebut dilakukan di luar Aceh, pasti yang melakukannya adalah masyarakat Aceh yang tinggal di perantauan.

Salah satu tradisi yang sampai saat ini masih terus melekat dan dilakukan oleh masuarakat secara turun temurun, adalah kenduri atau dalam bahasa Aceh dikenal dengan Khauri atau Khanduri. Tradisi khauri atau khanduri ini merupakan bentuk kebersamaan masyarakat yang sangat kental, diwujudkan dengan acara makan bersama dalam berbagai momentum. Begitu lekatnya tradisi kenduri ini, sehingga dalam kalender masyarakat Aceh yang mengikut penanggalan hijriyah, hampir setiap bulan ada kenduri yang dilakukan oleh masyarakat Aceh.

Di bulan pertama dalam kalender Hijriyah atau bulan Muharram, masyarakat Aceh biasa menggelar khanduri Assyura, kanduri ini merupakan acara syukuran sekaligus tolak bala dengan menyajikan masakan berupa bubur yang dimasak dengan campuran berbagai rempah, sayur dan buah-buahan. Bulan Rabiul Awwal sampai dengan bulan Jumadil Akhir, oleh masyarakat Aceh dikenal dengan bulan ‘Mulot’ atau bulan Maulud. Diawali dengan peristiwa kelahiran Nabi Mumammad SAW sampai tiga bulan berikutnya, masyarakat Aceh sudah biasa menggelar ‘Khauri Mulot’. Khauri mulot merupakan tradisi syukuran atas kelahiran rasul terakhir yang membawa ajaran agama Islam yang nota bene merupakan agama mayoritas yang dianut oleh masyarakat Aceh. Kahuri mulot dilaksanakan dengan cara berkumpul di masjid, mushalla atau balai pertemuan, dimana semua anggota mayarakat membawa berbagai jenis menu makanan yang kemudian dinikmati bersama-sama. Khauri molot juga boleh dibilang sebagai ‘pesta kuliner Aceh’ karena dalam kenduri ini, nyaris semua jenis kuliner mulai dari berbagai jenis kue, daging, ikan dan masakan lainnya terhidang dalam kenduri tersebut.

Di bulan Rajab, masyarakat mengenal khanduri apam, dimana masyarakat membuat berbagai jenis apam dalam jumlah banyak, kemudian dibawa ke lapangan dimana sudah berkumpul banyak orang. Khanduri apam biasanya diawali dengan pengajian dan tausiah untuk memperingati peristiwa Isra’ mi’raj Nabi Muhammad SAW dan diakhiri dengan pembagian apam kepada semua yang hadir. Apam juga menjadi ‘jamuan wajib’ bagi para tamu yang datang atau sengaja diundang oleh masyarakat Aceh di bulan tersebut. Bulan berikutnya yaitu bulan Sya’ban, di kalangan masyarakat Aceh dikenal khanduri Bu (kenduri nasi), kenduri ini dilaksanakan tepat pada malam ke 15 bulan Sya’ban atau yang dikenal dengan Nisfu Sya’ban. Masarakat membawa nasi dan berbagai jenis lauk ke masjid atau mushalla (meunasah) kemudian menyantapnya bersama-sama setelah diawali dengan shalat berjamaan dan do’a bersama.

Disamping kenduri yang sudah dietntukan bulannya, ada juga kenduri yang sifatnya insidentil seperti Khauri Laot yang dilaksanakan untuk memulai aktifitas menangkap ikan di laut, atau Khauri Blang yang dilakukan sebagai tanda dimulainya musim bersawah. Semua jenis kenduri tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan dan keberkahan, karena dalam setiap kenduri tersebut selalu dimulai dengan do’a bersama yang dipimpin oleh Tengku atau ulama setempat.

Khanduri Boh Kayee

Ada satu lagi kenduri adat masyarakat Aceh yang cukup unik, biasanya kenduri ini dilakukan pasca Idul Fitri atau memasuki bulan Dzulkaidah. Kenduri tersebut dinamai Kanduri Boh Kayee atau kenduri buah-buahan, karena dalam kenduri tersebut yang dihidangkan berupa beragai macam buah-buahan lokal baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan seperti rujak, sate buah dan manisan buah. Dalam tradisi masyarakat Aceh, kenduri ini biasa digelar saat memasuki masa panen buah-buahan, dimana sebagaian besar hasil panen mereka, bisa segera mereka pasarkan untuk menambah pendapatan mereka. Wilayah Aceh dengan kondisi agroklimat dan topografi beragam, memang memiliki potensi pengembangan berbagai jenis buah-buahan. Di wilayah tengah atau yang dikenal dengan dataran tinggi Gayo, dihasilkan buah jeruk keprok, alpukat, nanas, markisa, kesemek, terong belanda dan sebagainya. Sementara di wilayah pesisir, terdapat potensi buah rambutan, mangga, manggis, berbagai jenis pisang, durian, sawo, pala, semangka, timun, pepaya dan sebagainya.

