Pasar Bebas & Perang Asimetris Harus Dilawan

Ilustrasi/net

BARANEWSACEH.CO – Gerakan nasional belanja di warung tetangga perlu terus digalakkan. Begitu juga makan di Warung Tegal ( Warteg) dan Rumah Makan Padang serta Lapow. Minum kopi pun bisa diteruskan di kedai Syamsul, bukan di warkop bermerek asing.

Ragam macam makanan serta minuman khas daerah kita cukup banyak yang tidak kalah lezat dan sehat. Lalu mengapa kita tidak melestarikan produk dan racikan menu bangsa sendiri sebagai ungkapan dari sikap nasionalis kita yang paling sederhana serta gampang kita lakukan mulai sekarang ?

Doktor Sujoko pengajar Seni Rupa ITB semasa hidupnya terus memakai kemeja batik tak hanya dari Solo dan Jogyakarta saja, tapi ragam macam dan corak batik yang khas Banjar dan Jambi yang dihasilkan oleh anak bangsa Indonesia asli juga sungguh tidak kalah bergengsi , membanggakan untuk dipakai.

Sebagai bentuk dari gerakan perlawanan budaya untuk masuk dalam pertarungan pasar bebas yang sudah dilakukan bangsa-bangsa di dunia, dapat juga kita sikapi dengan cara dan praktek yang paling sederhana dan gampang itu. Karena perang dagang dan perang asimetris yang menggasak bangsa dan negara kita dilakukan mereka dengan berbagai cara dan model.

Jadi bukan membombandir pasar kita dengan ragam macam produk dan bahan pangan dari negeri mereka, tapi juga merusak anak bangsa kita dengan narkoba yang tetus dipasok setiap hari dengan cara dimasukkan dalam tiang pancang beton yang berdalih untuk reklamasi namun prakteknya menimbun Teluk Jakarta. Begitu juga yang dilakukan di sejumlah tempat dsn wilayah lain di bumi Indonesia ini.

Dari bilik kesenian, lihatlah semua tayangan hiburan di televisi kita penuh dan dominan suguhan asing. Seni drama dan film kita jelas sudah keok oleh film produk asing. Hingga drama film Korea pun sudah menjajah habis selera kita.

Lalu produk dari otomitif hingga kerajinan tangan sampai beragam macam mainan anak-anak pun seakan sungguh tidak bergengsi jika memakai produk sendiri dari kreasi buatan anak bangsa sendiri.

Yang tidak kalah tragis adalah hasil buah-buahan kita pun mulai diserbu dari hasil kebun negara tetangga. Jeruk Pontianak dan buah Jagung dari Lampung misalnya semakin jarang dan sulit bisa dikonsumsi sehari-hari seperti pada masa lalu.

Lantas mengapa jambu Bangkok, durian Bangkok hingga buah-buahan asal Bangkok bisa terkesan lebih populer seoerti ayam Bangkok ?

Agaknya yang jadi penyebab semua kekalahan kuta itu sudah dimulai dari tata kelola yang salah kaprah tidak diantisipasi dengan kebijakan program serta perencanaan pemerintah yang tidak berjalan. Karena inisiatif dan kreatifitas kita terlanjur anbruk jadi bermental pamong, seperti lenguhan Iwan Pals dengan sosok Si Umar Bakrie. Indikator dari semangat untuk menjadi pegawai begeri, tampaknya telah menjadi penyakit mental turunan yang harus mulai dapat juga kita atasi, jalau saja tidak bisa sepenuhnya dibasmi.

Atas dasar itu juga perhatian yang serius pada pegawai negeri sipil (PNS) kita perlu mendapat pergatian khusus. Utamanya bukan hanya kesadaran untuk melakukan pengabdiannya sebagai pijajannya menunaikan tugas dan kewajibannya yang dibagar oleh duit rakyat, tetapi idealnya bisa lebih memiliki iniduatif yang kreatif serta inovatif. Jangan lagi membiasakan diri menghitung hari; kapan gajian. Oleh karena untuk mengubah sikap buruk serupa itu perlu reorientasi yang sepenuhnya patut dilakukan oleh pemerintah, karena otoritas ada di dalamnya.

Penataan ulang kebijajan serupa itu hendaknya pun dapat segera dilakukan untuk TNI Angkatan Laut kita yang layak dan patut menjadi unggulan diantara angkatan yang lain. Karena Angkatan Laut kita harus mampu mengartikulasikan makna dari pengakuan kita bahwa nenek moyang kita adalah pelaut. Dan negeri kita — nusa antara — memang harus selalu berjaya di laut. Toh, makna dari julukan bagi negeri kita adalah kepulauan, harus dipahami dalam pengertian yang lebih nyata. Seperti angkutan dan transportasi antar pulau — bahkan antar daerah melalui angkutan sungai — patut dan layak menjadi salah satu keunggulan serta keunikan dari bangsa dan negara kita.

Agaknya, atas dasar itu pula gagasan untuk memindahkan Ibukota Negara Indonesia ke Pulau Kalimantan menjadi relevan dengan menata Ibukota Negara yang dipadu dengan potensi angkutan sungai yang kelak bisa sangat aduhai mengesankan. Bila tidak, ya lebih baik yang dekat saja lokasinya, bagus di Lampung saja.

Semua wacana ini, tentu tidak terlepas dari bagian strategi perlawanan terhadap pasar bebas dan perang asimetris yang tak lagi bisa kita elak, tapi harus tetap dihadapi. Sebab perang asimetris sedang terjadi dan berlangsung di negeri kita, untuk merebut semua yang kita miliki. Termasuk kepribadian serta harga diri kita, tanpa kecuali. Maka itu kita harus dan mutlak menghadapinya secara total, tanpa ada kompromi.

Banten, 20 Juni 2019




Perlawanan Semesta Untuk Gerakan Penyelamatan Bangsa & Negara

Ilustrasi/net

Baranewsaceh.co – Relevansi dari beragam bentuk gerakan bela bangsa yang sudah dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat saat untuk dimulai secara total dan serempak. Lebih ideal lagi semua elemen yang mempunyai komitmen melakukan gerakan penyelamatan bangsa ini dapat bersatu, berhimpun mengusung tujuan yang sama, meski dengan cara yang berbeda.

Adakah Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu yang pernah mengungkapkan gagasan besar ini, karena memang harus dilakukan secara bersama-sama segenap eksponen bangsa, lintas suku, lintas agama dan lintas disiplin ilmu serta lintas profesi pekerjaan, sehingga gerakan penyelamatan dan bela negara dapat serempak dan kompok dilakukan di semua lini dan semua sektilor kehidupan.