Khanduri Boh Kayee, merupakan perwujudan rasa syukur masayarakat Aceh atas hasil buah-buahan yang melimpah yang mampu menjadi penopang kehidupan masyarakat. Namun tradisi khanduri boh kayee ini sekarang sudah jarang dilakukan oleh masyarakat.

Dalam upaya melestarikan kearifan lokal itulah, kemudian Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh mencoba kembali mensosialisasikan khanduri boh kayee ini melalui even budaya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke VII yang digelar pada tahun 2018 ini. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, A. Hanan, SP, MP, selain sebagai upaya melestarikan tradisi dan kearifan lokal, simulasi khanduri boh kayee ini juga sebagai upaya untuk mempromosikan potensi pengembangan buah-buahan di provinsi Aceh yang diharapkan akan mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat.

“Provinsi Aceh memiliki keragaman potensi pengembangan buah-buahan spesifik yang meiliki nilai ekonomis cukup tinggi, melalui simulasi khanduri boh kayee ini selain sebagai upaya melestarikan budaya Aceh juga sebagai salah satu media untuk mempromosikan potensi pengembangan buah-buahan di Aceh sehingga mampu membuka pangsa psar produk buah-buhan yang kita hasilkan, dengan demikian kesejahteraan petani buah akan terangkat” ungkap Hanan dalam sambutannya dalam pembukaan acara Khanduri Boh Kayee yang dilaksanakan di stand Distanbun Aceh di arena PKA VII.

Sementara Wakil Ketua Tim Penggeraka PKK Aceh, Dyah Erti Idawati yang membuka piasan tersebut, menyambut gembira upaya Distanbun Aceh untuk ikut melstarikan salah satu budaya Aceh ini. Lebih lanjut Dyah yg merupakan isteri dari Plt Gubernur Aceh, Ir. Nova Iriansyah, MT Ars itu mengungkapkan bahwa Aceh meliki potensi kuliner dan buah yang luar biasa, untuk itu kuliner Aceh harus terus diperkenalkan dan dipromosikan, bukan saja di dalam negeri tapi sampai ke manca negara.

“Kuliner Aceh ini sangat beragam dan diminati oleh banyak orang dari luar daerah, menjadi tugas kita untuk terus memperkenalkan dan mempromosikannya agar lebih diminati oleh masyarakat diluar Aceh bahkan di manca negara, saya punya keinginan kuliner dan buah-buahan dari Aceh bisa menjadi menu di kafe-kafe di negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura, saya berharap para entrepreneur dari Aceh yang merintisnya” harap Dyah usai melakukan pengguntingan pita tanda dimulainya paisa Khanduri Boh Kayee.

Dalam piasan khanduri boh kayee di ajang PKA VII ini, Distanbun Aceh menampilkan berbagai buah-buahan asli Aceh seperti Alpukat Gayo, Jeruk Keprok, Apel Gayo, Rambutan, Mangga, Sawo, Manggis, Semangka, Pepaya, Pisang dan berbagai jenis buah-buahan spesifik lainnya. Selain itu berbagai jenis olahan buah seperti manisan pala, pisang sale, rujak Aceh dan sebagainya juga disediakan bagi pengunjung dalam piasan ini.

Turut hadir dalam pembukaan piasan Khanduri Boh Kayee yang merupakan bagian dari Festival Kuliner Aceh ini, Ketua Tim Penggerak PKK Aceh, Darwati A. Gani, Kepala Dinas Pangan, Dr, Ir. Ilyas, MP, Wakil Bupati Aceh Tengah, Firdaus, SKM dan beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Aceh maupun pejabat dari kabupaten/kota se Aceh.

Melalui piasan Khanduri Boh Kayee ini, potensi buah-buahan spesifik Aceh akan semakin dikenal oleh khalayak, karena even Pekan Kebudayaan Aceh yang digelar dari tanggal 5 sampai 15 Agustus 2018 ini, diperkirakan akan dikunjungi ribuan pengunjung dari dalam maupun luar Aceh bahkan dari beberapa negara tetangga.




Eksibisi Temporer Museum Tsunami Siap Warnai Agenda PKA VII



Banda Aceh, Baranewsaceh. Co  – Meriahnya Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) VII terus terasa, sejumlah titik lokasi agenda terus mempersiapkan diri untuk menyukseskan hajatan akbar kebudayaan Aceh ini yang digelar empat tahun sekali.

Tidak ketinggalan, Museum Tsunami juga akan ikut ambil bagian dalam salah satu agenda, yakni Eksibisi Temporer yang berlangsung mulai 8-15 Agustus di lantai 2 Ruang Pamer Temporer Museum Tsunami.

Plt Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh Amiruddin menyebutkan, adanya kegiatan eksibisi temporer dari Museum Tsunami tentu akan lebih mewarnai rangkaian dari PKA VII.

“Tema dalam eksibisi yang diangkat pun sangat menarik, yakni dengan mengangkat kearifan lokal masyarakat Aceh yang ada di daerah Simeulue yang bertajuk “Smong” Message from The Past,” pungkasnya, Selasa (7/8/2018).

Amiruddin juga menyebutkan, konsep pameran kali ini dikembangkan dengan teknik visual yang tidak biasa, tentunya dengan menggali informasi berdasarkan koleksi naskah kuno tentang Ie BeunaNandong Smong (Yopie dan Iga Mawarni), dan peristiwa gempa dan tsunami Aceh 2004.

“Nilai-nilai edukasi kebencanaan diperjelas dalam gambar berwarna, diorama bergerak, dan layer-layer yang bercerita. Karena Museum Tsunami adalah museum dari memori kolektif masyarakat terhadap bencana, maka pameran ini lebih menguatkan kontennya kepada oral history bukan object history,” tuturnya.

Kebijakan mengangkat kearifan lokal, diakui oleh Koordinator Museum Tsunami, Hafnidar disebabkan belum adanya media display untuk Smong, Ie Beuna dan kisah bencana Aceh di museum.

“Aceh memiliki kearifan lokal yang layak untuk mengedukasi dunia terhadap bencana, belajar dari masyarakat Simeulu yang turun temurun melestarikan budaya bertutur dalam syair tanpa henti,” akuinya.

Kehadiran agenda eksibisi yang digelar Museum Tsunami juga menjadi bagian untuk mengembalikan kembali museum ke fungsi dasarnya yang sesuai dengan paradigma baru permuseuman dunia.

“Pameran ini adalah project pertama new management yang mengusung manajemen museum yang inklusif. Kedepannya pameran ini akan menjadi cikal bakal pengembangan media display di museum,” imbuh Hafni. (Red)




Pesona Pelaminan Kopi di Anjungan Bener Meriah


Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Sisi lain dari keunikan dari anjungan Kabupaten Bener Meriah adalah, adanya pelaminan yang terbuat dari batang kopi. Pelaminan ini cukup menyita perhatian para pengunjung untuk kemudian di jadikan sebagai tempat selfi dan berphoto ria. Selain itu juga ditampilkan pelaminan dari hasil kerajinan Kerawang Gayo.

Plt Kepala Dinas Perdagangan Kabupaten Bener Meriah Ruh Akbar.SH.MM kepada Baranewsaceh.co di anjungan Bener Meriah Banda Aceh mengatakan. Selasa (7/8).”Secara umum kita menampilkan peradapan dan kebudayaan Gayo. Setiap daerah juga menampilkan hal yang sama. Masing masing mengungulkan pelaminan. Namun untuk Bener Meriah, kita buat desaing dan tampilan pelaminan yang berbeda. Seperti pelaminan yang terbuat dari batang kopi. Hal ini yang membedakan stand Bener Meriah dengan stand Kabupaten yang lainya yang ada di anjungan PKA. Intinya kita masukan sentuhan kearifan lokal yang kita miliki.

Selain itu katanya, untuk kerajinan kerawang gayo pihaknya juga menghadirkan pengrajinnya di anjungan. “ Bukan hanya contoh barang saja yang kita tampilkan namun proses pembuatannya juga kita tampilkan. Inilah yang membuat stand Bener Meriah  berbeda dari stand lainya,” ungkapnya.