Karena itu gerakan bela bangsa harus berskala basional dengan memulai gerakan dari tingkat lokal (daerah), sehingga semua anak bangsa harus dan dapat terlibat di dalam gerakan bela bangsa yang bersifat semesta ini.

Pada level nasional gerakan dapat dibarengi dengan upaya mencari dan merumuskan secara terus menetus formula terbaik dari teknid dan taktis hingga model dan cara yang paling strategis guna mekancarkan gerakan penyelanaran dan bela negara agar bisa kuat dan kokoh serta solid menggadapi segenap tarpaan yang tengah mengancang kehidupan berbangsa dan kehifupan bernegara kita.

Pancasila sebagai ideologi negara harus menjadi nafas setiap kehidupan seluruh warga bangsa tanpa kecuali, sehingga falsafah hidup setiap manusia Indonesia dapat ditilik dengan khas dijiwai oleh Pancasila. Oleh karena itu, UUD 1945 mutlak untuk dijadikan panduan — pakem — atau semcam rujukan utama yang tidah boleh diabaikan sedukit-pun.

Panggilan terhadap seluruh anak bangsa yang bersifat semesta ini agar dapat segera menyelamatkan bangsa dan negara Indonesia yang tengah dalam ancaman pencaplokan kekuatan global yang sudah melancarkan straregi perang adimetris dengan melumpuhkan segenap sendi kehidupan kita yang vital, mulai dari pasar modern sampai pasar tradisional. Mulai dari bidang jasa angkutan sektor penerbangnan, sarana trandpotasi serta perbankan sudah menjadi target pemilik modal dari bangsa asing. Juga perusahaan BUMN sebesar PT. Krakatau Steel pun sedang jadi incaran.

Untuk lahan perkebunan agaknya telah menjadi senacam pengetahuan umum banyak dimiliki oleh bangsa asing, bukan lagi milik pribumi. Padahal, bidang usaha pertambangan sudah sejak lama banyak yang telah nenjadi milik asing.

Yang justru sangat memprigatinkan adalah hampir semua kebutuhan hajat hidup orang banyak seperti yang sudah diwanti-wanti oleh UUD 1945, harus tetap dikuasai oleh negara, tatapi bisa berpindah tangan ke bangsa asing atau pada perusahaan asing.

Dalam bidang agama jelas umat sedang diadu domba, baik antara sesama umat beragama satu kepercayaan maupun sesama umat yang sama keoercayaannya. Karena itu kesadaran umat beragama harus dibangun, jangan sampai termakan oleh hasutan atau semacam upaya untuk dibenturjan antara yang satu dengan yang lain, baik sesana umat satu agama maupun dengan penganut agama yang lain. Idealnya kerukunan antara umat beragana di Indonesia dapat dijaga bersama dengan cara saling menghargai umat beragama yang satu denga umat agama yang lain.

Begitu juga dengan budaya tradisional kita yang cenderung ditinggal sama sekali karena dianggap tidak memiliki nilai-nilai yang baik dan nilai yang dapat dibanggakan. Padal tidak sedikit diantaranta yang memiliki nilai luhur dan bergengsi karena tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Hingga pada akhirnya pun tradisi budaya kita yang diwariskan para leluhur itu menjadi punah, persis seperti ragam macam makanan khas kita yang justru lebih terjamin sehatnya untuk dikonsumsi oleh semua orang.

Akibatnya sekarang, karya seni dan budaya kita yang khas seperti ragam macam menu makanan serta minuman yang dapat kita buat sendiri menjadi seperti tidak bergengsi. Jadi ada semacam stigma jelek dan buruk serta tidak bergengsi atau semacam rendah diri jika kita masih memakai atau mengkonsumsinya sampai hari ini. Bahkan lebih suka dikesankan puritan atau dianggap manusia ortodok.

Ragam macam menu makanan dan minuman tradisional kita khas dari berbagai daerah, seperti kredok, pepes ikan atau pepes tahu, potok, gudeg, lemang sampai kopi luak, bandrek, bajigur dan tek jahe mengapa tidak dilestarikan sehingga dapat ikut menyangga ketahanan serta pertahan pangan kita agar tidak tergantung pada impor. Karenanya, pemberdayan masyarakat petani dan nelayan kita harus mendapat dukungan penuh oleh pemerintah dan masyarakat untuk hanya mengkonsumsi produksi anak bangsa kita sendiri. Maka itu, petani jagung dan kedele hingga garam harus dihasilkan sendiri oleh petani dan nelsyan kita sendiri. Sebab hasil pertanian dan laut kita sangat potensial untuk dikelola dan dikembangkan produksinya –setidaknya –untuk menenuhi konsumsi di dalam negeri.

Inilah diantaranya kondisi obyektif dari apa yang sedang dihadapi bangsa Indonesia, yaitu sergapan dari perang asimetris yang terus menyerbu ke semua penjuru negeri kita dengan cara membanjirnya barang dan pangan impor termasuk manusianya juga menyerbu tanah air kita. Seperti nakoba dan wanita tuna susila dari yang berklas hingga yang murah meriah tatif jasanya semakin marak dan banyak masuk ke pelosok-pelosok daerah kita. Kondisi nyata ini mengharuskan semua eksponen bangsa ambil bagian untuk memberi perhatian guna melakukan perlawanan bersama terhadap tekanan serbuan perang asimetris yang menteror dan menggasak kita. Demikianlah rekevansinya gerakan bela negara perku kita kobarkan menjadi gerakan perlawanan yang berskals semesta.

Banten, 17 Juni 2019




Pertahanan & Ketahanan Bangsa Maupun Negara Kita Harus Berbasis Rakyat

ilustrasi/net

BARANEWSACEH.CO – Tidak bisa tidak, pertahanan dan ketahanan bangsa dan negara Indonesia dalam menghadapi perang asimetris sekarang harus dapat segera memperkuat basis politik, ekonomi dan budaya masyarakat yang tangguh dan kuat. Bila tidak, maka pada saatnya kelak tidak terlalu lama akan jatuh ke dalam dekapan naga raksasa yang sudah lama mau memangsa kita. Oleh karena itulah upaya untuk menata ulang sistem tata kelola bangsa dan negara kita agar dapat tumbuh dan berkembang secara sehat dan kuat, perlu segera dibenahi sekarang juga, sebelum terlambat.