Warna lain dari anjungan Bener Meriah, bagi para pengunjung adanya kopi gratis yang disediakan oleh panitia. Selain itu Anjungan Bener Meriah juga menawarkan musik live bagi para pengunjung. (DN)




300 Makanan Gratis Dibagikan Untuk Pengunjung di Arena PKA-7


Banda Aceh, Baranewsaceh. Co – Sebanyak 300  porsi kuliner gratis akan dibagikan saat pergelaran Festival Kuliner sepanjan pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh ({PKA) ke-7. Kuliner gratis ini akan disediakan oleh setiap kabupaten/kota secara bergantian setiap harinya.

Ketua Panitia Pelaksana Festival Kuliner Aceh PKA-7, Ilyas MP, mengatakan sejak dimulainya festival kuliner, pihak penyelangara sudah menyediakan kuliner gratis.

“Di hari pembukaan festival kuliner ini, dibareni pula denan khanduri boh kayee, dimana semua buah-buahan yang disediakan hari ini dibagikan secara gratis kepada pengunjung,” ujar Ilyas, Selasa (7/8/2018).

Selain buah-buahan, ada juga 1000 lebih prosi olahan buah yang dibagikan kepada pengunjung, seperti rujak manis, manisan kecapi, manisan kedondong, dan manisan buah ceremai.

Selain itu, sebut Ilyas, disetiap stand kuliner kabupaten/kota pengunjung juga bisa menikmati berbagai makanan dan minuman khas daerah masin-masing, bahkan yang sudah jarang disajikan sekalipun dengan cara membeli dengan harga murah, yakni hanya Rp 5000 per porsinya.

Dengan mengangkat tema “Encyclofoodia of Aceh”, pameran ini juga diisi dengan sejumlah kegiatan seperti pameran bahan pangan, pameran buah-buahan, dan khanduri boh kayee, dimana inia dalah satu adat masyarakat Aceh untuk mengekspresikan rasa syukur atas buah-buahan yang sudah berhasil dipanen.

Senada dengan itu, Istri Pelaksana Tugas Gubernur Aceh, Dyah Erti Idawati, mengatakan kuliner menjadi salah satu pilar penting untuk peningkatan ekonomi rakyat.

“Oleh karena itu pembinaan terhadap usaha kuliner di Aceh menjadi sanat penting karena ini menjadi baian pentin dalam upaya meningkatkan kesejahteraan keluarga. Coba saja lihat para ibu yang memiliki usaha jualan makanan, bisa dipastika, sang ibu bisa membantu menghidupi keluarganya,” ujar Dyah Erti Idawati, saat membuka lansung gelaran Festival Kuliner Aceh di arena PKA-7, Selasa (7/8/2018).

Dengan adanya festival kuliner seperti ini, sebut Dyah Erti Idawati, kuliner Aceh bisa terus dikenal oleh masyarakat, tidak hanya di Indonesia, tapi juga ke manca Negara.

“Sudah saatnya kini kuliner Aceh menapaki jalur internasional, sehingga masakan aceh ini bisa dikenal oleh masyarakat internasional, sebagaimana mereka mengenal pizza atau bahkan kebab,” ungkap Dyah Erti Idawati.

Bagi anda yang ingin mencicipi bahkan ingin mengenal langsung seperti apa kuliner Aceh yang beragam, datang langsun ke arena Kuliner Aceh, di areal PKA-7, Taman Ratu Safiatuddin.

Ketua Panitia Festival Kuliner PKA-&, Ilyas MP berharap, pasca PKA-7 pemerintah berencana terus menjadikan Taman Ratu Safiatuddin sebagai lokasi penjualan kuliner dari seluruh kabupaten/kota, sehingga setiap saat warga bisa menikmati aneka makaman dan minuman dari pelosok Aceh. (Red)




Udin dan Rifin Pelawak Gayo Siap Hebohkan Pentas Lawak PKA

Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Dua pelawak Gayo asal Kabupaten Bener Meriah “Udin & Ripin, hari ini Selasa 07 Agustus 2018 pukul 14.00 wib, akan tampil dalam pentas lawak PKA – 7 di Taman Budaya Kota Banda Aceh.

Arifin Muslim salah seorang personil dari group lawak ini saat di temui di hotel Mawar Stui Banda Aceh Kepada Baranewsaceh.co mengatakan. Pada penampilan lawak kali ini, kita akat mengangkat tema terkait keberadaan Kopi Gayo. Menurut Rifin, Kopi merupan urat nadi perekonomian masyarakat Gayo, keberadaan kopi Arabika Gayo bahkan sudah sangat terkenal di belahan dunia. Kopi adalah kebanggaan, dan kita terus berupaya setiap sendi kehidupan itu selalu di bumbui dengan nuansa kopi. Ujarnya

Sementara dalam pementasan lawak nanti, kita akan coba mementaskan tentang kopi mulai dari cara menanam kopi hingga pasca panen sampai ready siap ekspor. Lucunya lagi dialog dalam penampilan lawak nanti akan dipadukan dalam tiga bahasa yaitu bahasa Gayo, Bahasa Aceh, dan Bahasa Indonesia.

Group lawak Udin & Ripin kali ini juga menghadirkan bintang tamu, Atun. Tokoh yang mirip Atun dalam serial “Si doel Anak Sekolahan” yang pernah di tayangkan di salah satu stasion TV Swasta Nasional.

Selanjutnya Group lawak Gayo Udin & Rifin plus Atun berharap dukungan dan doa dari seluruh masyarakat Gayo di mana saja berada, khusus buat masyarakat Gayo yang berada di kota Banda.

Lewat Media Baranewsaceh.co Group lawak Udin & Rifin plus Atun Gotol mengatakan. Saksikan penampilan kami group Udin & Ripin dalam pentas lawak PKA di Taman Budaya Banda Aceh hari ini selasa 07 Agustus 2018 pukul 14.00 Wib. (DN)




Kontingan PKA Kabupaten Bener Meriah Lakukan Pawai Budaya

Banda Aceh, Baranewsaceh.co – Kontingan Kabupaten Bener Meriah tampil dengan nomor urut 21 dari 23 Kabupaten kota yang mengikuti pawai budaya pada palaksanaan Pekan Kebudaan Aceh (PKA) yang barlangsung di lapangan Blang Padang Banda aceh. Senin (06/08).

Kendati cuaca begitu panas dan terik serta jauhnya rute yang harus di lalui, namun hal tersebut tidak menyurutkan antusias dan semangat dari sekitar 100 peserta pawai yang terus menyuarakan yel yel sepanjang perjalanan.

Sementara peserta pawai budaya terdiri dari para duta wisata Bujang beru Gayo Bener Meriah, para pelaku seni dan penunggang kuda yang melambangkan sistem pemerintahan sara kopat di tanah Gayo.

Setelah melalui rute yang telah di tetapkan panitia. Pawai budaya yang barawal dari lapangan Blang Padang ahirnya tiba di panggung kehormatan, tepatnya di sampaing Masjid Baiturahman Banda Aceh.

Kehadiran Pawai Budaya langsung di sambut oleh wali nanggro Aceh Malik Mahmud dan sejumlah Bupati dari kabupaten kota di panggung kehormatan sembari menunggu kontingan Kabupaten masing masing.

Terlihat Plh.Bupati Bener Meriah. Drs. Ismarisiska.MM yang di dampingi asisten 2 bidang ekonomi Abd. Muis dan Kadis Pariwisata Bener Meriah Drs. Haili Yoga, turut menyambut kehadiran

Iring iringan paserta pawai budaya Kabupaten Bener Meriah. Pada kesempatan itu, kontingan pawai Budaya Bener Meriah, menampilkan  atraksi didong beserta tari guek yang langsung disambut aplusan oleh para penonton yang memadati arena panggung kehormatan. (DN)




Dekranasda Gayo Lues Hj.Hartati Amru Cek Kesiapan Anjungan Gayo Lues


Banda Aceh, Baranewsaceh. Co – Dekranasda Gayo Lues – Menjelang Pembukaan Pekan Kebudayaan Aceh PKA 7  Minggu 5/8/2018) Ketua Dekranasda Gayo  Lues Hj.Hartati Amru didampingi Sekretaris Ika Anggraini  beserta anggota  tim Penggerak PKK Gayo  Lues mengunjungi Anjungan Kabupaten Gayo  Lues di Taman  Sulthanah Shafiatuddin Banda Aceh.

Kedatangan Hj. Hartati Amru ditempat itu mengecek segala persiapan yang dilakukan oleh panitia beserta tim Dekranasda Gayo  Lues yang bekerja di anjungan  Gayo  Lues dalam menampilkan Rumah Adat di PKA-7 yang berlangsung 5 s/d 15 Agustus 2018.

Hj.Hartati Amru mengatakan “Di PKA-7 berbagai kesenian Gayo  Lues semua ditampilkan selain  itu benda-benda sejarah peninggalan adat akan diperlihatkan kepada pengunjung”.

Selama 10 hari PKA-7 digelar Kabupaten Gayo  Lues setiap harinya akan memperkenalkan berbagai jenis menu kuliner masakaan khas Gayo Lues serta memamerkan berbagai kerajinan industri yang di jual kepada masyarakat.