Sistem tata kelola negara dan bangsa yang mengabaikan peranan dari masyarakat adat dan keraton bukan saja telah memperlemah ketahanan serta pertahanan budaya bangsa, tapi juga ikut memperlemah ketahanan serta pertahanan ekonomi dan politik bangsa dan negara Indonesia dalam arti luas hingga pertahanan dan ketahanan rakyat untuk ikut membangun bangsa dan negara tidak bisa maksimal diberikan.

Inilah dosa sejarah yang harus ditanggung generasi milineal sekarang yang ikut membiarkan kesalahan terus berlangsung sejak kemerdekaan diproklamirkan. Karena sejak itu praktis otoritas kekuasaan atas wilayah adat dan pemerintahan keraton diambil alih oleh sistem pemerintah republik Indonesia yang baru.

Karena itu, peran serta masyarakat adat dan keraton perlu ditata ulang, agar potensi serta segenap energi yang mereka miliki dapat dipadukan dengan sumber daya manusia yang lain guna ikut menata bangsa dan negara Indonesia agar dapat lebih baik dan lebih beradab serta terlepas dari dominasi serta pendektean bangsa asing.

Sistem rekrutmen kepemimpinan nasional kita memang tidak mengambil serbuk sari dari warga masyarakat adat yang mengakar dalam agama. Sehingga berakibat buruk pada etika dan moral untuk tetap setia menjaga komitmen dari sikap nasionalis kebangsaan yang sejati.

Nilai-nilai moral dan etika harus tegak diatas fondasi yang kokoh. Setidaknya Pancasila sebagai falsafah bangsa dan negara perlu tetap dijadikan pedoman, supaya standar moral dan etika dapat ditakar kualitasnya. Selain itu tentu saja UUD 1945 jangan cuma dijadikan penghias ruang kerja atau sekedar bumbu pemanis dalam setiap pidato saat kampanye waktu Pemilu.

Kerusakan secara sistemik yang dilakukan secara sadar maupun tidak oleh para rezim penguasa telah semakin memperparah cara melakukan seleksi untuk para calon penimpin di negeri kita. Sebab telah dinista oleh mereka yang bisa membelinya dengan harga berapapun. Itulah sebabnya banyak pengusaha yang bisa duduk di parlemen atau bahkan dalam pemerintahan.

Fenomena inilah yang dimaksud oleh sejumlah pemerhati dari perilaku para aparatur negara yang telah dinista oleh saudagar dan pengusaha bahkan para taipan yang cukup mengandalkan uangnya untuk memperoleh kedudukan. Biasanya memang jalan pintas serupa itu mereka tempuh melalui proses singkat pemagangan di pertai politik, untuk kemudian bisa langsung terjun bebas pada posisi mana yang diinginkan.

Dalam bahasa politik, begitulah faksun dari politik ekonomi, atau sebaliknya. Sebab dalam posisi jungkir balik pun tidaklah menjadi masalah dalam semangat jibaku model saudagar ini. Toh, dalam prakteknya yang janggal pun pada akhirnya bisa dianggap jamak dan lumrah, persis seperti birahi korupsi di negeri kita yang diumbar tanpa rasa risi dan tiada sisa rasa malu sedikitpun.

Oleh karena itu, ketika pengusaha menjadi penguasa, maka hukum pun tanpa rasa risi dipasang tarif secara terbuka dan transparan di atelase ruang kerja mereka. Perilaku korupsi terus berkembang menjadi tradisi para politisi. Dan sekarang sudah permanen jadi semacam budaya baru dalam masyarakat, karena tidak lagi terbatas dilakukan oleh para pejabat negara saja, tetapi menyuburkan tradisi suap dari para pengusaha.

Melalui budaya suap-suapan ini hukum di ruang pengadilan pun — entah apa saja jenis dan ragam macamnya — hakim yang dimuliakan itu sekarang juga sudah ada bandrolnya. Sama pula dengan para narapidana yang sedang menjalani pembinaan di Lembaga Pemasyarakatan, sudah menjadi pengetahuan masyarakat umum bila mereka akan dijadikan ATM bergilir. Jika tidak, maka semakin malanglah nasib si pesakitan itu menjalani masa pembinaannya di Lembaga Penasyarakatan. Karenanya, dapat segera dipaham, peredaran narkoba pun seperti mendapat lahan yang subur di habitat yang sama ini.

Begitulah rangkai perang asimetris sesungguhnya yang berlangsung sekarang. Hasil dari pra penelitian Atlantika Institut Nusantara bersama Komunitas Buruh Indonesia dan Jaringan Jurnalis Indonesia Bersatu kesimpulan sementara bahwa para aktor perang asimetris yang sesungguhnya, telah ikut memanfaatkan kebobrokan mental, moral dan etika aparat pemerintah yang bobrok dan lapuk, akibat pendidikan maupun tingkat kemiskinan yang akut dalam pengerian yang luas.

Dari penelisikan yang lain, dapat pula diketahui sejumlah bentuk perang asimetris yang dilancarkan pihak asing ikut mendorong kegandrungan dari rezim yang tengah berkuasa untuk mendukung pengkooptasian para tokoh adat dan agama, serta para sultan. Kesimpulan yang sama sempat menjadi trending topik dalam forum diskusi para pakar bersama seniman dan budayawan yang merasa amat sangat perihatin pada upaya membangun budaya bangsa yang sangat diharapkan untuk dapat menjadi unggulan serta kebanggaan sebagai identitas dan kepribadian bangsa Indonesia yang memiliki trah para leluhur yang luhur. Maka itu, potensi serta segenap energi masyarakat adat dan keraton harus ikut berperan dan ikut mengambil posisinya yang strategis sekarang juga dalam upaya membangun bangsa dan negara yang lebih unggul dan lebih beradab dengan kepribadian yang membanggakan.

Jakarta, 9 Juni 2019




Antara Benturan Peradaban & Perang Asimetris

Ilustrasi/MI

 

BARANEWSACEH.CO –  Ajakan secara tak langsung dari Amerika Serikat untuk bersatu melawan gerakan Komunis Cina RRC, setidaknya cukup memberi isyarat betapa gawatnya perang asimetris semakin menjadi ancaman bagi negara-negara di dunia, termasuk Indonesia yang menjadi prioritas mereka untuk mereks rebut dan merejs kuasai dengan berbagai cara dan bentuk yang dilancarkan. Dalam neraca perdagangan saja Indonesia telah mengalami defisit sampai USD 20 milyar (Rp 290 trilyun) dengan RRC. Pada tahun 2019, diperkirakan bisa mencapai USD 40 milyar.

Cara Cina untuk mengambil alih negara lain lewat kolonialisasi Pecinan (Cina Town) misalnya seperti dilakukan oleh para cukong dan Taipan yang ada bersama jutaan buruh, turis, dan rakyat Cina yang didatangkan secara khusus ke Indonesia. Itulah sebabnya sepak terjang Cina di Indonesia jadi semakin perlu diwaspadai oleh segenap warga bangsa Indonesia yang masih punya idealisme nasionalis sejati.

Strategi dengan cara membuat harga tanah menjadi mahal di tempat strategis bisa dipahami sebagai cara menyingkirkan kaum pribumi dari tanah leluhurnya. Begitu juga cara mereka memberi dukungan kepada rezim penguasa dan membangun budaya suap menyuap dengan semua elite penguasa serta biroktat hingga politisi kita yang tamak dan rakus menjadi semakin kuat sebagai model dalam perilaku orang Cina di Indonesia untuk menguasa semua bentuk usaha mulai dari tanah pekarangan sampai kebun dan jaringan usaha yang strategis dan besar pengaruh-nya pada para aparat pemerintah di pusat maupun di daerah. Peluang seperti ini pun semakin mulus dan langgeng karena mendapat sambutan positif dari kompraror-komprador serta mereka yang abai pada amanah rakyat.

Seruan Amerika Serikat yang mengingatkan agar Cina segera berhenti mengikis kedaulatan negara negara lain memang tak akan digubris. Karena hanya dengan membuat gerakan perlawanan, itulah yang efektif dan efisien dilskukan guna menghentikan penetrasi dan aneksasi mereka di negeri kita yang mereka idolakan dapat menjadi bagian dari kolonisasi mereka yang baru. Boleh jadi benar secara legal formal bisa saja tidak seperti itu adanya, tetapi dalam prakteknya sungguh-subgguh mencemaskan.

Pemerintah Amerika Serikat tampaknya seperti pihak yang paling merasa gerah oleh ulah bangsa Cina yang sangat agresif dan ambisi untuk menguasai banyak hal yang mereka butuhkan untuk memenuhi kebutuhan hidup warganya yang terus bertambah menuju angka 1,7 milyar orang. Maka itu bisa dipaham bils ada kebijakan dari negara Cina untuk mengurangi beban negera dengan kebijakan mengirim rakyatnya untuk berigrasi ke negara lain. Dan Indonesia menjadi tujuan terpaforit yang mereka pilih. Karena itu, dengan kebijakan yang ada maupun perlakuan yang begitu longgar oleh pemerintah Indonesia, sangat mungkin hanya dalam waktu singkat jumlah bangsa asing di Indonesia akan membludak. Terutama dari negeri Cina yang sudah lebih siap dengan konsep Obor (One Belt One Road) itu, termasuk strategi investasinya yang selalu mengikut- sertakan juga tenaga kerja asli dari negeri mereka.

Pemerintahan Cina yang terus mengusik serta mengancam kedaulatan negara-negara tetangga pun ditengarai pihak Amerika Serikat sebagai salah satu cara untuk mengalihkan perhatian untuk ikut melakukan inventasi juga dalam bentuk teknologi militer pada lima tahun ke depan guna menjaga agar Asia tetap stabil dan terjaga. Pernyataan ini seperti diungkap Pjs Menteri Pertahanan AS Patrick Shanahan pada forum Shangri-La Dialogue yang digelar di Singapura yang membahas isu keamanan bersama menteri pertahanan dan pejabat-pejabat tinggi militer dari seluruh dunia.

Menurut Menhan AS, Cina dapat dan harus memiliki hubungan kerja sama dengan seluruh wilayah, tetapi hendaknya perilaku yang terus mengikis kedaulatan dari negara-negara lain dan menabur ketidakpercayaan terhadap niat baik China harus dihentikan, kata Shanahan dalam forum tersebut (1 Juni 2019). Jadi intinya pihak Washington dan Beijing sekarang sedang berseteru hebat untuk bisa mendapatkan pengaruh di wilayah Asia yang memiliki potensi memanas seperti suasana di Laut Natuna Selatan, Semenanjung Korea dan Selat Taiwan. Kecuali itu, Washington pun mengecam keras militerisasi Beijing di Laut Natuna Selatan dan Cina masih terus menerus membangun instalasi-instalasi di sana. Beijing pun kerap dibuat marah oleh polah kapal perang AS yang melintas di Selat Taiwan, dan menganggap daerah tersebut sebagai bagian dari perairan internasional yang masuk dalam wilayah kekuasaan mereka.

Perang tanding Indonesia lawan Cina dalam bidang ekonomi jelas sudah membuat Indonesia keok. Bayangkan nilai impor dan ekspor yang tak imbang, membuat defisit neraca perdagangan tertinggi pada April 2019. Nilai defisitnya USD 2,5 miliar atau sekitar Rp 36,25 triliun (kurs Rp 14.500 per dolar AS). Angka ini membuat kinerja neraca perdagangan terburuk sejak Indonesia merdeka untuk kategori bulanan.
Defisit sebesar USD 2,5 miliar pada April 2019 ini, pada Juli 2013 sebesar USD 2,3 miliar defisitnya, ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto di Jakarta (Rabu (15 Mei 2019).
Tingginya defisit ini sejalan dengan naiknya angka impor (migas dan non-migas) pada April 2019 sudah mencapai USD 15,10 miliar, sementara ekspor sebesar USD 12,60 miliar. Dari data itu, BPS mencatat angka ekspor anjlok 10,80 persen (month-to-month/mtm), sebaliknya impor melambung 12,25 persen.

BPS juga mencatat jika Cina sebagai negara asal produk impor tertinggi yang masuk ke Indonesia. Total impor (non-migas) asal Cina mencapai USD 3,954 miliar atau setara Rp 57,333 triliun pada April 2019. Porsi produk impor non-migas asal China mencapai 29,47 persen dari total impor Indonesia selama 4 bulan pertama di 2019. Ekspor Indonesia ke Cina sebesar USD 2,063 miliar pada April. Artinya, ada defisit neraca perdagangan Indonesia-China sebesar USD 1,891 miliar atau setara Rp 27,419 triliun pada April 2019.

Jadi jelas, antara benturan peradaban dan perang asimetris yang ditandai oleh aktor utananya Cina dab Amerika, maka Indonesia sendiri bisa menjadi pemain figuran yang tidak menentukan sama sekali warna skenario besar dari tontonan nyata dalam tata kehidupan kelak di masa depan.