Mengisi kegiatan PKA-7 2018 Dekranada dan  tim Penggerak PKK Gayo Lues bekerjasama dan didukung oleh seluruh Satker Pemkab Gayo Lues diantaranya Dinas Pariwisata, Dinas Perindustrian, Dinas Pertanian. (Bahtiar) 




Jus Satoimo Sedot Minat Pengunjung Stand Expo Distanbun Aceh

Serba serbi PKA VII 

Liputan : Fathan Muhammad Taufiq

Gelaran akbar budaya aceh bertajuk Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke VII yanga g akan digelar selama 11 hari dari tanggal 5 sampai dengan 15 Agustus 2018 kali ini, terlihat semakin semarak dengan keikut sertaan Satuan Kerja Pemerintah Aceh (SKPA) dalam kegiatan Expo Aceh yang merupakan bagian dari even PKA VII tahun 2018 melengkapi stand pemerintah kabupaten/kota dari seluruh Aceh. Kehadiran SKPA dalam Expo Aceh ini adalah untuk mempublikasikan dan mempromosikan hasil kerja dari masing-masing SKPA selama ini.

Salah satu SKPA yang turut berpartisipasi dalam Expo Aceh kali ini adalah Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh. Instansi yang kini dipimpn oleh A. Hanan, SP, MP ini mengusung berbagai produk pertanian unggulan dari semua kabupaten/kota dalam wilayah Aceh. Selain memamerkan produk pertanian unggulan, Distanbun Aceh juga menampilkan inovasi-inovasi baru dalam bidang pertanian dan memajang potensi pengembangan komoditi pertanian di seluruh wilayah Aceh serta menampilkan berbagai keberhasilan yang telah diraih oleh instansi yang menangani teknis pertanian dan perkebunan ini.

Begitu even PKA ini dibuka Minggu (5/8/2018) kemarin oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy didampingi Plt Gubernur Aceh, ir. Nova Iriansyah, MT Ars dan Wali Nangroe, Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, semua stang Expo Aceh langsung dipadati ribuan pengunjung dari berbagai daerah. Bahkan sebelum acara dibuka secara resmi, sudah banyak pengunjung yang ‘menyerbu’ stand ini. Meskipun fokus dari penyelenggaraan PKA VII adalah pagelaran budaya, namun kehadiran Instansi teknis dengan berbagai promosi produk unggulan likal Aceh, juga cukup menarik minat pengunjung.

Seperti yang terlihat pada stand Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh sejak Minggu sore hingga malam harinya. Selain tertarik untuk melihat produk-produk pertanian unggulan Aceh seperti Kopi Arabika, Pala, Lada, Kakao, serta produk hortikultura seperti Jeruk, Manggis dan berbagai produk sayur-sayuran, ternyata ada yang lebih menarik perhatian para pengunjung PKA. Menurut koordinator expo Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, drh. Ahdar, MP, dalam expo kali ini pihaknya mengurung produk pangan alternatif yang belakangan mulai populer di berbagai daerah dan kini sudah dikembangkan di Aceh. Produk pangan baru yang ditampilkan oleh Distanbun Aceh ini adalah Talas Jepang atau Talas Satoimo.

Talas Satoimo (Colocasia esculenta var antiquarum) memang baru sekitar tiga tahun lalu mulai dikembangkan di Aceh, dimulai dengan ujicoba di lahan Balai Diklat Pertanian Aceh di Saree Aceh Besar. Berbeda dengan jenis talas lainnya, talas jepang selain dikonsumsi dalam bentuk pangan olahan, dapat juga dikonsumsi dalam keadaan mentah dengan cara dimakan langsung atau dibuat jus. Penelitian di Jepang menunjukkan bahwa talas Satoimo banyak mengandung collagen, salah satu jenis protein yang diyakini mampu menghambat penuaan kulit. Selain itu kandungan collagen dalam talas jepang ini juga bisa mengurangi resiko pengeroposan tulang (osteophorosis) dan melancarkan peredaran darah serta mengurangi resiko tekanan darah tinggi dan serangan jantung (stroke).

Meski sudah cukup lama dikembangkan di Aceh, namun masih banyak kalangan masyarakat Aceh yang belum mengetahui khasiat mengkonsumsi talas yang memang berasal dari negeri sakura ini. Inilah yang menginspirasi Ahdar untuk mengusung produk pangan baru ini untuk diperkenalkan secara luas kepada masyarakat Aceh dan pengunjung PKA dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Ternyata ide Ahdar mendapat sambutan luar biasa, setelah memperoleh leaflet tentang talas satoimo yang dibagikan secara cuma-Cuma oleh penjaga stand, pengunjungpun mulai penasaran dan tertarik untuk mencicipi talas yang konon bisa bikin awet muda ini. Selain ditampilkan dalam bentuk umbi mentah dan produk pangan olahannya, Ahdar juga dudah menyiapkan jus Satoimo dalam kemasan dan menyediakan juicer bagi mereka yang ingin menikmati jus satoimo dalam keadaan segar, apalagi mereka dapat menikmati jus segar ini secara gratis. Bagi yang belum pernah mencoba, rasa jus satoimo ini mirip seperti perpaduan antara benguang dan salak pondoh, sama sekali tidak tersa sebagai talas pada umumnya.

“Saya tidak menduga, pengunjung begitu antusias untuk mencoba minuman sehat jus satoimo ini, setelah kami bagikan leafletnya, para pengunjung penasaran ingin mencobanya, dan kami sudah mengantisipasinya dengan menyediakan ratusan cup dan satu juicer besar untuk membuat jus satoimo segar yang khusus kami sediakan secara gratis bagi pengunjung PKA ini” ungkap Ahdar.

Lebih lanjut Ahdar mengungkapkan, dengan semakin dikenalnya khasiat talas satoimo, nantinya akan membuka pangsa pasar produk ini, dan ini akan menjadi peluang bagi petani untuk menigkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Menurut Ahdar, pengembangan talas satoimo di Aceh sudah dimulai di kabupaten Aceh Besar, selain untuk memenuhi pangsa pasar ekspor ke negara Jepang, juga untuk memenuhi permintaan pasar dalam negeri yang semakin hari semakin meningkat.

Amatan penulis sampai tadi malam, pengunjung PKA terus ‘menyerbu’ stand Distanbun Aceh, salah satunya karena tertarik untuk mencicipi jus ‘awet muda’ ini. Ahdar memprediksi, peminat jus satoimo dari kalangan pengunjung PKA akan terus bertambah sampai dengan penutupan even kebudayaan ini. Dia mersa bersyukur, ajang budaya ini ternyata juga bisa menjadi peluang untuk memperkenalkan produk pertanian yang berpotensi untuk mengangkat kesejahteraan petani Aceh.

“Selain menjadi even melestarikan budaya Aceh, ternyata even ini juga bisa jadi momentum untuk meningkatkan kesejahteraan petani, kami sangat bersyukur bisa membantu petani untuk memperkenalkan dan mepromosikan produk pertanian yang mereka hasilkan melalui even ini” pungkas Ahdar.




Banda Aceh : Sekda Tinjau Persiapan Anjungan Kabupaten Bener Meriah

Bener Meriah.  Baranewsaceh.co –Sekda Bener Meriah. Drs.Ismarisiska. MM  mengunjungi persiapan anjungan Kabupaten Bener Meriah dalam pelaksanaan Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) ke 7 tahun 2018, yang berlangsung di Taman Ratu Safiatuddin Kota Banda Aceh. Minggu (05/08).

Pekan Kebudayaan Aceh (PKA) merupakan even 5 tahun sekali, dan di ikuti oleh 23 Kabupaten Kota se Provinsi Aceh.  Sementara kegiatan berlangsung dari tanggal 5 s/d 15 Oktober 2018. Selain itu setiap Kabupaten – Kota akan menampilkan berbagai keunggulan daerah diantaranya, atraksi budaya, permainan rakyat, kuliner dan expo ternak dan produk unggulan.

Sekda Bener Meriah Drs. Ismarisiska.MM yang didampingi asisten 2 Bidang ekonomi pembangunan. Abdul Muis.SE, MT, kadis Pariwisata, Drs.Haili Yoga, Kadis keuangan Suhada, kepala Bappeda Khairun Aksa.MM dan PLT.Kadis Disprindag, Ruh Akbar, selanjutnya meninjau pelaksansan expo ternak, dan stand Pameran produk unggulan Kabupaten dan Provinsi yang pusatkan di Belang Padang.

Kepada awak media, Sekda Bener Meriah Drs.Ismarisiska.MM menjelaskan. Lima tahun yang lalu Kabupaten Bener Meriah berhasil tampil sebagai juara harapan,1, dan untuk tahun ini kita tetap berusaha agar lebih baik dari tahun sebelumnya. Harapan Sekda kepada seluruh masyarakat Bener Meriah khususnya yang berada di kota Banda Aceh, untu mengunjungi anjungan Kabupaten Bener Meriah.