Pertanyaan yang sangat relevan dari thesis Samuel P. Hatington adalah dimana posisi dari peradaban Islam yang dia paparkan cukup lugas, sebagai salah satu dari tiga peradaban besar yang layak dan patut untuk diperhitungkan benturan dan gesekan serta pengaruhnya bagi seluruh manusia yang ada di bumi.

Jakarta, 7 Juni 2019




Perang Total Model Era Milenial

(Bagian ketiga)

Atas dasar rasa dan logika serta aksl sehat serupa itu maka sistem tata kelola negara dan bangsa Indonesia yang masih tetap mengabaikan peranan masyarakat adat dan keraton, patut diperbaiki, karena tidak saja telah memperlemah ketahanan serta pertahanan budaya bangsa, tapi juga ikut membuat ketahanan serta pertahanan ekonomi dan politik bangsa dan negara Indonesia dalam arti luas untuk ikut serta membangun jsdi terbonsay seperti tanaman penghias taman.

Dosa sejarah yang harus ditanggung oleh generasi milineal sekarang adalah karena telah membiarkan kondisi yang makin mremburuk terus terjadi hari ini akibat kelalaian generasi masa lalu yang terus berkelanjutan sampai sekarang. Akibatnya, anak-anak bangsa ysng ada seperti tidak hidup di negerinya sendiri

Kondisi yang memprihatinkan ini terus berlanjut tanpa pernah ada yang mau serius menghentikan. Karenanya potensi besar yang kita miliki dari masyarakat adat dan keraton yang selama ini tidak difungsikan sejak masa awal kemerdekaan Indonesia, patut dan layak diberi peranan agar dapat memberi manfaat sesuai dengan potensi dan kemampuan serta bobot dari kapasitasnya yang telah teruji oleh sejarah.

Memang beban psikolohis yang terkesan dari keberadaan masyarakat adat dan keraton selama ini terlanjur distigma negatif dan kolot bahkan feodal, toh simbol sejarah kebesarannya justru dijadikan semacam ikon oleh sejumlah perguruan tinggi kita yang memiliki kualitas akademik yang cukup dapat dipercaya bobot intelektualitasnya. Mulai dari Gajah Mada University (di Ngayigyakarta Hadiningrat), Pajajaran ( Bandung), Udayana (Bali) dan Universitas Diponegoro (Semarang) hingga Sriwijaya (Palembang) dan Hasanuddin dan Tuddulako (Makassar) atau Empu Tantular (di Jakarta), cukuplah meyakinkan bila sejarah masa silam negeri kita sesungguhnya memiliki banyak keunggulan yang tak cuma sebatas fisik, tapi juga berupa metafisik yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di dunia. Masa jaya dalam bidang politik kekuasaan misalnya sudah dibuktikan oleh sejarah bersama masa kejayaan rempah-rempah yang melimpah.

Agaknya terlalu naib bila cakrawala pandang intelektual kita tidak mampu melihat kebesaran sejarah masa silam yang telah dicatat oleh sejarah. Masa puncak dari keunggulan para leluhur kita pun bukan mitos bila pernah menjadi penguasa laut ysng termasyhur ketangguhan dan keunggulannya ysng disertai oleh kemampuannya dalam teknologi kapal layar yang khas dengan tradisinya yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain di muka bumi ini. Terutama dalam strategi berperang, menata sistem pemerintahan hingga negeri leluhur kita berjuluk toto tentrem loh jinawi. Begitu pun sosok keperkasaannya di laut dengan perahu layar kayu yang Phinisi telah memukau kekaguman dunia sampai gari ini.

Lalu masalahnya, mengapa semua itu cenderung dilupakan, hingga keterpurukan semakin menjadi-jadi karena ikut hanyut dalam arus budaya asing yang memang tak memiliki akar budaya dan tradisi agratis dan maritim. Ironisnya, Angkatan Laut kita pun setelah semua negeri bergabung dalam Negara Kesatuan Relublik Indonesia laut kita pun jadi berada dibawah kekuasaan pelaut asing. Lalu masih adakah simbolika dari sejarah masa lalu para lekuhur kita itu masih meninggalkan trauma budaya yang tidak lagi meniliki nilainya yang positif ?

Banten, 12 Juni 2019




Catatan Untuk Dewan Kesenian Lampung Harus Lebih Kreatif & Inovatif

BARANEWSACEH.CO – Jika ada seloroh Dewan Kesenian Lampung harus kreatif, memang kenotasinya DKL tidak kreatif, karenanya perlu didorong atau didukung agar bisa lebih kreatif dari apa yang bisa dibuatnya sampai sekarang ini.

Pagelaran kesenian oleh DKL dalam bentuk Panggung Sastra Lampung 2019 pada 15 Juni 2019 idealnys bisa diukur dari tingkat keterlibatan rakyat bukan cuma dilakukan oleh kalangan seniman, budayawan atau sastrawan belaka. Karena pagelaran kesenian dalam bentuk apapun dapat dikatakan berhasil ketika mampu menyerap keterlibatan warga masyarakat sekitarnya. Bahkan lebih ideal lagi dapat ikut menggaet warga masyarakat dari daerah lain untuk ambil bagian.

Pagelaran kesenian apapun bentuknya harus mecerminkan sikap budaya masyarakat setempat. Parade sastra misalnya bisa saja ditimpali oleh seni rodat dari daerah Lampung Timur yang unik dan menarik itu. Kecuaki seni rodat itu sedang terancam punah, nilau sastra bertuturnya pun sungguh indah dan memiliki muatan filsafat yang tinggi nilainya.

Peluncuran buku Negeri Para Penyair seperti yang diakui
Z Karzi dari Komite Sastra DKL yaitu Antologi Puisi Mutakhir Lampung dan Negeri yang Terapung. Ada juga katanta Antologi Cerpen Lampung.

Masalahnya kreteria Lampung yang selalu disertakan dalam beragam even itu jangan cuma kessingnya doang yang dipamerkan. Karena yang lebih penting adalah ruh dan nilai filosifisnya yang mampu menggetarkan kekaguman banyak orang.

Atad dasar kedua buku terbitan DKL, 2018 yang sudah memuat 47 karya penyair dan 17 karya penulis cerita pendek ini sudah saatnya untuk dibuatkan semacam pagelaran keliling, sehingga tidak hanya merasa besar kepala di kampung sendiri.

Pada saatnya pun DKL patut mengundang semua putra daerah yang ada di rantau untuk ambil bagian dalam even pesta seni dan budaya masyarakat Lampung.