Terkait persiapan Anjungan, Kabupaten Bener Meriah beserta stand kuliner yang berdampingan langsung dengan Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Gayo Lues. Sekda Drs. Ismarisiska mengatakan, persiapannya sudah finishing atau sudah 90%. Begitu juga persiapan Kontingan asal Kabupaten Bener Meriah sudah siap tampil, timpal Haili Yoga Kadis Pariwisata Bener Meriah.

Berdasarkan pantauan Baranewsaceh.co terlihat sejumlah seniman asal Kabupaten Bener Meriah turut hadir meramaikan pagelaran PKA ke 7 di Kota Banda Aceh. (DN)




Bupati Gayo Lues Tutup Kegiatan Pelatihan Peningkatan SDM dan Profesionalisme Bidang Pariwisata


GAYO LUES, BARANEWSACEH.CO – Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru menutup Kegiatan Pelatihan Peningkatan SDM Dan Profesionalisme Bidang Pariwisata di Halaman Masjid Kampung Penosan Sepakat, Kecamatan Kutapanjang, Kamis 26 Juli 2018.

Tampak Hadir Dalam Kesempatan Itu, Berapa Anggota Forkopimda, Beberapa Kapala Dinas, Ketua PKK Kabupaten Gayo Lues, dan Narasumber Serta Aparat Kampung Penosan Sepakat.

Bupati Gayo Lues H. Muhammad Amru dalam sambutannya Menyampaikan Apresiasinya Kepada Dinas Pariwisata dan Panitia Pelatihan yang telah menyelenggarakan kegiatan yang bermanfaat tersebut.

“Saya sangat mengapresiasi langkah yang Dilakukan Dinas Pariwisata, dengan kegiatan pelatihan ini, kegiatan yang cukup bermanfaat dan bisa menjadi harapan ekonomi masyarakat”. Kata Bupati.

Disampaikannya lagi bahwa kegiatan pelatihan tersebut tidak lain untuk meningkatkan kemampuan masyarakat, dalam hal ini berkaitan dengan Home Stay Dan Guide yang bertujuan untuk menarik wisatawan baik lokal maupun asing. dan akan menjadi suatu sektor yang sangat menjanjikan untuk perekonomian masyarakat.

Muhammad Amru, Juga Berpesan Kepada Para Peserta Untuk Home Stay dan Guide Agar Selalu Bersikap Ramah, Berbahasa Santun, dan Selalu Menjaga Kebersihan.

“Syarat pertama adalah kebersihan, terutama kamar mandi dan sikap kita, harus ramah dan perhatian terhadap wisatawan lokal maupun asing. Biasanya Turis yang datang kesini sebagian besar adalah turis adventure. Wisatawan yang memang menyukai budaya jadi kita juga harus menjaga budaya dan tradisi” kata H. Muhammad Amru.

Kadis Pariwisata, Syafruddin, S.Sos, mengatakan bahwa pelatihan tersebut dilakukan di dua lokasi, di Agusen Dan Penosan Sepakat Masing. masing-masing lokasi dengan jumlah peserta 60 peserta, jadi total peserta yang mengikuti pelatihan 120 peserta. Kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari tanggal 24-26 Juli 2018.

Dalam pelatihan peserta dilatih bagaimana cara melayani wisatawan, bageting, tata boga, dan mengatur kamar dan hidangan, serta bagaimana menjadikan tempat tinggal mereka sebagai home stay., kata Kadis Pariwisata, Syafruddin, S.Sos.

Diakhir penutupan kegiatan pelatihan tersebut, Bupati Gayo Lues kembali menegaskan dan berharap, agar kemampuan mengenai pemandu wisata agar semakin ditingkatkan dan diciptakan wadah organisasi yang dapat menampung mereka.

“Saya yakin masyarakat mampu dalam hal ini, dan untuk pemandu atau guide kedepannya bisa ditingkatkan lagi kemampuannya, dan setiap pemandu wisata harap dibuatkan kartu guide, ini tentunya menjadi tugas dinas pariwisata, serta masyarakat yang menyediakan Home Stay, harus memiliki sertifikat Home Stay, agar menumbuhkan tingkat kepercayaan wisatawan. mudahan pelatihan ini bukan pelatihan yang kejar tayang tetapi yang bermanfaat buat masyarakat”. harapnya. (J.Porang)