Acara baca puisi dan diskusi sastra bukan tak baik, tetapi masih sangat model dan bentuk acara yang bisa nendongkrak even seni atau sastra bahkan budaya agar tidak membisankan atau masih terkesan tidak merakyat. Karena seni dan budaya itu adalah tanda ruh rakyat yang hudup, tak cums sekedar tidak mati.

Saya tidak tahu apa peranannya Minak Isbedi dan Om Naim Emel Prahana serta seniman, sastrawan serta budayawan serta tokoh adat Lampung dari senua kebuaian sering diminta saran dan pemikirannya ?

Apakah sungguh peran serta serta sumbangan pemikiran mereka sudah diadop guna mencari bentuk dan upaya pengembangan kesenian dan kebudayaan di Lampung agar bisa menjadi bagian perhatian serta daya tarik masyarakat dunia.

Harapan dari Ketua Harian DKL Heri Sulianto agar Panggung Sastra Lampung ini bisa menjadi oase di tengah panasnya suhu perpolitikan, agaknya tidaklah pas, sebab suhu Pemilu mungkin sudah mereda karena jarak waktunya relatif jauh dari pengumuman final pemenang dilakukan. Atau mungkin justru sebaliknya, semua sudah terlanjur jadi arang.

Seni sastra itu memang lembut dan bisa melunakkan hati. Tapi juga bisa membakar suasana atau semangat juang. Meski pada akhirnya kalah, toh sejarah tidak boleh pernah mencatat kita pernah menyerah. Itu kata Tjut Nya’ Dhien kepada para pasukannya dan pengawalnya ketika sesaat hendak ditangkap Belanda.

Idealnya benar semangat dan gairah perlawanan budaya serupa itulah yang layak tumbuh dan berkembang pada seniman, sastrawan dan budayawan Lampung pada hari ini.

Sebagai salah satu putra daerah yang sudah lama dirantau, wajar bila rasa kangen terus merebak liar ingin menyaksikan sekali tempo kampung kita bisa menjadi tajuk bincang yang menarik, unik dan mengagumkan bagi banyak orang. Tidak hanya untuk diriku sendirim

Oke ya, salam untuk semua.*

Banten, 20 Mei 2019




Ibukota Negara Memang Ideal Pindah Ke Lampung Timur

BARANEWSACEH.CO – Gagasan memindahkan Ibukota Negara Indonesia (INI) dari Jakarta ke Lampung Timur sudah diwacanakan sejak tiga tahun silam (2016), bebera tahun kemudian Zulkifli Hasan pun tampil dengan gagasan yang sama. Ya, sejujurnya saya senang, karena kapasitas Zulkifli Hasan dikenal banyak orang bukan hanya sebagai mantan Menteri Kehutanan. Jadi pasti lahan hutan di Kampung halamannya itu pun dia paham setiap jengkalnya.

Apalagi kemudian
Kapolda Lampung mau ikutan membuat Petisi Lampung Jadi Ibukota RI ( RMOLLampung, Selasa 4 Juni 2019) bergerilya mengumpulkan petisi dukungan untuk segera memindahkan Ibukota Negara RI ke Kawasan Timur Lampung. Begitu juga Jendral Ryamizard Ryacudu juga menyatakan serius ingin ikut melalakukan kajian untuk lebih meyakinkan Lampung menjadi Ibukota Negara kita. Berikutnya adalah Gubernur Lampung juga serius dan siap memdukung pula.

Andi Desfiandi selaku inidiator perlu memikirkan langkah lanjutan yang perlu dilakukan, misalnya membuat seminar besar di Jakarta guna memapar potensi dan keunggulan dari daerah Lampung Timur kepada khalayak ramai misalnya, agar lokasi kepindahan dari Ibukota Negara Indonesia bisa segera disetujui dan memperoleh dukungan dari bsnysk pihak. Kalau cuma diskusi sesama tokoh di Lampung itu, apa bedanya dengan ngerumpi yang tidak memberi pemaham pada pihak lain yang juga merasa berkepentingan untuk mendukung atau menolak rencana memindahkan Ibukota Negara di Way Jepara, atau Sribawono wilaya Lampung Timur itu.

Paparan seilmiah dan serelistis seperti apapun tidak akan punya pengaruh apa-apa jika cuma terbatas dibicarakan oleh kalangan sendiri dan untuk kalangan sendiri. Sebab pihak lain yang tidak setuju atau mempunyai gagasan maupun pertimbangan berbeda pun juga punya argumen ilmiah, realistik dan mungkin tak pula idealistik dan unik

Dasar pemikiran saya sejak tiga tahun silam sfar Ibukota Republik Indonesia dipindah ke Lampung Timur — setidaknya setelah dipublish secara meluad ke media massa — diantaranya ialah secara geografis dan geopolitis Jakarta masih relatif dekat dari Lampung. Hingga kepindahan secara fisik dapat dirasakan lebih ringan biayanya. Kecuali itu, jika masih diperlukan dari tempat asal pindah, bisalah diatasi dengan cepat dan murah karena jarak dari Jakarta ke Lampung bisa dirempuh dengan murah biayanya. Ada kapsl laut dan penerbangan yang bisa pajai Jet Voil dan pesawat berukuran kecil.

Selain itu lahan di Lampung masih cukup luas dan relatif murah harganya, termasuk jiks kelak hendak diolah menjadi kompleks perjantiran arau perumahan. Dan rentang jarak Jakarta-Lampung bisa dijadikan uji coba untuk kepindahan Ibukota Negara Indonesia berikutnya bila memang diinginkan atas dasar hitungan pertimbangan yang lebih menguntungkan. Misalnya perlu dipindah lagi atas dasar untuk pengembangan pembangun di daerah lain agar bisa adil dan merara kemajuan dari daerah yang dijadikan tempat Ibukota Negara itu kelak.

Yang tidak kalah penting adalah, rencana memindahkan Ibukota Negara Indonesia ke Lampung Timur bisa ikut mendorong rencana pembangunan prestisius dari jembatan Selat Sunda yang soejtakuker itu. Apalagi desain rancangannya dapat dipadu dengan arsitektur yang indah serta multi guna misalnya dengan jalur ganda bersusun (doubel) berikut rest area di tengah laut yang dirancang khusus berikut fungsinya jadi tempat rekreasi dan peristirahatan yang menawan.

Kajian dari para tokoh masyarakat Lampung yang sempat dirilis secara meluas pada awal Juni 2019 itu, sungguh tidak kalah menarik nilai urgensinya agar bisa pula diperhatikan. Mukai sudut hankam hingga ekonomi dan politik dari pemindahan Ibukota Negara Indonesia ke Lampung dapat dijadikan acuan keputusan yang strategis dari pemerintah, dibanding harus menerapkannya di daerah lain, karena terlalu banyak dan beratnya kendala yang harus ditanggung dan diatasi bila tempat pindah Ibukota Negara Indonesia dan pusat pemerintahan yang terlalu jauh dari jaraknya dari Jakarta.

Kepindahan Ibukota Negara dan pusat penerintahan ini dari Jakarta pun sudah semakin mendesak. Jika pun Jakarta terap diidolakan menjadi pusat bisnis serta pusat perdagangan, agaknya beragam masalah yang ada di Jakarta, seperti kepadatan penduduk serta kemacetan di jalan raya hingga masalah banjir pasti dapat berkurang bebannya yang berat itu. Dan ambisi menimbun Teluk Jakarta pun jadi semakin tidak layak untuk tetap diteruskan.

Banten, 10 Juni 2019




Pentingnya Media Massa Bagi Kita

BARANEWSACEH.CO – Betapa penting dan perlu adanya media massa itu bagi instansi atau lembaga yang memiliki basis massa, diantaranya adalah untuk menggalang kekuatan untuk organisasi yang dapat mengandalkan kekuatan nassa, baik dalam bentuk sebagai kekuatan penekan maupun untuk menghimpun atau membangun kekuatan pinansial yang dapat dikelola semacam tata kelola koperasi atau penopang dana organisasi dengan iuran dari anggota yang ada.

Apalagi pada waktu belakangan ini ada semacam perubahan besar-besaran dari kebijakan tata kelola media massa pada umumnya, utama yang terbilang maenstrem dalam istilah kaum milineal sekarang tampak bergesar dari pergatiannya yang semula untuk rakyat, tetapi sekarang diorientasikan pada para oemilik uang. Setidaknya pembaca maupun pemursa sekarang tidak kagi bisa dijadikan sumber yang lagi bisa dikeruk dananya, lantaran bagian besar dari mereka sekarang dapat kebih bermanja-ria dengan nedia sosial yang murah meriah tarifnya. Disamping itu keperluan serta kepentingan yang bersifat mendesak pun bisa diperoleh dengan relatif cepat dan juga lumayan memuaskan dari media online yang ada.

Kondusi dan situasi dari jeberadaan nedis meanstrem ini pun merupakan peluang sekaligus tantangan bagi apa saja yang ada sekarang. Jadi memang bisa segera dipaham mengapa sekarang media maenstrem jadi seperti berbalik arah, tidak lagi perduli dengan suara rakyat, tapi lebih terkesan patuh pada perintah majikan atau mereka yang punya uang.

Media massa bagi instansi maupun lembaga yang berbasis massa sangat ideal dapat memiliki oleh organisasi sejenis. Baik untuk lembaga maupun instansi yang mandiri sifatnya atau pun yang mempunyai apiliasi kepada pemerintah. Sebab melalui media massa yang dimiliki itu dapat digunakan untuk menjadi sarana publikasi, komunikasi dan konsolidasi serta pengembangan dan penguatan keanggotaan yang ada di bawahnya. Hanya saja sistem pengelolaan dari tata kelola selera kebijakan redaksinya tidak boleh terlalu bersifat dogmatik dan instruksional. Karenanya perlu dipahami perlu dab pentingnya anggota menjadi pembaca setianya adalah pada hal-hal yang bersifat informatif, komunikatif dan publikatif yang sepenuhnya juga menampung usulan, pendapat serta aspirasi hingga selera para anggota yang menjadi sasaran sigmen pembaca utama media kita.

Karena itu untuk meramu suguhan dari rubrikasi harus diracik dengan lebih menyesuaikan dengan suka cita dan selera pembaca setia utama kita, yaitu anggota.

Adapun sigmen pembaxa dari bilik lain dapat dioahami sebagai penunjang semata seperti simpatisan saja, bukan kondumen utama.

Oleh karena itu untuk mengelola media massa yang sudah mempunyai spesifikasi khusus ini jadi termasuk gampag-gampang susah, istilah anak gaulnya. Bisa dikata gampang karena secara umum sudah bisa diidentifikasi sasaran pembaca yang akan disasar oleh media kita. Adapun sulitnya adalah, lapangan bermain redaksi hanya sebatas itu saja sigmennya. Kalau pun bisa dikembangkan tentu tidak bisa terlalu jauh seperti yang nampu dan bisa dijangkau oleh media yang bersifat umum.

Jadi jelas untuk media yang akan memenuhi segenap aspek dari keperluan instansi atau lembaga yang spedifik miliki kita ini pun harus mempunyai ciri yang khas dan spesifik juga penampilan redaksionalnya. Karena dengan begitu dia pun akan menjadi daya tarik tersendiri bagi mereka yang berada pada bilik lain.

Karena itu untuk memiliki sajian yang khas dari media instansi atau lembaga miliki kita ini seyogyanya dirumuskan atas dasar kajian dari kebutuhan untuk instansi atau lembaga yang akan melakukan missi dan vusinya. Sajian pokok dari media kita perlu memberi porsi khusus untuk keperluan utama organisasi atau lembaga maupun instansi yang bersangkutan. Sebab dengan begitu keperluan dan kebutuhan para anggota bisa dipenuhi selera dan duka citanya untuk infornasi, komunikasi dan publikasi yang diperlukan sesuai dengan keterikatan dari diri mereka pada lembaga atau instansi yang mengikatnya.

Pada akhirnya, semua bentuk dan ragam sajian dari media kita dalam berbagai bentuk racikan dan menu sesungguhnya untuk menjawab dan memenuhi kehendak serta selera pembaca utama kita, yaitu para anggota yang ada. Kalau pun harus ada muatan isi yang hendak ditanamkan atau selera yang patut diluruskan lewat media kita untuk pembaca, selayaknya tidak dilakukan dengan cara yang terjesan memaksa. Semua perlu dilakukan secara persuasif atau alon-alon waton kelakon kata Sumarno ahli media komunikasi dari Gunung Kidul.

Lembaga atau instansi maupun organisasi kemasyarakatan perlu memiliki media massa sendiri tidak hanya untuk memoerlancar hubungan komunikasi, publikasi dan informasi semata, tetapi juga untuk membangun jaringan, memperluas jangkauan serta wilayah jelajah dari upaya pengembangan organisasi sambil membangun basis data yang erat kaitannya dengan kiprah dan aktivitas organisasi atau instansi kita untuk mencapai tujuan yang menjadi cita-cita bersama.

Kecuali itu, keberadaan dari media bagi suatu organusasi atau lembaga maupun instansi miliki pemerintah atau pun mikik swasta serta orang per orang dapat dijadikan seperti barometer pengukur atau penakar dari kemajuan atau kemunduran organisasi atau instansi yang bersangkutan. Bahkan media kita dapat menjadi alat kontrol sekaligus yang efektip serta ampuh untuk nenjaga mekanisne organisasi atau lembaga agar bisa berjslan baik dan sehat. Dalam konteks inilah pemilahan antara manajemen redaksi dengan manajemen perusahaan jadi makin relevan untuk membuat cara kerja yang sehat mengarah pada sistem kerja yang lebih profesional sifatnya. *

Banten, 14 Januari 2017




Media Massa Itu Penting & Perlu

BARANEWSACEH.CO – Kemampuan mengelola media massa itu itu penting dan perlu bagi instansi atau lembaga yang mau dan ingin mengandalkan kekuatan berbasis massa. Karena untuk membangun dan membina kekuatan yang juga berbasis massa harus mempunyai media massa.

Adapun bentuk media massa bisa dibuat yang paling sederhana misalnya tabloid mingguan, majalah bulanan atau journal yang diterbitkan secara berkala tiga bulanan dan seterusnya. Yang penting fungsi dan peranan media bagi suatu lembaga atau instansi yang giat melakukan aktivitas berorientasi massa selayaknya memilki media.

Masalah untuk memiliki media massa itu sendiri memang tidak gampang. Sebab ada dua bentuk manajemen yang patut dimiliki secara terpisah namun tetap dalam koordinasi kerjasama yang kompak. Pertama adalah manajemen redaksi yang khusus bekerja untuk redaksional sedangkan yang lain adalah manajemen dari perusahaan untuk mengelola bidang usaha, dustribusi dan pemasaran. Manajemen perusahaan ini tidaklah perlu dibuat rumit. Bisa juga dibuat dalam bentuk yang paling sederhana, yang penting tata kelolanya tidak dibuat seperti es campur dalam satu mangkok. Sebab dalam manajemen redaksi dan pada manajemen perusahaan itu sangat berbeda cara maupun model pengelolaannya.

Yang susah untuk media membuat media dengan dana yang umumnya terbatas, seperti umumnya media yang terkesan hidup segan tapi untuk mati pun tidak mau. Untuk media sekaliber ini biasanya kedua manajemen tadi dirangkap seperti pizza atau tahu isi sekalian dengan cabe. Tentu saja gaya kerja profesi menjadi semakin jauh dan kabur untuk dikerjakan dengan baik dan benar. Apalagi kemudian sistem dan pengelolaan dikerjakan seperti manajemen supir mikrolet. Mulai dari mengemudi sampai mebarik ongkos dilakukan sendiri oleh satu tangan, maka kesulitan akan semakin kompleks dan sukar diatasi.

Singkat cerita, untuk membuat media massa sendiri perlu ditentukan lebih dahulu bentuk atau jenis kelamin dari penerbitan yang hendak kita baut. Diantaranya ya tinggal dipilih, mau yang harian, mingguan atau bulanan apa yang triwulan. Tinggal sesuaikan saja dengan keinginan dan kemampuan. Karena untuk model dan bentuk media massa sekarangkan pun banyak pilihan dan relatif gampang serta juga biayanya relatif murah. Misalnya media online, radio atau televisi. Tapi atas permintaan dari panitia pelaksana pelatihan jurnalis terpajai yang duselenggarakan Komunutas Buruh Indonesia, saya memang diminta untuk mengarah pada teknis menulis dan ragam aspek dari media cetak saja.

Jadi untuk dapat memiliki media massa cetak sendiri saya hanya bisa memberi anjuran untuk segera dapat mempersiapkan dua bentuk manajemen pengelola tadi, yaitu manajemen redaksi dan manajemen perusahaan. Masing-masing manajemen harus dipersiapkan secara matang. Dimana keduanya patut bersinergi antara yang satu dengan yang lain untuk menuju satu arah membesarkan media secara bersama.

Oleh karena itu pelatihan dan pendidikan jurnalis yang siap pakai harus segera dikakukan. Mulai dari teknik menulis berita, laporan, kisah atau feutures hingga artikel atau opini. Jenis tajuk atau editorial tentu sepenuhnya menjadi milik pemimpin redaksi. Artinya jenis tulisan yang disebut terakhir ini jelas ada kreteria dan otoritas wilayah kekuasaan sendiri. Jadi tak mungkin dibicarakan juga pada kesempatan ini. *

Banten, 16 Janyari 2017




Kesadaran Informasi Generasi Milineal

Ukuran kesadaran — atau bahkan takarannya semua pihak pads era milineal sekarang adalah bagaimana memanfaatkan kecanggihan dari teknologi serta kecepatan serta efektifnya jaringan informasi. Mulai dari bangun tidur saja semua orang dapat dilayani atau dimanjakan oleh kecanggihan teknologi modern. Masalahnya cuma bagaimana ingin memanfaatkannya, tetapi tidak sampai memperbudak atau menggerus budaya dan etiks serta morslitas yang sudah bagus dan patut terus menerus dijaga dan selalu bisa disempurnakan hingga dapat menjadi pegangan hidup serta contoh yang baik bagi orang lain.

Ukuran serta takaran kesadaran dari masyarakat milineal sekarang ini dapat ditilik dari kasadaran dan kemampuan yang bersangkutan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta sarana informsi yang ada terutama media sosial dan internet.

Demikian juga untuk instansi atau lembaga pemerintah maupun swasta, akan terkesan amat sangat kampungan bila tidak ada media sosial atau jaringan internet yang bisa menjadi jembatan atau jaringan yang bisa menghubungkan komunikasi dari dalam msupum dari luar. Luas dan kuat serts canggih atau yidaknya dari frekuensi jaringan yang tersedis itu pun akan sangat menentukan dari kegunaan hingga gengsi dari nilai tambahnya bagi instansi yang bersangkutan.

Oleh karena itu agak naib dan lucu bila ada instansi, lembaga atau bahkan organisasi sosial yang tidak mempunyai medis sosial atau tidak menyediakan jaringan internet. Sebab mulai dari Ibu Ruman Tangga saja untuk melakukan pekerjaan rutinnya di dapur bisa lebih dipermudah dengan memakai sarana informasi, komunikasi yang untuk memesan keperluan yang hendak dimasak dalam waktu yang relatif singkat. Atau, misalnya ingin memesan makanan yang instan sifatnya.

Jacob Ereste :